Ulasan Novel Animal Farm, Ketika Kesetaraan Hanya Menjadi Ilusi

Hayuning Ratri Hapsari | aisyah khurin
Ulasan Novel Animal Farm, Ketika Kesetaraan Hanya Menjadi Ilusi
Novel Animal Farm (goodreads.com)

Novel "Animal Farm" (Peternakan Hewan) karya George Orwell bukan sekadar dongeng anak-anak tentang hewan yang bisa berbicara. Diterbitkan pertama kali pada tahun 1945, novel alegoris ini merupakan salah satu sindiran politik paling tajam dan berpengaruh dalam sejarah sastra dunia.

Melalui fabel yang tampak sederhana, Orwell membedah bagaimana sebuah revolusi yang didasari niat mulia untuk kesetaraan bisa berubah menjadi tirani yang jauh lebih kejam daripada rezim sebelumnya.

Secara harfiah, Animal Farm bercerita tentang sekelompok hewan di Peternakan Manor yang melakukan pemberontakan melawan pemilik mereka, Pak Jones, yang mabuk dan kasar.

Namun, secara simbolis, novel ini adalah alegori dari Revolusi Rusia tahun 1917 dan kemunculan era Stalinisme. Orwell menggunakan hewan-hewan ini untuk merepresentasikan tokoh-tokoh sejarah dan kelas sosial tertentu, menjadikan buku ini sebuah studi kasus tentang korupsi kekuasaan dan manipulasi bahasa.

Cerita dimulai dengan visi Si Tua Major, seekor babi bijak yang memimpikan dunia di mana hewan hidup bebas tanpa eksploitasi manusia.

Setelah kematiannya, babi-babi lain terutama Snowball dan Napoleon memimpin revolusi dan berhasil mengusir Pak Jones. Mereka mengubah nama peternakan menjadi Animal Farm dan menetapkan Tujuh Perintah sebagai fondasi ideologi "Animalisme", dengan prinsip utama, bahwa "Semua hewan adalah setara."

Namun, euforia kebebasan itu tidak bertahan lama. Persaingan kekuasaan muncul antara Snowball yang idealis dan cerdas dengan Napoleon yang haus kekuasaan dan licik.

Napoleon akhirnya mengusir Snowball dengan bantuan anjing-anjing penjaga yang galak dan perlahan-lahan mengambil alih kendali penuh. Sedikit demi sedikit, prinsip-prinsip revolusi dikhianati, perintah-perintah diubah secara diam-diam, dan babi-babi mulai berperilaku persis seperti manusia yang dulu mereka benci.

Setiap babi memiliki karakternya masing-masing. Napoleon melambangkan Joseph Stalin. Ia bukan orator yang baik, tetapi ia ahli dalam intrik di balik layar dan menggunakan kekerasan untuk mempertahankan kekuasaan.

Snowball melambangkan Leon Trotsky. Ia adalah pemikir dan orator hebat yang tulus menginginkan kemajuan peternakan, namun ia kalah telak oleh kekuatan militer Napoleon.

Ada juga seekor kuda bernama Boxer, ia melambangkan kelas pekerja atau proletariat. Boxer adalah karakter yang paling tragis, ia bekerja paling keras dengan moto "Aku akan bekerja lebih keras" dan "Napoleon selalu benar", namun pada akhirnya ia dikhianati oleh sistem yang ia dukung.

Squealer (Babi) melambangkan mesin propaganda. Ia bertugas memutarbalikkan fakta dan meyakinkan hewan lain bahwa babi selalu bertindak demi kebaikan mereka, meskipun kenyataannya sebaliknya.

Dan Benjamin (Keledai), melambangkan kaum intelektual yang sinis. Ia sadar akan apa yang terjadi namun memilih untuk tidak bertindak, percaya bahwa hidup akan selalu buruk siapa pun pemimpinnya.

Tema sentral novel ini adalah diktum Lord Acton, "Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Orwell menunjukkan bahwa tanpa adanya checks and balances (pengawasan), bahkan pemimpin yang awalnya memiliki niat baik akan tergiur oleh hak istimewa. Babi-babi, yang paling cerdas, mulai merasa bahwa kontribusi mental mereka lebih berharga daripada kontribusi fisik hewan lain, yang menjadi pembenaran untuk ketimpangan kelas yang baru.

"Semua hewan adalah setara, tetapi beberapa hewan lebih setara daripada yang lain."
Ini adalah puncak dari kemunafikan politik, di mana bahasa digunakan untuk menutupi ketidakadilan di bawah selubung keadilan.

Gaya penulisan Orwell dalam Animal Farm sangat jernih, sederhana, dan tanpa hiasan yang tidak perlu. Penggunaan format fabel membuatnya bisa diakses oleh siapa saja, namun kedalaman pesannya bisa membuat pembaca dewasa merasa terguncang. Ia tidak perlu menggunakan istilah politik yang rumit untuk menjelaskan konsep kediktatoran, ia cukup menunjukkannya melalui jatah makanan yang dikurangi dan pembangunan kincir angin yang sia-sia.

Meskipun ditulis untuk mengkritik Uni Soviet, Animal Farm tetap relevan hingga hari ini. Kita masih melihat fenomena di mana politisi menggunakan janji-janji perubahan untuk mendapatkan kekuasaan, hanya untuk kemudian menindas rakyatnya. Isu tentang "berita bohong" dan revisi sejarah yang dilakukan oleh pemegang kekuasaan adalah refleksi nyata dari peran Squealer dalam novel ini.

Buku ini menjadi peringatan bagi setiap warga negara untuk tetap kritis dan tidak menjadi "domba" yang hanya bisa mengembikkan slogan-slogan yang disuapkan oleh pemerintah tanpa memahami maknanya.

"Animal Farm" adalah sebuah mahakarya yang tragis dan menghantui. Bagian akhir novel ini, di mana hewan-hewan melihat dari babi ke manusia, dan dari manusia ke babi, lalu menyadari bahwa mereka tidak bisa lagi membedakan keduanya, adalah salah satu penutup paling kuat dalam sastra.

Novel ini bukan sekadar serangan terhadap komunisme, melainkan serangan terhadap segala bentuk totalitarianisme dan sifat rakus manusia akan kekuasaan.

Orwell mengingatkan kita bahwa revolusi sejati bukan hanya tentang mengganti siapa yang memegang cambuk, tetapi tentang membuang cambuk itu selamanya.

Jika kita gagal belajar dari Animal Farm, kita mungkin akan menemukan diri kita bekerja keras di bawah penguasa baru yang mengenakan topeng kebebasan.

Identitas Buku

Judul: Animal Farm

Penulis: George Orwell

Penerbit: Kindle Edition

Tanggal Terbit: 22 Januari 2024

Tebal: 97 Halaman

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak