Ulasan
Habis 5 Jam di Cafe Catarina: Tempat Reuni yang Bikin Lupa Waktu Sekaligus Ramah Kantong!
Wah, tidak terasa sudah enam tahun lamanya saya tidak berjumpa dengan teman-teman masa SMA di Batam. Untungnya, saya masih menyimpan beberapa kontak mereka. Jadi, begitu saya sedang berada di Batam, agenda mengobrol dan janjian ketemuan menjadi jauh lebih mudah.
Mengingat momen ini, saya mendadak teringat ucapan salah seorang teman pada Januari 2020 lalu, tepat saat rumor ujian nasional (UN) ditiadakan mulai berembus.
Waktu itu dia bilang, "Iya, gara-gara Covid kita libur seminggu, kayaknya nanti kita bakal libur lagi." Siapa sangka, setelah seminggu libur itu, sekolah kami justru beralih sepenuhnya menjadi online sampai hari kelulusan tiba. Benar-benar cenayang teman saya yang satu itu!
Jujur, kalau berbicara soal reuni, saya pernah beberapa kali merencanakannya bersama teman SMP atau SD, tetapi sering kali berakhir wacana semata. Selalu saja ada alasannya.
Bahkan untuk pertemuan kali ini pun, saya sempat diliputi rasa ragu. Kita semua tahu, terkadang rencana yang sudah matang bisa mendadak batal di hari-H karena berbagai kendala mendadak. Terlebih lagi, agenda ini sudah kami rancang sejak seminggu sebelum Lebaran kemarin. Namun, di luar dugaan, reuni kali ini benar-benar terealisasi.
Awalnya, kami berencana berkumpul di sebuah kafe pencuci mulut (dessert cafe) yang tidak menyediakan menu utama (main course). Pikir kami, karena janjian jam 4 sore, kalau ada yang kelaparan tinggal melipir ke warung ramen di sebelah kafe tersebut.
Namun, saya menyarankan agar kami memilih satu tempat praktis yang menyediakan menu utama sekaligus pencuci mulut. Selain itu, lokasi kafe pertama juga agak jauh dari pusat kota.
Akhirnya, teman saya, Dea, memutuskan agar kami berkumpul di Cafe Catarina yang terletak strategis di kawasan Batam Centre.
Sore itu, saya tiba di lokasi dan mendapati Dea sudah sampai lebih awal, disusul tak lama kemudian oleh dua teman kami lainnya. Begitu berkumpul, kami langsung saling berbagi cerita tentang life update masing-masing.
Saya sempat dibuat takjub—ternyata teman-teman alumni SMAN 3 Batam ini jenius semua. Ada yang sudah bekerja di Freeport, ada yang berkarier di luar negeri, dan ada pula yang sedang menempuh studi S2. Wah, rasanya kontras sekali dengan saya yang saat itu statusnya masih menganggur.
Melihat pencapaian mereka, saya membatin bahwa sebenarnya saya memiliki jaringan pertemanan yang sangat luas jika ingin dimanfaatkan untuk membangun koneksi. Namun, ya, namanya juga seorang introvert, saya cenderung tidak terlalu dekat dengan semua orang.
Sembari menikmati suasana kafe, kami mulai bernostalgia mengenakan tingkah-tingkah lucu di kelas dulu. Tak ketinggalan, kami juga membahas topik yang agak emosional tentang bagaimana beberapa anak sering merundung atau menjadi korban perundungan.
Ternyata, beberapa teman di meja itu merasakan keresahan yang sama terkait isu bullying tersebut.
Kami bahkan tertawa mengingat memori masa lalu. Dulu, ada golongan "geng atas" yang suka bergerombol di sekitar tangga dekat kelas. Karena sungkan, saya sering kali memilih memutar jalan lewat koridor anak IPS dibanding harus berjalan di depan mereka.
Rupanya, ada teman saya di meja itu juga melakukan hal yang sama demi menghindari gerombolan di sekitar tangga.
Maklum, kami yang berkumpul sore itu adalah tim penghuni barisan kursi depan yang dekat dengan meja guru, jadi wajar saja kalau frekuensi pemikiran kami sangat klop.
Saya sempat mengira pertemuan ini akan diwarnai momen canggung karena sudah bertahun-tahun tidak bertatap muka. Namun, kekhawatiran itu sirna seketika.
Mengalir begitu saja banyak hal yang bisa dikupas, mungkin karena sudut pandang kami kini sudah sama-sama sedewasa ini. Kami bahkan sempat berseloroh, "Eh, kenapa kita enggak bawa buku yearbook sekalian ya?" Soalnya, beberapa nama teman seangkatan sudah mulai kami lupakan.
Menariknya, ketika menanggapi situasi saya yang saat itu belum bekerja, teman-teman meresponsnya dengan sangat santai.
Mereka justru memberikan pesan hangat yang menenangkan hati, “Nikmati aja dulu Hel, enggak perlu buru-buru.” Pikir saya benar juga. Dunia kerja pasti penuh dengan tantangan dan hal-hal baru yang mengejutkan, jadi tidak ada salahnya menikmati masa jeda ini terlebih dahulu.
Review Cafe Catarina: Estetik dan Ramah Dompet

Untuk aksesnya sendiri, perjalanan dari kos saya menuju Cafe Catarina ini terbilang dekat hanya 10 menitan dengan ojek online. Dea bercerita bahwa tempat kerjanya sering berlangganan membeli kue basah dan gorengan dari kafe ini.
Dan benar saja, rasanya memang enak. Harga aneka kuenya sangat ramah di kantong, berkisar di angka Rp3.000-an saja. Sementara untuk pilihan makanan beratnya pun variatif, mulai dari chicken katsu hingga aneka hidangan rice bowl lezat dengan harga yang bersahabat mulai dari Rp35.000-an.
Bagi pencinta fotografi, kafe ini memiliki banyak sudut atau spot yang sangat estetik. Kami pun tidak melewatkan kesempatan untuk mengambil banyak foto bersama di sana.
Dokumentasi yang diambil lewat ponsel teman saya hasilnya kece-kece semua. Kafenya benar-benar estetik dan suasananya bikin kami betah berlama-lama. Untuk WFH saya rasa cafe ini pun cocok, karena saya lihat ada juga yang sedang WFH di cafe ini dengan nyaman.
Saking serunya mengobrol, kami sampai lupa waktu. Rencana berkumpul dari jam 4 sore tidak terasa sudah menyentuh jam 9 malam. Gila, sih. Awalnya saya mengira pertemuan ini akan terasa singkat atau kaku, tetapi ternyata bernostalgia masa SMA sedalam dan semenyenangkan itu. Sampai jumpa di pertemuan berikutnya kalau ada waktu luang lagi, ya!
#XII IPA 3