Ulasan

Sihir, Ganja, Miras, Buku, dan Islam: Membongkar Pola Berpikir yang Dianggap Final oleh Masyarakat

Sihir, Ganja, Miras, Buku, dan Islam: Membongkar Pola Berpikir yang Dianggap Final oleh Masyarakat
Buku Sihir, Ganja, Miras, Buku, dan Islam (Instagram/asro.syid)

Buku Sihir, Ganja, Miras, Buku, dan Islam merupakan kumpulan esai yang mengangkat beragam isu dengan pendekatan reflektif dan kritis. Genre esai yang dipilih membuat setiap tulisan berdiri sendiri, tetapi tetap terhubung oleh benang merah yang kuat.

Tema besar yang tampak dominan meliputi keislaman sebagai perspektif utama, isu lingkungan hidup, literasi, dan kebudayaan.

Selain itu, terdapat isu-isu turunan seperti sains, tradisi lokal, hingga fenomena sosial yang sering luput dari perhatian.

Relevansinya dengan situasi saat ini sangat terasa, terutama ketika masyarakat kerap terburu-buru menghakimi sesuatu tanpa pemahaman utuh, seperti fenomena pawang hujan yang sempat ramai diperbincangkan. Buku ini hadir sebagai upaya menjernihkan cara pandang tersebut.

Awal mula saya tertarik terhadap buku ini sebab penasaran pada judulnya yang provokatif sekaligus agak nakal. Kata-kata seperti sihir, ganja, dan miras seolah menantang pembaca untuk masuk ke dalam wilayah yang sering dianggap tabu, terlebih ketika disandingkan dengan Islam. Ekspektasi awalnya adalah menemukan tulisan yang kontroversial atau bahkan cenderung keras.

Buku ini terasa ringan, akrab, dan komunikatif, seolah-olah penulis sedang mengajak berdiskusi santai, bukan menggurui. Alih-alih menekan, tulisan-tulisannya justru membuka ruang berpikir yang lebih luas dan tidak kaku.

Buku ini terdiri dari 24 esai yang terbagi dalam beberapa bagian. Setiap esai mengangkat persoalan yang berbeda, mulai dari praktik budaya seperti sihir di Lombok, perdebatan seputar ganja dan lingkungan, hingga refleksi keagamaan dan sosial.

Salah satu benang merah yang terasa kuat adalah upaya penulis untuk membongkar cara berpikir yang sudah dianggap final oleh masyarakat. Pembaca diajak melihat ulang hal-hal yang selama ini diterima begitu saja, sekaligus mempertanyakan ketakutan-ketakutan yang sebenarnya berakar dari ketidaktahuan.

Dengan pendekatan yang santai namun tajam, buku ini lebih menyerupai percakapan intelektual ringan daripada bacaan berat yang menguras energi.

Kekuatan utama buku ini terletak pada gaya penulisannya. As Rosyid mampu menghadirkan kritik dengan cara yang halus, bahkan kerap diselipkan humor dan satire. Kritik yang disampaikan tidak terasa menghakimi, melainkan mengajak pembaca merenung.

Gaya dialogis yang digunakan dalam beberapa esai, misalnya percakapan imajiner dengan tokoh atau bahkan sosok mitologis, menjadi daya tarik tersendiri. Pendekatan ini terasa kreatif dan berani, tetapi tetap memiliki tujuan reflektif yang jelas.

Secara emosional, membaca buku ini menghadirkan campuran rasa, seperti kagum, terhibur, sekaligus tertampar secara halus. Ada momen ketika pembaca dibuat tersenyum, tetapi di saat yang sama disadarkan bahwa cara berpikirnya mungkin selama ini terlalu sempit.

Penulis juga berhasil membumikan pemikiran tokoh-tokoh besar seperti Mahatma Gandhi dan Vandana Shiva, sehingga tidak terasa abstrak atau jauh dari realitas sehari-hari.

Kelebihan buku dengan tebal 159 halaman ini adalah gaya bahasa yang ringan, komunikatif, dan mudah dipahami, pendekatan kritik yang santun namun tetap tajam, mengangkat isu-isu yang jarang dibahas secara terbuka, dan mampu mengajak pembaca berpikir mandiri tanpa digurui.

Sedangkan salah satu kekurangannya adalah karena berbentuk esai pendek, maka beberapa pembahasan seakan belum mendalam, dan gaya nakal serta nyeleneh mungkin kurang nyaman bagi pembaca yang terbiasa dengan tulisan formal.

Buku ini pun sangat cocok bagi pembaca yang menyukai bacaan reflektif, kritis, tetapi tetap ringan. Ia relevan bagi siapa saja yang ingin memperluas cara pandang, terutama dalam melihat isu-isu yang sering dianggap tabu atau sudah final.

Kesan yang mendalam usai membaca buku terbitan Mera Books ini adalah dorongan untuk lebih berhati-hati saat menilai sesuatu. Buku ini seolah mengingatkan bahwa ketakutan sering kali lahir dari ketidaktahuan, dan pengetahuan seharusnya menjadi jalan untuk memahami, bukan menghakimi.

Identitas Buku

  • Judul: Sihir, Ganja, Miras, Buku, dan Islam
  • Penulis: As Rosyid
  • Penerbit: Mera Books
  • Tahun Terbit: 2022
  • Tebal: 159 halaman
  • ISBN: 978-623-98809-3-4
  • Genre: Agama

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda