Ulasan
Menjemput Jawaban di Atas Kapal Blitar Holland: Ulasan Novel "Rindu"
Pernah nggak sih kita membayangkan perjalanan haji pada zaman dahulu? Menggunakan kapal selama berbulan-bulan, terombang-ambing di atas ombak samudra. Kabar baiknya, Tere Liye menghadirkan novel berjudul Rindu untuk menjawab semua rasa penasaran itu.
Novel ini mengikuti perjalanan Blitar Holland, sebuah kapal pengangkut jemaah haji Indonesia tahun 1938 dengan berbagai penumpang yang memiliki kisah pentingnya masing-masing.
Sinopsis dan Karakter Utama
Di dalam kapal ini, kita akan diajak berkenalan dengan berbagai tokoh yang memiliki pertanyaan yang menghantui hidup mereka.
Ada sosok ulama bernama Ahmad Karaeng atau panggilannya Gurutta. Beliau adalah sosok yang berilmu, beradab, dan sangat rendah hati. Meski selalu berhasil menjawab permasalahan hidup orang lain, Gurutta tetaplah manusia biasa yang memiliki pertanyaan yang amat ia khawatirkan dalam perjalanan ini.
Lalu ada tokoh favoritku, pasangan lansia dari Semarang yaitu Mbah Kakung dan Mbah Putri. Dari sekian banyak penumpang, pasangan ini adalah yang paling romantis. Karena pendengaran Mbah Kakung yang kurang baik, beberapa percakapan mereka sering membuat pembaca terpingkal, namun di balik itu kisahnya adalah yang paling menggugah hati.
Tokoh lain yang memegang pertanyaan besar adalah Ambo Uleng, seorang pelaut Bugis yang cerdas dan berani. Ia menjadi favoritku setelah pasangan Mbah Kakung karena ketangguhannya, meski hatinya juga dilingkupi keganjalan. Terakhir adalah Bunda Upe, guru mengaji keturunan Tionghoa Muslim yang ditemani suaminya, Enlai.
Tere Liye sangat baik dalam menyampaikan keresahan batin Bunda Upe yang memiliki masa lalu kelam, sehingga pembaca seolah bisa merasakan apa yang ia rasakan. Tak lupa ada keluarga Daeng Andipati dengan dua anaknya, Anna dan Elsa, yang keceriaannya dalam bayangan saya mirip seperti karakter film Frozen.
Kelebihan Novel
Dari segi teknis, alur yang digunakan adalah maju-mundur dan penulisannya terasa sangat natural, seolah kita terbawa arus. Latar waktu dan tempatnya pun terungkap sangat jelas.
Kapal Blitar Holland dikisahkan bersinggah mulai dari Makassar, Surabaya, Semarang, Batavia, Lampung, Bengkulu, Kolombo, hingga tiba di Jeddah.
Pergantian hari yang detail membuat pembaca tidak kebingungan. Gaya bahasanya pun amat sederhana; meskipun bercampur beberapa kata Belanda tanpa terjemahan, kita tetap bisa memahaminya. Sungguh Om Darwis sangat pintar mengungkapkannya.
Kekurangan Novel
Ritme alur di bagian awal yang cenderung lambat dan repetitif. Bagi pembaca yang terbiasa dengan tempo narasi yang dinamis, bab-bab awal mungkin terasa menjemukan karena adanya pengulangan narasi yang bisa saja dipangkas tanpa mengurangi esensi cerita.
Dinamikanya terasa terlalu halus, bahkan beberapa bagian terasa bisa dilewati (skip) tanpa kehilangan inti konflik batin para tokohnya.
Satu hal lagi yang menarik untuk dikritisi secara akademis adalah pemilihan nama karakter Anna dan Elsa. Sebagai fiksi sejarah yang berlatar tahun 1938, penggunaan nama yang sangat identik dengan ikon budaya populer modern ini terasa kurang otentik dan sedikit mendistorsi suasana kolonial yang sedang dibangun.
Kesimpulan
Sebagai penutup, ulasan ini saya buat bukan untuk memuji saja, tapi sebagai penilaian yang jujur. Saya percaya seorang peresensi harus berani menyampaikan apa yang tidak disukai secara objektif supaya tulisan itidak kehilangan "jiwa" dan kejujurannya.
Terlepas dari itu, Rindu tetaplah perjalanan batin yang dalam tentang arti cinta, kehilangan, dan cara memiliki. Semua pertanyaan itu akhirnya terjawab di atas kapal Blitar Holland.
Identitas Buku:
Judul: Rindu
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Republika
Halaman: ii + 544 halaman
Kategori: Novel