Ulasan

Log In: Mengetuk Pintu Toleransi Tanpa Harus Salah Paham

Log In: Mengetuk Pintu Toleransi Tanpa Harus Salah Paham
Buku Log in Habib dan Onad (Dok. Pribadi/Chairun Nisa)

Siapa sangka, di balik sosoknya yang jenaka sebagai pendakwah, Habib Ja’far juga menyimpan kedalaman pemikiran melalui tulisan. Buku berjudul "Log In: Habib dan Onad" ini menjadi karya pertama beliau yang saya selami. Menemukannya pun terasa seperti sebuah "takdir" kecil—terselip di antara deretan buku filsafat, ia seolah menunggu untuk ditemukan. Ternyata, buku ini sudah lama masuk ke dalam wishlist teman-teman saya; rasanya saya cukup tertinggal zaman baru membacanya sekarang.

Bukan Sekadar Mualaf, Tapi Anti-Salah Paham

Buku ini merupakan kristalisasi dari jawaban-jawaban Habib Ja'far atas pertanyaan Onadio Leonardo (Onad) dalam serial "Log In". Namun, penting untuk dicatat: buku ini bukan tentang mengajak orang menjadi mualaf. Sebaliknya, ia hadir sebagai jembatan agar meski kita berbeda paham, kita tidak saling salah paham.

Terdiri dari 19 bab yang berasal dari 19 pertanyaan mendasar, Habib menjelaskan asal-muasal "Log In" yang dimulai tahun 2021. Terinspirasi dari serial The Story of God, Onad ingin mengenal lebih dalam agama-agama di Indonesia. Tak heran jika obrolannya terasa berat dan mendalam, namun tetap populer karena kejujurannya.

Adab Guru dan Indahnya Perbedaan

Satu hal yang menyentuh hati saya adalah adab Habib Ja'far kepada gurunya, Habib Jindan bin Jindan. Sebelum memulai proyek ini, beliau meminta izin terlebih dahulu. Banyak petuah tentang guru di buku ini yang sangat relevan dengan apa yang saya alami selama di pesantren. Bahkan, Habib Ja'far bercerita secara jujur pernah ditegur sang guru karena kontennya dianggap memojokkan kaum minoritas.

Pada Bab 1, kita diajak menyelami keberagaman dalam Islam. Habib menekankan bahwa perbedaan adalah rahmat. Menariknya, beliau merasa Onad bisa memahami dasar-dasar Islam bukan semata karena kecerdasannya, melainkan karena Habib hanya menjadi penyambung lidah dari bahasa tinggi para guru yang disederhanakan.

Dari "Agama Warisan" hingga Surga-Neraka

Buku ini juga membedah hal-hal sensitif dengan analogi yang cerdas sederhana dan mudah dipahami. Agama Warisan: Membahas realita bahwa banyak dari kita memeluk agama karena orang tua, padahal idealnya agama diajarkan dan dipilih secara berdaulat.

Abrahamic Faith: Habib lebih suka menggunakan istilah ini daripada sekadar "Agama Samawi". Beliau menjelaskan mengapa Tuhan itu satu tapi agama banyak, serta bagaimana menyikapi perbedaan internal (seperti NU dan Muhammadiyah) dengan analogi: "Untuk mendapat angka sepuluh, tidak harus selalu melalui lima tambah lima."

Surga dan Neraka: Pembahasan yang sangat berat ini dibawakan dengan ringan. Iman adalah urusan hati, dan kita tidak berhak menghakimi seseorang kafir atau masuk neraka, karena itu adalah hak prerogatif Allah.

Filosofi di Balik Simbol

Buku ini menjawab banyak kesalahpahaman umum:

  • Kakbah & Nabi: Menjelaskan bahwa umat Islam tidak menyembah berhala (Kakbah) dan mengapa wajah Nabi Muhammad tidak digambar—karena mencintai tak selalu harus melihat yang dicintai.
  • Dosa: Ada kutipan yang sangat mengena: "Dosa adalah simbol pengkhianatan kita kepada Tuhan yang telah menganugerahkan nikmat tak terhingga."
  • Difabel & Keadilan Tuhan: Sudut pandang manusia yang terbatas sering menganggap difabel sebagai kekurangan, padahal di mata Allah, selalu ada kelebihan yang menyertainya.
  • Islam & Perdamaian: Meluruskan konsep perang yang hanya untuk bertahan, bukan menyerang, sehingga aksi terorisme jelas tidak memiliki tempat dalam Islam.
  • Aturan & Toleransi: Menjawab mengapa Islam punya banyak larangan (seperti tato atau alkohol). Setiap agama memiliki alasan masing-masing yang patut dihormati.

Membaca buku ini adalah perjalanan emosional sekaligus intelektual. Saya harus menyiapkan banyak sekali sticky notes karena hampir di setiap halaman ada kutipan berharga yang sayang untuk dilewatkan.

Log In bukan sekadar buku tentang tanya-jawab agama. Ia adalah pengingat bahwa di tengah dunia yang semakin bising dengan penghakiman, kita butuh lebih banyak mendengar untuk mengerti, bukan untuk mendebat. Buku ini berhasil membuktikan bahwa keimanan yang kokoh tidak lahir dari kebencian pada yang berbeda, melainkan dari kedalaman cinta dan keluasan logika. Sebuah literatur yang wajib dibaca bagi siapa pun yang ingin "Log In" ke dalam ruang kedamaian dan kemanusiaan.

Identitas Buku

Judul: Log In: Habib dan Onad

Penulis: Husein Ja’far Al Hadad

Penerbit: Hiatus (PT Jeda Nulis)

Tahun Terbit: 2025

ISBN: 978-623-099-037-3

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda