Ulasan

Menelanjangi Gengsi Penjajah dan Derita Si Miskin dalam Esai George Orwell

Menelanjangi Gengsi Penjajah dan Derita Si Miskin dalam Esai George Orwell
Buku Bagaimana Si Miskin Mati. (Doc Pribadi/Chairun Nisa)

Buku ini merupakan kumpulan 20 esai karya George Orwell yang membedah persoalan bahasa, kesusastraan, politik, hingga kemanusiaan. Membacanya bukan pengalaman yang ringan; kejujuran Orwell dalam memotret realitas sering kali terasa menekan, bahkan membuat saya sulit menamatkannya dalam beberapa hari.

Orwell mengawali dengan refleksi posisinya sebagai penulis yang pernah menjadi polisi imperial Inggris. Dalam esai Hukuman Gantung, ia menggambarkan kengerian prosesi eksekusi di Burma dengan detail yang menggugah kesadaran. Sementara itu, dalam Menembak Gajah, ia menunjukkan paradoks seorang penjajah: harus tampak kuat di hadapan rakyat jajahan, padahal sesungguhnya diliputi ketakutan. Tokoh “saya” dalam esai tersebut menembak gajah bukan karena keberanian, melainkan demi menjaga gengsi agar tidak terlihat bodoh di mata orang-orang pribumi berkulit hitam—sebuah tindakan yang pada akhirnya terasa sia-sia.

Ironi Sastra dan Potret Kemiskinan

Orwell juga menyoroti dunia literasi melalui esai Kenangan di Toko Buku. Ia mengisahkan keanehan perilaku pelanggan yang memesan buku langka namun enggan membayar. Toko buku di London kala itu bahkan menjadi tempat pelarian bagi orang-orang miskin atau mereka yang mengalami gangguan mental, sekadar karena tempat tersebut gratis dan hangat.

Di sisi lain, melalui esai Marrakesh, Orwell menghadirkan potret kemiskinan yang getir di Maroko. Ia menggambarkan perempuan-perempuan tua yang tetap bekerja keras di tanah tandus demi bertahan hidup, serta kehidupan komunitas Yahudi yang terpinggirkan. Semua digambarkan tanpa romantisasi—dingin, jujur, dan menyentak.

Menulis sebagai “Penyakit” yang Tak Terelakkan
Dalam esai Mengapa Saya Menulis, Orwell membedah dorongan batin seorang penulis dengan sangat jujur. Baginya, menulis bukan sekadar hobi, melainkan sebuah proses yang menguras tenaga dan emosi, bahkan terasa seperti bertahan hidup dari penyakit yang berkepanjangan.

Ia mengakui bahwa setiap penulis memiliki sisi egois dengan motif pribadi yang sulit dijelaskan. Namun, tak ada seorang pun yang mampu bertahan dalam proses kreatif yang melelahkan itu tanpa dorongan kuat dari dalam dirinya—semacam “naluri gelap” yang tak bisa dilawan. Pada akhirnya, menulis menjadi cara untuk menyuarakan apa yang dianggap benar oleh nurani.

Luka Batin Seorang Pengulas Buku

Salah satu bagian paling menyentuh adalah esai Pengakuan Seorang Pengulas Buku. Orwell menggambarkan kehidupan pahit seorang pengulas yang terjebak dalam rutinitas menulis demi bertahan hidup. Sosok yang digambarkan adalah pemuda berusia 35 tahun, tetapi tampak jauh lebih tua karena beban hidup.

Ia harus membaca buku-buku yang tidak ia sukai, bahkan memujinya demi mendapatkan bayaran. Dalam kondisi seperti ini, menulis bukan lagi kegiatan intelektual yang membebaskan, melainkan pekerjaan yang perlahan menggerus jiwa. Orwell dengan tajam menunjukkan bagaimana seseorang bisa kehilangan dirinya sendiri di tengah tuntutan ekonomi dan tenggat waktu.

Nasionalisme dan Gugatan Kemanusiaan

Dalam esai-esai lainnya, Orwell juga mengangkat berbagai isu sosial dan politik yang tetap relevan hingga hari ini. Ia membahas upaya mendekatkan puisi kepada masyarakat melalui media radio agar tidak terkesan elitis, sekaligus mengkritik kecenderungan manusia dalam mengkotak-kotakkan sesamanya melalui nasionalisme.

Selain itu, ia menyinggung realitas di balik senjata pemusnah massal dalam Anda dan Bom Atom, serta mengungkap perlakuan tidak manusiawi terhadap pasien miskin di rumah sakit dalam esai Bagaimana Si Miskin Mati. Ia juga merefleksikan keadilan dan dendam dalam konteks kejahatan perang, menunjukkan bahwa kemanusiaan sering kali kalah oleh kepentingan dan emosi kolektif.

Kesimpulan

Buku ini bukan sekadar kumpulan esai, melainkan sebuah gugatan terhadap sejarah dan kemanusiaan. Meskipun terasa pahit dan cukup melelahkan untuk dibaca, gagasan-gagasan Orwell tetap relevan sebagai cermin untuk memahami bagaimana kekuasaan, politik, dan kemiskinan bekerja dalam kehidupan manusia.

Identitas Buku

Judul: Bagaimana Si Miskin Mati (How the Poor Die)
Penulis: George Orwell
Penerbit: Diva Press
Cetakan: Pertama, April 2019
ISBN: 978-602-391-713-6

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda