Ulasan

Dunia Maya: Labirin Evolusi dan Teka-Teki Keabadian Jostein Gaarder

Dunia Maya: Labirin Evolusi dan Teka-Teki Keabadian Jostein Gaarder
Novel Dunia Maya Karya Jostein Gaarder. (Goodreads)

Sebagai penggemar setia Jostein Gaarder sejak mengenal buku Perpustakaan Ajaib Bibi Bokken, saya selalu menantikan kejutan dari setiap karyanya. Namun, novel bertajuk Dunia Maya ini memberikan pengalaman yang jauh berbeda.

Karena tidak memiliki koleksi pribadinya, saya sampai meminjam buku ini dari perpustakaan di kampus teman demi menuntaskan rasa penasaran. Meskipun harus membacanya hingga tiga kali karena konten filsafat dan biologi evolusi yang sangat pekat, perjalanan menuntaskan buku ini memberikan kesan mendalam yang sulit dilupakan.

Satu bagian yang paling membekas adalah momen melankolis John Spooke, seorang penulis Inggris yang tengah berduka, saat ia melakukan solilokui di hadapan seekor tokek di dinding hotelnya. Di sana, ia merenungkan betapa alam semesta membutuhkan waktu bermiliar-miliar tahun untuk menciptakan seorang manusia melalui proses evolusi yang rumit, namun maut hanya butuh beberapa detik saja untuk menjemput nyawa tersebut. Dialog imajiner dengan reptil kecil ini menjadi pintu masuk yang ganjil sekaligus puitis menuju labirin pemikiran Gaarder mengenai eksistensi dan kesadaran kosmos.

Berbeda dengan karya-karya sebelumnya yang sering menggunakan sudut pandang anak perempuan, kali ini Gaarder menghadirkan tokoh-tokoh dewasa yang berusia di atas dua puluh tahun. Ada Frank Andersen, seorang ahli biologi evolusioner asal Norwegia yang membawa luka akibat kematian putrinya dan perpisahan dengan istrinya, Vera. Frank pergi ke Pulau Taveuni di Fiji untuk melakukan penelitian, namun di sana ia justru bertemu dengan jiwa-jiwa lain yang juga menyimpan kesedihan masing-masing. Ada John Spooke yang belum merelakan istrinya, serta Laura, seorang aktivis lingkungan dengan latar belakang keluarga yang cukup menyedihkan.

Namun, pusat perhatian dalam cerita ini adalah pasangan Ana dan Jose asal Spanyol. Sosok Ana yang sangat menyerupai model lukisan La Maja Desnuda karya Goya dan kegemaran mereka mengucapkan kalimat-kalimat ganjil tentang alam semesta serta "Joker" menciptakan atmosfer misteri yang kental. Bagi pembaca Misteri Soliter, kehadiran metafora kurcaci, badut, dan teka-teki kartu di sini akan terasa seperti sebuah reuni emosional yang menghubungkan karya-karya Gaarder dalam satu semesta pemikiran yang sama.

Struktur novel ini pun tergolong unik karena menggunakan dua narator orang pertama, yakni John dan Frank. Gaarder seolah membelah dirinya menjadi dua sisi: sisi sastrawan pada John dan sisi ilmuwan pada Frank. Yang paling menarik sekaligus membingungkan adalah bagaimana Gaarder menyajikan akhir cerita dengan dua versi narasi yang berbeda.

Pada narasi Frank, Ana diceritakan meninggal dunia setelah kelelahan mengejar sosok kurcaci misterius pasca pertemuan mereka di Fiji. Namun, dalam narasi John, mereka justru melihat Ana masih hidup, menari flamenco dengan indah sambil menggendong seorang bayi. Ketidakpastian ini seolah menegaskan tema besar buku ini tentang "Maya" atau ilusi dunia, di mana realitas sering kali berkelindan dengan imajinasi.

Melalui legenda ramuan ajaib yang disampaikan oleh Vera, saya akhirnya memahami inti dari pesan cinta dalam buku ini. Keabadian yang dicari manusia bukanlah melalui ramuan mistis untuk hidup selamanya secara fisik, melainkan melalui cinta dan keturunan. Memiliki anak adalah "ramuan" nyata yang membuat darah dan daging kita tetap hidup melintasi generasi. Melalui keturunanlah, manusia benar-benar mencapai keabadian di muka Bumi.

Meskipun judul Dunia Maya saat ini sering disalahpahami sebagai dunia digital atau internet, novel ini justru menawarkan refleksi yang jauh lebih luas tentang hakikat manusia yang nyata. Membaca buku ini memang membutuhkan ketahanan mental karena pembahasannya yang berat, mulai dari biologi molekuler hingga manifesto perlindungan lingkungan hidup. Namun, bagi saya, kerumitan itulah yang membuat karya Gaarder ini begitu istimewa dan mampu memberikan tamparan keras agar kita menjadi manusia yang lebih peka terhadap sesama serta alam semesta.

Identitas Buku

  • Judul: Dunia Maya (Edisi Hardcover atau Softcover menyesuaikan cetakan)
  • Judul Asli: Maya
  • Penulis: Jostein Gaarder
  • Penerjemah: Yuliani Liputo
  • Penerbit: Mizan
  • ISBN: 978-979-433-960-2 (Edisi terbaru)

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda