Ulasan

Membaca Filsafat ala Gen Z di Buku Filosofi Teras Karya Om Piring

Membaca Filsafat ala Gen Z di Buku Filosofi Teras Karya Om Piring
Filosofi Teras (Dok. Pribadi/Oktavia)

Akan difilmkan oleh MD Pictures, buku ini cukup menarik untuk dibahas. Selain karena buku ini bertema self help, ini menjadi yang pertama buku selain novel difilmkan di Indonesia. 

Buku Filosofi Teras: Filsafat Yunani-Romawi Kuno untuk Mental Tangguh Masa Kini karya Henry Manampiring menjadi salah satu bacaan populer yang berhasil mengemas filsafat berat ke dalam bahasa sehari-hari yang ringan dan mudah dipahami.

Diterbitkan oleh PT Kompas Media Nusantara, buku ini hadir bukan sekadar sebagai pengantar filsafat, tetapi juga sebagai panduan praktis untuk menghadapi kehidupan modern yang penuh tekanan.

Isi Buku

Di awal buku, penulis mengangkat fenomena meningkatnya tingkat kekhawatiran masyarakat. Mulai dari kecemasan berlebih, stres, hingga emosi negatif yang sering kali tidak terkendali.

Kondisi ini diperkuat dengan pengalaman pribadi penulis yang pernah terjebak dalam pusaran emosi negatif. Dari sinilah pembaca diajak memahami bahwa masalah tersebut bukan hal baru. Lebih dari 2.000 tahun lalu, filsafat Yunani-Romawi kuno sudah lebih dulu membahasnya melalui mazhab Stoisisme.

Stoisisme, atau yang diperkenalkan sebagai “Filosofi Teras”, menawarkan cara pandang sederhana namun mendalam tentang kehidupan. Inti ajarannya terletak pada konsep dikotomi kendali. Yaitu membedakan antara hal-hal yang bisa kita kendalikan dan yang tidak. Kita tidak bisa mengontrol opini orang lain, kejadian tak terduga, atau masa depan. Namun, kita selalu punya kendali atas pikiran, sikap, dan tindakan kita sendiri.

Menariknya, konsep ini kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh tokoh modern seperti William Irvine menjadi trikotomi kendali: hal yang sepenuhnya dalam kendali kita, hal yang di luar kendali, dan hal yang sebagian bisa kita pengaruhi. Pendekatan ini membuat pembaca lebih fleksibel dalam menyikapi realitas, tidak hitam-putih, dan lebih realistis dalam mengambil keputusan.

Salah satu kekuatan utama buku ini adalah gaya penyampaiannya. Berbeda dengan buku filsafat pada umumnya yang cenderung berat, Filosofi Teras justru menggunakan contoh-contoh yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Mulai dari kesal karena macet, tersinggung oleh komentar di media sosial, hingga kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain di Instagram. Semua dibahas dengan bahasa yang santai, bahkan kadang jenaka.

Pendekatan ini membuat Stoisisme terasa relevan, terutama bagi generasi milenial dan Gen Z yang hidup di era digital. Dalam dunia yang serba cepat dan penuh distraksi, kemampuan mengelola emosi menjadi semakin penting.

Buku ini mengingatkan bahwa tidak semua hal perlu ditanggapi secara emosional. Justru, ketenangan dan kejernihan berpikir adalah kunci untuk bertahan di tengah tekanan.

Namun, penting untuk dipahami bahwa Stoisisme bukan berarti meniadakan emosi. Perasaan seperti marah, sedih, atau kecewa tetaplah manusiawi. Yang ditekankan adalah bagaimana mengelola emosi tersebut agar tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain. Tujuan akhirnya adalah hidup dengan emosi yang terkendali dan berlandaskan kebajikan.

Kelebihan dan Kekurangan

Buku ini juga mengajak pembaca untuk hidup selaras dengan alam. Dalam konteks Stoisisme berarti menggunakan akal sehat dan rasio dalam bertindak.

Di era banjir informasi seperti sekarang, pesan ini terasa sangat relevan. Banyak orang mudah terpancing emosi oleh berita yang belum tentu benar, lalu bereaksi tanpa berpikir panjang. Filosofi Teras mengajarkan untuk berhenti sejenak, berpikir, dan tidak reaktif.

Meski demikian, buku ini tidak lepas dari kekurangan. Beberapa pembahasan terasa berulang, sehingga di bagian tertentu bisa menimbulkan kesan monoton. Namun, hal ini juga bisa dilihat sebagai upaya penulis untuk menekankan poin-poin penting agar lebih melekat di benak pembaca.

Secara keseluruhan, Filosofi Teras lebih condong sebagai buku self-help dengan fondasi filsafat yang kuat. Nilai-nilai yang disampaikan sebenarnya bukan hal baru. Banyak yang sejalan dengan konsep mindfulness, zen, bahkan ajaran dalam agama. Namun, keunggulan buku ini terletak pada cara penyampaiannya yang kontekstual dan mudah dicerna.

Buku ini sangat cocok bagi siapa saja yang merasa mudah marah, cemas berlebihan, atau sering overthinking terhadap hal-hal kecil. Filosofi Teras mengajarkan satu hal penting: hidup yang baik bukan tentang mengendalikan dunia luar, tetapi tentang mengendalikan diri sendiri. Dan proses itu, seperti yang ditekankan dalam Stoisisme, adalah perjalanan seumur hidup.

Identitas Buku

  • Judul Lengkap: Filosofi Teras: Filsafat Yunani-Romawi Kuno untuk Mental Tangguh Masa Kini
  • Penulis: Henry Manampiring
  • Penerbit: PT Kompas Media Nusantara
  • Tahun Terbit: 2024
  • Tebal: 346 halaman
  • ISBN: 978-623-346-303-4 
  • Kategori: Non-fiksi / Self-Improvement / Filsafat Stoa

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda