Ulasan
Ulasan Novel Dawuk, Melawan Prasangka dan Stigma Buruk di Masyarakat
Novel "Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu" karya Mahfud Ikhwan bukanlah sekadar cerita cinta biasa. Sejak awal, pembaca sudah diperingatkan melalui subjudulnya, 'Kisah Kelabu',bahwa apa yang akan dihadapi bukanlah romansa penuh bunga, melainkan sebuah narasi yang pekat dengan prasangka, kemiskinan, dan sisi gelap kemanusiaan.
Pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2017 ini membuktikan bahwa Mahfud Ikhwan adalah seorang maestro dalam memotret kehidupan pedesaan Jawa dengan kacamata yang jujur, tajam, dan sesekali getir.
Cerita berpusat pada tokoh bernama Mat Dawuk, seorang pria dengan fisik yang dianggap "jelek" dan menakutkan oleh standar masyarakat desa Rumbuk Randu. Ia digambarkan memiliki kulit gelap, tubuh besar, dan wajah yang mengintimidasi.
Dawuk jatuh cinta pada Inayatun, kembang desa yang masa lalunya penuh luka karena keterlibatan ayahnya dalam peristiwa kelam (yang secara tersirat merujuk pada trauma politik masa lalu) dan kemiskinan yang menjeratnya.
Hal yang membuat novel ini sangat menarik adalah gaya penceritaannya. Mahfud Ikhwan menggunakan teknik cerita di dalam cerita. Narasi utama disampaikan melalui obrolan di sebuah warung kopi, tempat di mana gosip dan legenda urban tumbuh subur.
Tokoh Warto Kemplung bertindak sebagai narator ulung yang menceritakan kisah Dawuk dan Inayatun kepada para pengunjung warung. Teknik ini sangat cerdas karena merefleksikan bagaimana sejarah dan reputasi seseorang di desa seringkali dibentuk oleh mulut ke mulut yang sering kali bumbu-bumbunya lebih banyak daripada faktanya.
Tema sentral dalam Dawuk adalah bagaimana masyarakat menciptakan monster dari ketidaktahuan mereka sendiri. Mat Dawuk adalah personifikasi dari sosok "Liyan". Karena fisiknya yang dianggap buruk rupa dan tabiatnya yang pendiam, warga Rumbuk Randu dengan mudah menyematkan berbagai label negatif kepadanya. Ia dianggap sebagai ancaman, preman, atau sosok yang patut dijauhi.
Melalui perjalanan Dawuk ke Malaysia sebagai buruh migran dan kepulangannya ke desa, kita melihat bagaimana stigma tersebut tidak pernah benar-benar hilang. Mahfud Ikhwan dengan sangat apik menggambarkan bahwa kekerasan seringkali lahir bukan karena niat jahat sejak lahir, melainkan sebagai respons defensif terhadap dunia yang terus-menerus memojokkan seseorang. Dawuk melawan bukan karena ia ingin menjadi jahat, tetapi karena ia tidak diberikan pilihan lain untuk mempertahankan harga dirinya dan cintanya kepada Inayatun.
Berbeda dengan novel-novel bertema desa yang cenderung romantis dan penuh kedamaian, Dawuk menyuguhkan realisme pedesaan yang keras. Rumbuk Randu digambarkan sebagai tempat yang penuh dengan ketimpangan sosial, kemiskinan, dan sisa-sisa trauma sejarah.
Relasi kuasa di desa ini sangat kental. Ada tokoh-tokoh seperti lurah atau orang kaya lama yang memegang kendali atas nasib orang-orang kecil seperti Dawuk dan Inayatun. Pernikahan Dawuk dan Inayatun dianggap sebagai skandal bukan hanya karena perbedaan fisik, tetapi karena keduanya adalah kaum marginal yang mencoba mencari kebahagiaan di tengah struktur sosial yang ingin menekan mereka.
Mat Dawuk digambarkan sebagai orang yang memiliki keterampilan, seperti mengoperasikan mesin gergaji dan kesetiaan yang luar biasa, namun semua itu tertutup oleh persepsi orang terhadap wajahnya. Sedangkan Inayatun adalah simbol ketabahan perempuan yang hidup di bawah bayang-bayang dosa orang tuanya dan kemiskinan yang mencekik. Hubungannya dengan Dawuk adalah bentuk solidaritas antara dua jiwa yang sama-sama terluka.
Bahasa yang digunakan Mahfud sangat lincah dan berkarakter. Ia mampu memadukan diksi yang puitis saat menggambarkan perasaan Dawuk dengan dialek lokal dan bahasa yang kasar saat menggambarkan ketegangan di hutan atau konflik fisik. Penggambaran latar hutan jati dan suasana perkebunan kelapa sawit di Malaysia memberikan tekstur yang nyata pada cerita. Pembaca seolah bisa mencium bau tanah, keringat, dan oli mesin yang menjadi bagian dari hidup Dawuk.
Penggunaan analogi dan metafora dalam novel ini juga sangat kuat. Dawuk sering diidentikkan dengan mesin gergaji atau hewan hutan, sesuatu yang kuat, berbahaya jika salah pegang, namun sebenarnya hanya menjalankan fungsinya.
Melalui akhir cerita yang tragis namun berwibawa, Mahfud Ikhwan memberikan penghormatan terakhir bagi mereka yang selama ini dianggap sampah masyarakat. Dawuk dan Inayatun mungkin kalah oleh keadaan, tetapi mereka menang dalam mempertahankan martabat cinta mereka.
Beberapa pembaca mungkin akan merasa tidak nyaman dengan penggambaran kekerasan yang cukup eksplisit di beberapa bagian. Namun secara keseluruhan, novel ini adalah bacaan wajib bagi siapa saja yang ingin melihat sisi lain dari sastra Indonesia kontemporer yang berani, jujur, dan berakar kuat pada realitas sosial masyarakat kita.
Identitas Buku
Judul: Dawuk: Kisah Kelabu Dari Rumbuk Randu
Penulis: Mahfud Ikhwan
Penerbit: Marjin Kiri
Tanggal Terbit: 1 Juni 2017
Tebal: 182 Halaman