Ulasan

Belajar Melepaskan Hal yang Tak Bisa Dikendalikan di Buku Mindful Life

Belajar Melepaskan Hal yang Tak Bisa Dikendalikan di Buku Mindful Life
Mindful Life (Dok. Pribadi/Oktavia)

Di tengah hidup yang semakin bising, banyak orang merasa lelah bukan karena terlalu banyak bekerja. Melainkan karena terlalu banyak memikirkan hal-hal yang sebenarnya tidak bisa mereka kendalikan.

Pikiran dipenuhi kecemasan tentang masa depan, penyesalan masa lalu, hingga ketakutan terhadap penilaian orang lain. Dalam situasi seperti inilah buku Mindful Life: Seni Menjalani Hidup Bahagia & Bermakna karya Darmawan Aji cocok untuk kembali menyadarkan kita pada apa yang penting untuk dipikirkan.

Isi Buku

Sejak awal, Darmawan Aji mengingatkan bahwa ada begitu banyak hal di dunia ini yang berada di luar kendali manusia. Cuaca, kemacetan, kebijakan pemerintah, perkataan orang lain, bahkan masa depan sekalipun tidak pernah benar-benar bisa dikontrol sepenuhnya. Namun anehnya, manusia justru sering menghabiskan energi terbesar untuk memikirkan hal-hal tersebut.

Akibatnya, hidup dipenuhi stres dan overthinking.

Karena itu salah satu pesan paling kuat dari buku ini adalah: berhentilah berusaha mengendalikan apa yang memang tidak bisa dikendalikan.

Kalimat tersebut terdengar sederhana, tetapi sebenarnya sangat dalam. Banyak orang merasa frustasi karena terus mencoba memaksa hidup berjalan sesuai keinginannya. Padahal hidup tidak selalu bergerak sesuai rencana manusia.

Buku ini kemudian menjelaskan bahwa sumber kebahagiaan sering kali diletakkan manusia pada hal-hal eksternal seperti kekayaan, kesehatan, dan ketenaran. Sebagian orang percaya bahwa uang adalah syarat utama untuk bahagia. Sebagian lain merasa hidup baru berarti jika memiliki tubuh sehat atau dikenal banyak orang.

Secara logika, pemikiran itu memang masuk akal. Namun Darmawan Aji mengingatkan bahwa ketiga hal tersebut tetap tidak sepenuhnya berada dalam kendali manusia.

Orang kaya bisa jatuh miskin dalam sekejap. Orang sehat bisa tiba-tiba sakit. Orang terkenal bisa kehilangan reputasi kapan saja. Jika kebahagiaan hanya bergantung pada hal-hal semacam itu, maka manusia akan mudah hancur ketika semuanya berubah.

Di sinilah konsep mindfulness dalam buku ini menjadi penting. Mindfulness bukan sekadar tren psikologi modern, melainkan cara hidup untuk hadir sepenuhnya pada saat ini. Menikmati hidup tanpa terus-menerus dikejar kecemasan tentang masa depan atau bayang-bayang masa lalu.

Buku ini juga banyak membahas bagaimana manusia perlu menerima penderitaan sebagai bagian alami dari kehidupan. Kebahagiaan bukan berarti hidup tanpa masalah, melainkan kemampuan menerima dan menjalani hidup dengan lebih sadar.

Kelebihan dan Kekurangan

Salah satu contoh menarik yang dibahas adalah kebiasaan multitasking dalam kehidupan sehari-hari. Penulis mencontohkan seseorang yang makan sambil menonton film. Akibatnya, makanan tidak benar-benar dinikmati dan tontonan pun tidak sepenuhnya dipahami. Manusia modern terlalu sibuk melakukan banyak hal sekaligus hingga lupa menikmati momen kecil dalam hidupnya.

Pesan seperti ini terasa sangat dekat dengan kehidupan sekarang. Banyak orang makan sambil bermain ponsel, berbicara sambil memikirkan pekerjaan, atau berlibur tetapi pikirannya tetap dipenuhi kecemasan.

Padahal kebahagiaan sering tersembunyi dalam momen-momen sederhana yang hadir sepenuhnya.

Yang menarik, buku ini tidak terasa menggurui. Darmawan Aji menggunakan bahasa ringan dan mudah dipahami meskipun membahas konsep-konsep yang cukup filosofis. Setiap bab juga dilengkapi kutipan reflektif yang membuat pembaca lebih mudah merenungkan isi pembahasannya.

Selain mindfulness, buku ini juga menyinggung konsep Ikigai, filosofi Jepang tentang menemukan makna hidup. Ada pula pembahasan tentang self-love, memaafkan diri sendiri, dan belajar menerima kekurangan diri dengan lebih bijak.

Pesan Moral

Salah satu bagian yang paling membekas adalah ketika penulis mengatakan:

Ada kalanya kita merencanakan hidup. Ada kalanya kita menjalaninya. Ada kalanya kita melepaskan. Mencampuradukkan ketiganya adalah sumber frustrasi.

Kutipan itu terasa seperti pengingat bahwa hidup memang membutuhkan keseimbangan. Ada waktu untuk berusaha dan membuat rencana, tetapi ada juga waktu untuk menerima bahwa tidak semua hal bisa dipaksakan.

Bagi para overthinker, buku ini terasa seperti teman yang menenangkan. Ia tidak menawarkan solusi instan, tetapi perlahan mengajak pembaca memahami bahwa ketenangan lahir ketika manusia berhenti melawan hidup secara berlebihan.

Buku ini mengingatkan bahwa hidup tidak selalu harus sempurna untuk bisa dinikmati. Kadang manusia hanya perlu berhenti sejenak, bernapas, lalu belajar menerima hidup sebagaimana adanya.

Identitas Buku

  • Judul: Mindful Life (Seni Menjalani Hidup Bahagia & Bermakna) 
  • Penulis: Darmawan Aji
  • Penerbit: Tiga Serangkai
  • ISBN: 9786237013877
  • Tebal: 256 Halaman
  • Genre: Pengembangan Diri / Psikologi Populer

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda