Ulasan

Safari Syawal ke Puncak Kediri: Niatnya Cari View Estetik, Malah Ketemu Pemandangan Berkabut

Safari Syawal ke Puncak Kediri: Niatnya Cari View Estetik, Malah Ketemu Pemandangan Berkabut
Tampak Depan Warung Batu Tulis dari Bawah (Dok. Pribadi/Ukhrowiyah)

Safari Syawal menjadi agenda tahunan yang selalu dinanti tiap lebaran. Namun, karena kesibukan dan jarak yang memisahkan, kegiatan rutin itu sempat terhenti selama beberapa tahun terakhir. Tahun ini, sebagian besar dari kami sudah lulus kuliah. Beberapa teman bahkan bekerja di luar kota. Meski demikian, keinginan untuk kembali menyambung silaturahmi membuat kami sepakat menghidupkan kembali agenda yang sempat tertunda tersebut.

Safari Syawal kali ini tidak mengunjungi banyak rumah. Kami memulai dari titik kumpul di sekolah lama, lalu bertolak ke rumah salah satu teman di Kelurahan Campurejo. Setelah itu, rombongan melanjutkan kunjungan ke rumah saya di Kelurahan Tamanan. Dari sana, perjalanan dilanjutkan menuju kawasan Besuki untuk menyaksikan pemandangan alam dari ketinggian di salah satu kafe yang dikenal sebagai kafe tertinggi di Kediri.

Perjalanan Menuju Warung Batu Tulis

Gambaran Pemandangan di Sepanjang Jalan (Dokumentasi Pribadi)
Gambaran Pemandangan di Sepanjang Jalan (Dokumentasi Pribadi)

Perjalanan dimulai sekitar pukul 13.30 dari rumah saya menggunakan mobil milik teman. Awalnya, tujuan kami adalah Café Prongos. Untuk sampai ke lokasi tersebut, kami harus menempuh perjalanan sekitar satu jam dari Kota Kediri.

Setelah melewati terminal baru Kota Kediri, kami memasuki wilayah Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri. Jalanan yang awalnya datar perlahan berubah menjadi tanjakan dan turunan. Rumah-rumah penduduk mulai jarang terlihat. Sepanjang perjalanan, pemandangan didominasi pepohonan hijau yang masih sangat asri. Selain itu, kami juga bisa melihat lebih dekat Pegunungan Wilis yang melintasi beberapa kabupaten.

Semakin naik, udara semakin terasa dingin. Gerimis sempat turun sesaat sebelum langit kembali cerah. Beberapa kali, mobil harus melewati banyak tikungan tajam, tanjakan curam, dan turunan yang cukup membuat perut terasa diaduk. Untungnya, perjalanan tetap berjalan lancar tanpa ada drama mabuk perjalanan.

Sesampainya di gapura masuk kawasan Besuki, kami dikenakan biaya retribusi sebesar Rp8.000 per orang dan parkir mobil Rp5.000. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan menuju lokasi kafe yang terletak di Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri.

Tiba di Warung Batu Tulis

Pemandangan di Warung saat Sedikit Cerah (Dok. Pribadi/Ukhrowiyah)
Pemandangan di Warung saat Sedikit Cerah (Dok. Pribadi/Ukhrowiyah)

Sekitar pukul 14.30, kami akhirnya tiba di kawasan tujuan. Langit kembali menggelap dan kabut tebal mulai menyelimuti pemandangan. Café Prongos yang menjadi tujuan awal tampak cukup ramai. Akhirnya, kami memutuskan untuk beralih ke warung yang berada tepat di sebelahnya, yaitu Warung Batu Tulis.

Kami memilih duduk di lantai bawah agar terlindung dari hujan. Lantai dua sebenarnya menawarkan konsep outdoor dengan pemandangan yang lebih leluasa. Namun, karena kabut masih tebal, kami sepakat menikmati makanan terlebih dahulu sebelum naik ke atas untuk berfoto.

Menu yang kami pesan cukup beragam. Ada yang memilih mie kuah, pop mie, mie goreng, hingga tempe mendoan. Untuk minuman, sebagian besar dari kami memesan minuman hangat karena suhu udara yang cukup dingin. Harga makanan dan camilan di sini juga relatif terjangkau, berkisar antara Rp10.000 hingga Rp20.000. Sementara minuman dibanderol mulai Rp5.000.

Saat itu, saya memesan mie kuah yang dilengkapi sayur dan telur ceplok seharga Rp10.000. Untuk minuman, saya memilih teh hangat dengan harga Rp5.000. Di tengah udara pegunungan yang dingin, kombinasi makanan dan minuman hangat terasa sangat pas.

Kami menikmati pesanan masing-masing sambil berharap kabut segera menipis. Sayangnya, hujan kembali turun dan pemandangan yang seharusnya bisa terlihat dari ketinggian tertutup sepenuhnya. Teman-teman mengatakan, jika ingin mendapatkan momen cerah, sebaiknya datang sejak pagi. Sementara kami tiba menjelang sore, sehingga momen cerah hanya muncul sebentar, seolah numpang lewat. Beruntung, saya sempat mengabadikan satu foto saat kabut sedikit terbuka. Meski singkat, pemandangan itu cukup memberikan gambaran indahnya kawasan tersebut.

Setelah makan, obrolan kami pun mengalir ke berbagai topik. Mulai dari politik, sejarah, hingga cerita tentang silsilah keluarga keraton. Waktu berjalan tanpa terasa. Kami bahkan mengurungkan niat untuk berfoto di lantai dua karena kabut tak kunjung menghilang.

Pulang, Berpisah dengan Menyimpan Kenangan

Foto Kami di Depan Warung Batu Tulis (Dokumentasi Pribadi)
Foto Kami di Depan Warung Batu Tulis (Dokumentasi Pribadi)

Sekitar pukul 16.00, kami mulai beranjak. Sebelum benar-benar turun, kami menyempatkan diri mengambil beberapa foto dan merekam konten sederhana di area luar. Kabut putih yang menyelimuti pepohonan justru menciptakan suasana yang dramatis dan berbeda.

Setengah jam kemudian, kami melanjutkan perjalanan turun. Di tengah perjalanan, kami mampir ke sebuah masjid untuk menunaikan salat Asar sebelum melanjutkan perjalanan pulang. Perjalanan kembali berlangsung tenang tanpa banyak obrolan. Hingga tanpa terasa, mobil sudah kembali sampai di rumah saya.

Kami berpamitan singkat sebelum mereka kembali menuju titik kumpul awal. Sementara saya masuk ke rumah, membawa serta cerita sederhana dari perjalanan hari itu. Meski tidak mendapatkan pemandangan terbaik, perjalanan ke Warung Batu Tulis tetap menyisakan kesan hangat. Tentang silaturahmi yang kembali terjalin dan kenangan yang kembali dibuat setelah sekian lama tertunda.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda