Ulasan
Masih dengan Persantetan, Sebagus Apa Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa?
Seringnya, horor Indonesia identik dengan teror supranatural yang sebatas menakut-nakuti. Namun, kali ini Film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa rilis dengan sesuatu yang sedikit berbeda. Yup, film ini nggak hanya bicara soal santet dan balas dendam, tapi juga tentang ketakutan yang lebih nyata. Yakni, kekuasaan yang menindas dan ketidakberdayaan rakyat kecil.
Disutradarai Azhar Kinoi Lubis dan ditulis Jujur Prananto bersama Ferry Lesmana serta Sunil Soraya, film ini menghadirkan deretan aktor kuat yang di antaranya: Luna Maya, Reza Rahadian, Clift Sangra, hingga Djenar Maesa Ayu.
Mantap, deh! Berkisah tentang apa memang? Kepoin, yuk!
Sinopsis Film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa
Sobat Yoursay bakal diajak masuk ke Desa Karang Setan, tempat di mana ketakutan bukan datang dari makhluk halus, tapi dari manusia itu sendiri.
Suzzanna (Luna Maya) dan warga desa hidup di bawah kekuasaan Bisman (Clift Sangra), juragan kejam yang menjerat mereka dengan utang nggak masuk akal dan kekerasan tanpa ampun.
Suatu ketika keluarga Suzzanna dihancurkan; ayahnya tewas akibat santet dan ibunya tertindas. Situasi semakin memburuk saat Bisman berusaha memilikinya secara paksa. Bahkan, Bisman menggunakan santet untuk menghilangkan ingatan Suzzanna demi menundukkannya.
Penderitan Suzzanna membuatnya penuh amarah dan di situlah titik baliknya. Suzzanna mulai mempelajari ilmu hitam dari Nyi Gayatri (Djenar Maesa Ayu), dan perlahan berubah menjadi sosok yang membalas semua dosa dengan cara yang jauh lebih mengerikan.
Sekilas ceritanya biasa saja, tapi ….
Review Film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa
Jujurly, buatku, yang paling menarik ada buka terletak pada horor yang dijanjikan, tapi lebih ke konteks sosial yang dibawanya.
Ada satu momen ketika Pramuja (Reza Rahadian) menyerukan perlawanan terhadap penindasan. Di situ, aku merasa film ini seperti ‘berbicara’ langsung ke realita. Pesannya sampai, terkait ‘ketakutan terbesar manusia kadang bukan dari makhluk gaib, melainkan sesama manusia’.
Balas dendam Suzzanna pun nggak digambarkan secara asal brutal. Sebaliknya, dia menggunakan strategi. Dia memecah belah musuhnya, menanamkan rasa curiga, dan membuat mereka saling menghancurkan.
Buatku ini menarik. Karena ‘perempuan’ di sini nggak hanya digambarkan sebagai korban atau monster, tapi sebagai sosok cerdas yang mengendalikan permainan.
Namun, aku juga nggak bisa menutup mata dengan beberapa kekurangan film ini. Durasi ±135 menit terasa terlalu panjang untuk ukuran film horor. Memang betul, durasi panjang itu bisa memperkuat cerita bahkan emosi yang ingin disampaikan ke penonton, tapi bila jatuhnya terkesan dipanjang-panjangkan itu jatuhnya mubazir durasi.
Ada beberapa adegan yang seharusnya bisa dipangkas saking bertele-telenya dan mengurangi intensitas. Bahkan, di beberapa titik, aku mulai kehilangan ketegangan yang sebelumnya sudah dibangun dengan cukup baik.
Humornya juga agak mengganggu. Ada momen yang terlalu dipaksakan lucu. Kayak gimmick ‘kopi kencing kuda’, yang malah membuat alur terasa keluar jalur. Meski begitu, kehadiran Azis Gagap masih cukup menghibur, terutama saat digunakan untuk mengeksplorasi sisi lain kekuatan Suzzanna.
Dari segi akting, Luna Maya kembali membuktikan dirinya layak menyandang ikon horor. Tatapan mata dan senyum janggalnya benar-benar menghidupkan karakter Suzzanna. Walaupun, menurutku, penggunaan prostetik di wajah sedikit membatasi ekspresi wajahnya. Ya mau gimana lagi, hanya dengan prostetik itulah Luna Maya jadi mirip Suzzanna. Ups.
Di sisi lain, Reza Rahadian jadi elemen yang ngasih ‘jiwa’ pada film ini. Perannya sebagai penyeimbang moral terasa kuat dan emosional. Aku bahkan merasa film ini jadi lebih dalam setiap kali kamera menyorot close-up ekspresinya
Oh, iya, aku pun salut dengan bagaimana film ini nggak menghakimi balas dendam Suzzanna. Bisa dibilang, Suzzanna nggak diposisikan sebagai sepenuhnya benar, tapi juga nggak disalahkan. Film ini seperti memahami bahwa dalam kondisi tertentu, melawan adalah satu-satunya pilihan yang tersisa.
Untuk keseluruhan, Film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa bukan horor biasa. Barangkali masih memiliki kelemahan dari segi pacing dan konsistensi tone, tapi keberaniannya mengangkat isu penindasan dan memberi sudut pandang pada korban membuatnya terasa lebih ‘berisi’ dibanding banyak horor lokal lainnya.
Buatku, ini adalah film horor edisi lebaran 2026 yang layak banget Sobat Yoursay tonton di bioskop. Selamat nonton, ya.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS