Ulasan

Menyusuri Lorong Waktu dan Mental dalam Buku Puisi Sarinah Karya Esha Tegar

Menyusuri Lorong Waktu dan Mental dalam Buku Puisi Sarinah Karya Esha Tegar
Buku Puisi Sarinah Karya Esha Tegar (dok pribadi/Dimas Rahmat Naufal Wardhana)

Sebagai seorang yang sehari-harinya bergulat dengan kata, saya termasuk pembaca yang agak skeptis dengan buku puisi. Banyak yang indah, tapi sedikit yang benar-benar membekas. Buku puisi Sarinah, karya Esha Tegar menjadi salah satu buku puisi yang dicari. Penulis buku ini juga meraih Penghargaan Kusala Sastra Katulistiwa pada 2025 lewat karya novelnya Hantu Padang, sebuah bukti bahwa namanya layak diperhitungkan di dunia sastra Tanah Air.

Buku dalam sampul tipis setebal 100 halaman yang terbit pada April 2016 ini hadir bukan sebagai bacaan ringan di waktu senggang, melainkan ajakan untuk berkelana menyusuri lorong waktu dan ruang yang sarat makna.

Lalu, apa bedanya dengan kumpulan puisi lain? Keunikan utamanya terletak pada caranya merekam denyut kota. Layaknya seorang petualang yang juga peneliti, cara bertutur Esha begitu mengalir dengan diksi yang pas, mudah dinikmati tapi tetap punya daya renung. 

Bukan narasi besar seperti tentang pahlawan atau mitos, ia memilih hal-hal kecil yang intim, yang mungkin luput dari kita lihat sehari-hari. Ia adalah seorang antropolog yang juga penyair. Perantauan yang melatari banyak puisi di dalamnya, terutama dengan latar Jakarta dan Sumatera, bukan sekadar cerita perpindahan fisik, melainkan pergulatan batin antara memori masa lalu dan kerasnya kehidupan urban masa kini.

Pendekatan ini sangat khas. Ia bermain di antara kenyataan dan kenangan, kerancuan antara hari di masa depan dan hari kemarin saat masa lalu, menciptakan ruang di mana masa lalu dan masa depan bertabrakan dalam hari saat ini.

Bayangkan saat kita berjalan di Thamrin yang macet, tiba-tiba kita memikirkan sebuah kenangan terbang ke masa kecil di pedesaan Sumatera. Itulah tegangan yang ia ciptakan. Hal ini menggambarkan Aku sebagai penyair di dalamnya bahkan bisa berubah wujud, menjadi apa pun yang ia temui.

Saya meihat setiap kata-katanya memosisikan benda-benda materiil seperti palu dan pintu, bukan sebagai penghias semata, tapi sebagai aktor yang penuh riwayat, yang kadang mengancam dan memukul. Hasilnya, puisi-puisi romantis menjadi terasa berat, terseret-seret, dan kaya akan konflik batin.

Puisi di buku ini bukanlah mantra penenang instan. Puisi di sini adalah ruang aman untuk menghadapi rasa. Satu puisi yang membuat saya merasa pedih sekaligus membekas adalah Cikini Sebuah Pagi. Puisi tersebut sangat jenius dalam menggambarkan perubahan zaman, kontras antara dulu dan sekarang, serta bagaimana ruang yang berubah dapat memantik kenangan.

Bagi saya, puisi Cikini sebuah pagi bukanlah tentang nostalgia yang sendu, tetapi sebuah kenyataan hidup. Ini adalah kenangan tentang sebuah tempat yang telah didatangi, kemudian tentang diri sendiri yang ikut berubah. Di era 2025 dan 2026, isu kesehatan mental menjadi “kekayaan baru” yang mulai disadari, terutama oleh Generasi Z.

Sastra puisi seperti ini memberikan legitimasi pada perasaan kecil yang sering kita kubur dengan perasaan kehilangan, kebingungan, dan kegelisahan menghadapi masa depan yang tak menentu. Dengan membaca puisi Esha, kita seperti diajak menyalakan lampu di dalam luka, merawat rasa tanpa harus memadamkannya.

Pendekatannya adalah kesadaran bahwa sebuah puisi adalah pengetahuan manusia dengan lingkungan. Ia memilih sekarat alih-alih mendayu. Ia menggambarkan cinta bukan dengan rayuan manis, tapi dengan nada yang berat karena dibebani oleh pertanyaan-pertanyaan eksistensial. Inilah yang membuat Sarinah terasa begitu segar dan berbeda.

Ada sebuah bayangan menarik seperti musuh terbesarnya adalah dirinya sendiri. Konflik ini begitu terasa dan membuat setiap puisi terasa jujur. Tak heran jika seorang pembaca merasa “dilempar ke tempat asing” saat membaca puisinya, atau merasakan gelitik refleksi yang mengajaknya untuk melihat lebih dalam tentang perjalanan hidup dan kerumitannya.

Lalu, apa yang tersisa setelah menamatkan 100 halaman puisi ini? Dampak terbesarnya adalah rasa tercermin. Buku ini seperti kaca spion. Setelah membacanya, kita akan lebih peka terhadap keramaian, hiruk-pikuk, dan ironi di sekitar lingkungan kita. Kemudian akan bertanya, "Apakah aku ini sedang merantau atau benar-benar hidup?"

Dampak nyatanya, sebagai pembaca buku puisi ini jadi tidak sendirian dalam rasa hening. Kita akan merasa bahwa perasaan terbelah antara harapan dan kenyataan itu wajar. Membaca puisi ini terasa seperti sedang melakukan terapi ringan.

Buku puisi ini memberi pelajaran nyata bahwa sepi dan bising kota bisa jadi sahabat karib sekaligus musuh terbesar. Setelah tamat, kita bukan hanya mendapat koleksi kata-kata indah, tetapi juga sebuah perspektif baru untuk memandang diri sendiri dan tempat kita berpijak.

Identitas Buku:

  • Judul: Sarinah
  • Penulis: Esha Tegar Putra
  • Penerbit: Gramedia Widiasarana Indonesia
  • Terbit: April 2016
  • ISBN: 9786023756308
  • Jenis: Sastra Puisi

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda