Ulasan
Novel Salah Asuhan, Benturan Budaya Barat dan Nilai Tradisional Minangkabau
Novel Salah Asuhan ditulis oleh Abdoel Moeis, seorang tokoh pergerakan nasional. Novel ini melampaui batas-batas kisah cinta tragis dengan menyentuh isu-isu fundamental mengenai identitas, benturan budaya (Barat dan Timur), serta kritik sosial terhadap sistem kasta rasial di Hindia Belanda.
Cerita berpusat pada tokoh Hanafi, seorang pemuda Minangkabau yang beruntung mendapatkan pendidikan Barat yang tinggi berkat bantuan ibunya dan seorang asisten residen Belanda. Namun, pendidikan ini justru menjadi bumerang. Hanafi tumbuh menjadi sosok yang memuja budaya Barat secara berlebihan hingga merasa asing dengan budayanya sendiri. Ia merasa dirinya lebih "Eropa" daripada orang Belanda itu sendiri, sebuah fenomena yang sering disebut sebagai mimikri dalam teori pascakolonial.
Konflik memuncak ketika Hanafi menolak menikah dengan sepupunya, Rapiah, demi mengejar cintanya kepada Corrie du Bussee, seorang gadis peranakan Belanda yang merupakan teman masa kecilnya. Hubungan mereka berakhir tragis karena perbedaan pandangan hidup, rasisme sistemik, dan ketidakmampuan Hanafi untuk menyeimbangkan dualitas identitasnya.
Hanafi adalah tokoh yang memicu rasa kesal sekaligus simpati. Abdoel Moeis menggambarkan Hanafi sebagai produk dari sistem pendidikan yang hanya memberikan aspek kognitif Barat tanpa memperkuat akar moral atau budaya lokal. Hanafi menderita apa yang disebut sebagai krisis identitas akut. Baginya, menjadi "maju" berarti harus membuang segala hal yang berbau "Melayu" atau "Pribumi". Ketidakhormatannya terhadap ibunya dan Rapiah menunjukkan betapa pendidikan yang ia terima telah mencabut nilai-nilai kemanusiaan dasar demi egoisme intelektual.
Corrie adalah karakter yang sangat menarik. Sebagai seorang Indo (peranakan), ia berada di posisi yang serba salah. Ia mencintai Hanafi, namun ia sadar bahwa dalam struktur sosial kolonial, pernikahan antara seorang "Inlander" dengan seorang Eropa akan mendatangkan cemoohan. Corrie mewakili kebebasan berpikir Barat, namun ia juga menjadi korban dari prasangka rasial yang kaku pada masa itu.
Rapiah dan ibu Hanafi adalah antitesis dari Hanafi. Mereka mewakili nilai-nilai tradisional yang sabar, tulus, dan berpegang teguh pada adat. Melalui Rapiah, Moeis menunjukkan martabat seorang perempuan yang disia-siakan. Meskipun ia tidak berpendidikan Barat, ia memiliki kekayaan hati yang tidak dimiliki Hanafi.
Tema utama novel ini adalah kegagalan akulturasi. Abdoel Moeis tidak sedang mengatakan bahwa budaya Barat itu buruk, melainkan ia mengkritik cara seseorang menyerap budaya tersebut. Judul Salah Asuhan merujuk pada kesalahan dalam mendidik anak sehingga ia kehilangan jati diri.
Hanafi terjebak dalam ruang antara, ia bukan lagi orang Minang yang taat adat, namun ia juga tidak akan pernah benar-benar diakui sebagai orang Belanda oleh masyarakat kolonial. Ketidakpastian posisi sosial ini membuatnya menjadi pribadi yang kasar, tidak puas, dan akhirnya depresi. Novel ini secara tajam menggambarkan bahwa meniru penampilan dan gaya hidup bangsa lain tanpa memahami esensi atau menghargai asal-usul sendiri hanya akan berujung pada kehampaan.
Sebagai seorang aktivis Sarekat Islam, Abdoel Moeis menyisipkan kritik tajam terhadap kebijakan pemerintah kolonial. Status "Gelijkgesteld" (persamaan hak hukum dengan orang Eropa) yang didapatkan Hanafi terbukti hanya berupa kertas formalitas. Dalam realitas sosial, warna kulit dan asal-usul tetap menjadi penentu kelas.
Selain itu, Moeis juga mengkritik beberapa praktik adat yang kaku, namun ia tetap menempatkan adat sebagai benteng moral. Pesan tersiratnya adalah kemajuan (modernitas) seharusnya berjalan beriringan dengan identitas nasional, bukan dengan menghancurkannya.
Meskipun ditulis dalam bahasa Melayu tinggi khas era Balai Pustaka, narasi Moeis terasa sangat dinamis dan emosional. Penggunaan dialog antara Hanafi dan Corrie sering kali menggunakan logika berpikir Barat yang tajam, sementara dialog dengan ibunya penuh dengan pepatah-petitih Minangkabau yang dalam. Kontras kebahasaan ini mempertegas jurang komunikasi yang dialami para tokohnya.
Moeis sangat mahir dalam membangun suasana dramatis. Pembaca bisa merasakan kepedihan Rapiah saat ditinggalkan, atau kegilaan Hanafi saat kehilangan Corrie. Akhir cerita yang tragis, kematian Corrie dan bunuh diri Hanafi memberikan efek katarsis yang kuat, menegaskan bahwa kesalahan dalam "pengasuhan" identitas bisa berakibat fatal.
Mengapa kita masih perlu membaca buku Salah Asuhan? Di era globalisasi, tantangan yang dihadapi Hanafi masih sangat relevan. Saat ini, banyak orang yang lebih bangga menggunakan atribut budaya asing demi terlihat "keren" atau "modern" sambil merendahkan budaya sendiri.
Pendidikan tanpa karakter hanya akan menciptakan pribadi yang pongah. Modernitas tidak harus berarti Westernisasi. Kita bisa menjadi modern dengan tetap berpijak pada nilai-nilai lokal. Identitas adalah jangkar. Tanpanya, seseorang akan terombang-ambing dalam arus perubahan zaman.
Salah Asuhan adalah sebuah mahakarya yang berhasil memotret kegelisahan psikologis manusia yang terjepit di antara dua dunia. Abdoel Moeis dengan sangat brilian menunjukkan bahwa tragedi terbesar seseorang bukanlah kemiskinan, melainkan kehilangan diri sendiri. Novel ini tetap menjadi bacaan wajib bagi siapa pun yang ingin memahami sejarah perkembangan jati diri bangsa Indonesia. Melalui kisah Hanafi, kita diajak untuk bercermin, sudahkah kita mendidik diri kita dengan benar, ataukah kita juga sedang terjerat dalam "salah asuhan" versi modern?
Identitas Buku
- Judul: Salah Asuhan
- Penulis: Abdoel Moeis
- Penerbit: Balai Pustaka
- Tanggal Terbit: 1 Januari 2000
- Tebal: 262 Halaman