Ulasan

Dunia Milik Siapa? Bedah Rahasia Penguasa Bareng Noam Chomsky

Dunia Milik Siapa? Bedah Rahasia Penguasa Bareng Noam Chomsky
Buku Who Rules the World (Doc. pribadi/Chairun Nisa)

Akhir-akhir ini, berbagai platform media sosial diramaikan oleh isu konflik global, mulai dari ketegangan Iran, Israel, hingga Amerika Serikat. Informasi yang beredar pun sering kali simpang siur, bercampur antara fakta dan hoaks, sehingga tidak mudah bagi publik untuk memilah kebenaran. Dalam situasi seperti ini, penting bagi kita untuk memiliki pijakan pemahaman yang lebih mendalam. Salah satu buku yang relevan untuk dibaca adalah Who Rules the World? karya Noam Chomsky.

Buku ini mengajak pembaca memahami bagaimana dinamika kekuasaan global bekerja. Melalui analisis yang tajam, Chomsky mengulas berbagai peristiwa dunia—mulai dari kebangkitan Tiongkok, sanksi terhadap Iran, konflik di perbatasan Rusia, hingga penjajahan Israel atas Palestina. Semua itu disajikan sebagai hasil refleksi panjang seorang intelektual yang konsisten mengkritisi struktur kekuasaan dunia.

Terdiri dari 23 esai, buku ini membuka dengan pembahasan tentang tanggung jawab intelektual. Chomsky mempertanyakan siapa yang layak disebut sebagai “intelektual” dalam pengertian modern—apakah penulis, ilmuwan, profesor, atau pihak lain yang memiliki pengaruh terhadap opini publik. Ia juga menyinggung pemikiran tokoh seperti John Dewey, yang melihat perang sebagai sarana pembelajaran sosial. Bagi Chomsky, kaum intelektual memiliki privilese sekaligus tanggung jawab moral yang besar dalam menyuarakan kebenaran.

Dalam salah satu bab berjudul The Terrorist Wanted Around the World, Chomsky membahas sosok Imad Mughniyeh dan bagaimana kematiannya disambut oleh sebagian pihak. Ia kemudian mengajak pembaca melihat kembali sejarah terorisme secara lebih luas, termasuk tindakan-tindakan yang dilakukan oleh negara besar seperti Amerika Serikat. Dari sini, muncul pertanyaan provokatif: siapa sebenarnya yang layak disebut sebagai “teroris” di panggung global?

Bab lain seperti Torture Memos mengungkap praktik penyiksaan yang dilegalkan melalui kebijakan resmi pemerintah Amerika Serikat pada era tertentu. Chomsky juga menyoroti kemerosotan dominasi Amerika, munculnya kekuatan baru seperti Tiongkok, serta bagaimana Iran dipandang sebagai ancaman, terutama karena pengembangan program nuklirnya.

Sementara itu, dunia Barat kerap memahami bahwa berbagai operasi militer Amerika Serikat dianggap sebagai upaya menjaga stabilitas global, bukan sebagai bentuk provokasi. Cara pandang ini seolah menempatkan Amerika sebagai “penjaga ketertiban dunia”. Hal ini terlihat dari keberadaan pangkalan militer Amerika di berbagai negara. Bahkan, meskipun menghadapi penolakan warga lokal seperti di Okinawa, Jepang, pembangunan pangkalan militer tetap dilakukan.

Dalam pandangan Noam Chomsky, sejumlah kegagalan geopolitik seperti kehilangan pengaruh di Tiongkok dan Vietnam turut menjadi faktor kemerosotan dominasi Amerika. Ia juga menyoroti dampak invasi ke Indochina pada 1965 yang berimbas hingga Indonesia melalui kudeta militer yang dipimpin oleh Suharto. Peristiwa tersebut memicu kekerasan massal terhadap kelompok yang dituduh terlibat dengan partai politik tertentu, yang sebagian besar berasal dari kalangan masyarakat miskin.

Chomsky membandingkan tragedi tersebut dengan berbagai peristiwa kelam dalam sejarah dunia sebagai kritik terhadap cara pandang politik global yang sering kali selektif. Ia juga menyinggung bagaimana figur seperti Suharto pernah dianggap sebagai sekutu strategis oleh Amerika Serikat. Selain itu, praktik operasi militer modern seperti penggunaan drone pada era Barack Obama juga disorot sebagai bentuk baru dalam dinamika terorisme global yang kerap luput dari perhatian luas.

Chomsky juga menjelaskan alasan di balik kuatnya dukungan Amerika Serikat terhadap Israel dibanding Palestina. Menurutnya, Israel dipandang sebagai sekutu strategis dengan kekuatan ekonomi, teknologi, dan militer yang maju, sekaligus berperan dalam menjaga kepentingan geopolitik Amerika di kawasan Timur Tengah, termasuk dalam menghadapi pengaruh tokoh seperti Gamal Abdel Nasser dan gerakan nasionalisme Arab.

Dari keseluruhan pembahasan tersebut, Chomsky pada dasarnya menunjukkan bahwa kebijakan luar negeri Amerika Serikat, terutama pasca-9/11, tidak bisa dilepaskan dari upaya mempertahankan dominasi global. Ia juga menekankan bahwa kekuasaan dunia modern tidak hanya dijalankan oleh negara, tetapi juga oleh korporasi besar, institusi keuangan, serta aliansi militer. Dalam banyak kasus, retorika tentang demokrasi, hak asasi manusia, dan kebebasan sering kali tidak berjalan seiring dengan praktik di lapangan, seperti intervensi militer, dukungan terhadap rezim tertentu, maupun penerapan sanksi ekonomi. Melalui berbagai contoh konkret—mulai dari Irak, Afghanistan, Iran, Kuba, hingga konflik Israel–Palestina—buku ini memperlihatkan bagaimana struktur kekuasaan global bekerja dan siapa saja yang memiliki pengaruh di dalamnya.

Kekuatan utama buku ini terletak pada kekayaan data dan referensi. Chomsky menyusun argumennya dengan dukungan sejarah, fakta, dan analisis yang mendalam, sehingga pembaca diajak melihat dunia dari sudut pandang yang lebih kritis.

Buku ini juga berhasil menggugah pembaca untuk mempertanyakan narasi umum tentang “negara adidaya sebagai pembela kebebasan”. Ia membuka sisi lain yang jarang dibahas, yakni bagaimana kepentingan politik dan ekonomi sering kali menjadi faktor utama dalam kebijakan luar negeri.

Namun demikian, gaya penulisan Chomsky cenderung sangat kritis dan terkadang terasa satu arah. Beberapa pembaca mungkin merasa bahwa sudut pandangnya terlalu berfokus pada kritik terhadap Amerika Serikat, tanpa banyak membahas kompleksitas faktor internal negara lain.

Cocok untuk pembaca awam, dengan catatan. Di satu sisi, buku ini memberikan gambaran luas tentang sejarah dan politik global kontemporer serta ditulis oleh tokoh berpengaruh dengan analisis yang kuat, sehingga bisa menjadi pintu masuk yang baik untuk memahami isu-isu dunia secara kritis. Namun di sisi lain, beberapa bagian mungkin terasa cukup berat bagi pemula dan membutuhkan pemahaman dasar tentang sejarah serta politik internasional. Karena itu, buku ini lebih cocok dibaca secara perlahan, bahkan bila perlu disertai referensi tambahan agar konteksnya lebih mudah dipahami.

Kesimpulan

Who Rules the World? merupakan buku yang sangat layak dibaca bagi siapa pun yang ingin memahami bagaimana dunia bekerja di balik layar kekuasaan. Buku ini tidak hanya menyajikan informasi, tetapi juga melatih cara berpikir kritis dalam melihat realitas global.

Di tengah derasnya arus informasi yang sering membingungkan, buku ini dapat menjadi salah satu pegangan penting untuk memahami dunia dengan perspektif yang lebih jernih—tentu dengan tetap disertai sikap kritis dari pembacanya.

Identitas Buku

  • Judul: Siapa yang Mengangkangi Dunia
  • Penulis: Noam Chomsky
  • Penerbit: Bentang Pustaka
  • Edisi: Edisi III
  • Cetakan: Cetakan Pertama, Juni 2025
  • ISBN: 978-623-186-494-9
  • Asal Judul: Who Rules the World (terjemahan dari edisi asli)

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda