Ulasan
Siklus Kekuasaan dalam Animal Farm: Cermin Retak Realitas Indonesia
Buku ini sebenarnya sudah cukup lama mendekam di keranjang belanja online saya, dipicu oleh "racun" seorang teman yang terus meyakinkan betapa relevannya Animal Farm dengan realitas sosial-politik Indonesia.
Kisahnya mencerminkan siklus kekuasaan: dari upaya menggulingkan rezim yang tidak adil, hingga pada akhirnya kekuasaan baru justru mengulang pola yang sama—bahkan lebih buruk.
Beruntung, saya akhirnya berkesempatan membacanya setelah dipinjami, tepat di tengah padatnya jadwal perkuliahan. Ada kejadian lucu saat itu; cover edisi Kakatua yang tampak manis dan "polos" sempat membuat dosen mengira saya sedang membaca dongeng fabel untuk anak-anak. Padahal, isi di baliknya jauh sekali.
Revolusi yang Dikhianati
Kisah ini bermula dari pemberontakan para hewan di Peternakan Manor milik Tuan Jones. Terinspirasi oleh gagasan kebebasan dari Old Major, babi tua yang menjadi alegori Karl Marx, para hewan berhasil mengusir manusia dan mengambil alih peternakan demi cita-cita kesetaraan.
Namun, bagi saya, narasi ini justru menjadi cermin retak bagi sejarah pemerintahan kita sendiri. Kita melihat bagaimana sebuah rezim digulingkan demi keadilan, namun penguasa baru yang dulunya menggembar-gemborkan perubahan justru berakhir jauh lebih tiran.
Tujuh Sila yang awalnya menjadi dasar "Hewanisme" perlahan dimodifikasi demi kepentingan elit, hingga akhirnya tersisa satu baris paling ironis: “Semua hewan sama derajatnya, tetapi beberapa hewan derajatnya lebih dari yang lain.”
Alegori Tokoh: Dari Diktator hingga Buzzer
Kekuatan utama novel ini terletak pada alegorinya yang sangat tajam dalam membedah watak kekuasaan. Napoleon hadir sebagai representasi pemimpin otoriter (merujuk pada Stalin), yang didukung oleh anjing-anjing peliharaannya sebagai simbol kekuatan militer untuk membungkam kritik.
Namun, tokoh yang paling membuat saya geram justru adalah Squealer. Ia adalah mesin propaganda hidup; sosok yang lihai memutarbalikkan fakta dan membuat kebohongan terdengar masuk akal. Dalam konteks modern, Squealer tak ubahnya "buzzer" politik yang bekerja tanpa lelah demi menjaga citra penguasa tetap suci di mata publik.
Nasib karakter lain pun meninggalkan kesan yang mendalam sekaligus menyakitkan. Ada Snowball, sang visioner yang idealis namun harus tersingkir karena intrik politik, yang membuat kita bertanya: apakah arah revolusi akan berbeda jika ia tetap memimpin?
Di sisi lain, ada Boxer, kuda pekerja keras yang menjadi simbol kelas pekerja yang loyal tanpa kritik. Prinsipnya yang naif, “Napoleon selalu benar,” justru membawanya pada akhir yang tragis di tangan jagal. Sementara itu, Clover mewakili masyarakat biasa yang sebenarnya menyadari ada yang salah, namun kehilangan daya dan suara untuk melawan arus penindasan.
Simbolisme Lagu: Antara Harapan dan Pelarangan
Salah satu aspek yang paling terasa "Indonesia sekali" adalah nasib lagu Beasts of England (Binatang Inggris). Awalnya, lagu ini adalah mars pembebasan yang diajarkan oleh Old Major untuk menginspirasi pemberontakan. Namun, begitu Napoleon berkuasa penuh, lagu ini dilarang total.
Alasannya? Karena pemberontakan sudah selesai, maka lagu tentang kebebasan tidak lagi dibutuhkan—bahkan dianggap berbahaya karena bisa memicu hewan untuk memberontak lagi melawan babi.
Momen pelarangan ini mengingatkan saya pada lagu-lagu pergerakan di tanah air, seperti "Buruh Tani" atau bahkan "Genjer-Genjer" yang pernah memiliki sejarah panjang pelarangan karena dianggap sebagai ancaman bagi stabilitas rezim tertentu.
Melalui lagu, Orwell menunjukkan betapa penguasa sangat takut pada seni yang mampu membangkitkan kesadaran massa. Lagu yang dulunya adalah penyemangat, tiba-tiba menjadi barang terlarang yang bisa membuat penyanyinya dieksekusi.
Patahnya semangat hewan saat lagu ini diganti dengan lagu pujian untuk Napoleon adalah gambaran nyata bagaimana identitas dan idealisme sebuah bangsa bisa perlahan-lahan dihapus oleh penguas
Propaganda dan Apatisme Massa
Orwell juga dengan cerdas menghadirkan karakter pendukung yang memperkaya kritik sosialnya. Benjamin, keledai cerdas yang memilih bersikap apolitis dan apatis—mencerminkan kaum intelektual yang paham situasi namun memilih diam.
Ada pula Moses si gagak sebagai simbol institusi agama yang menawarkan harapan akan "dunia lain" demi meredam amarah hewan yang tertindas.
Tak lupa, kawanan domba yang terus mengulang slogan penguasa menjadi gambaran nyata bagaimana massa yang mudah dipengaruhi propaganda bisa menjadi senjata paling ampuh untuk merusak nalar kritis.
Penutup
Bagian paling menghantui adalah ending-nya. Saat babi-babi mulai berdiri dengan dua kaki dan bernegosiasi dengan manusia, batas antara "pemberontak" dan "penindas" hilang total. Kutipan penutupnya sangat legendaris: “Mereka sudah tidak bisa membedakan, yang mana babi dan yang mana manusia.”
Rasa hampa ini mengingatkan saya pada sejarah panjang negeri kita. Dari perjuangan kemerdekaan, era Orde Lama, hingga Reformasi menumbangkan Orde Baru. Ironisnya, beberapa menteri yang kini duduk di kekuasaan dulunya adalah mahasiswa yang ikut turun ke jalan berteriak turunkan Soeharto.
Lagu lagu yang dilarang ibaratnya, siklusnya persis seperti di Peternakan Manor; mereka yang dulu melawan penindas, kini justru tampak serupa dengan apa yang mereka lawan, sementara nasib kaum buruh tetap terhimpit.
Bagi kita orang Indonesia, membaca Animal Farm adalah kewajiban agar tidak mudah kaget dengan pola kekuasaan yang ada. Memahami pola ini bukan berarti pasrah atau paranoid, melainkan agar kita tetap tenang dan kritis di tengah propaganda yang riuh—termasuk saat menghadapi isu panas yang memicu demo besar seperti Agustus 2025.
Identitas Buku
Judul: Negeri Binatang (Animal Farm)
Penulis: George Orwell
Penerbit: Kakatua
Penerjemah: Mahbub Djunaidi