Ulasan

Rahasia 'Kalau Saja Kalian Tahu': Harga Mahal Menjadi Kelompok Orang Dalam

Rahasia 'Kalau Saja Kalian Tahu': Harga Mahal Menjadi Kelompok Orang Dalam
Novel They Wish They Were Us ( Dok. Pribadi/Chairun Nisa)

Dunia fiksi remaja akhir-akhir ini sering kali digoda oleh gemerlapnya kehidupan kelas atas yang dipadukan dengan misteri pembunuhan yang kelam. Formula ini pula yang coba diangkat oleh Jessica Goodman dalam novelnya yang berjudul They Wish They Were Us, atau yang dalam edisi terjemahan Indonesia bertajuk Kalau Saja Kalian Tahu. Namun, saat kita menyelami lembar demi lembar halamannya, kita akan menemukan sebuah potret yang jauh lebih kompleks sekaligus menyisakan beberapa catatan kritis mengenai eksekusinya.

Bagi saya, novel ini tergolong susah dipahami dan sama sekali enggak asyik untuk diikuti. Alurnya yang melompat-lompat berpadu dengan karakter-karakter yang menyebalkan membuat proses membaca buku ini terasa layaknya sebuah sesi menyiksa diri yang melelahkan.

Goodman membuka cerita ini tidak dengan ketegangan yang menghentak, melainkan dengan atmosfer kedukaan yang canggung dan penuh kepalsuan. Bab-bab awal novel sepenuhnya berfokus pada persiapan upacara peringatan kematian Shaila Arnold yang diadakan oleh pihak sekolah Gold Coast Prep. Sebuah tradisi seremonial selama lima belas menit yang dipaksakan untuk selalu ada setiap tahunnya sampai angkatan Jill lulus. Melalui narasi di awal ini, pembaca langsung disuguhi kontras yang tajam: bagaimana kepala sekolah berpidato tentang betapa Shaila sangat menyukai matematika—padahal kenyataannya tidak sama sekali dan bagaimana orang-orang dewasa sibuk membangun narasi normatif demi kenyamanan mereka sendiri. Di balik itu semua, tak seorang pun di sekolah itu yang berani atau ingin mengingat nama Graham Calloway, sang pacar yang dituding sebagai pembunuh tunggal.

Prolog buku ini memberikan penegasan yang sinis tentang realitas tersebut: "Sungguh suatu keajaiban ada orang yang dapat keluar hidup-hidup dari SMA. Segala sesuatunya adalah risiko atau jebakan yang ditempatkan dengan baik." Kematian Shaila secara teknis dicatat akibat trauma benda tumpul, namun bagi Jill Newman—sahabatnya yang kini telah menjadi siswi senior sekaligus anggota inti dari kelompok paling elite bernama "Orang Dalam"—kematian itu menyisakan monster kemarahan dan pengkhianatan yang menggerogoti dari dalam.

Menjadi bagian dari Orang Dalam di sekolah super eksklusif ini sebenarnya berarti memegang tiket emas. Kelompok ini menempati kasta tertinggi dalam hierarki sosial sekolah yang menjamin undangan ke pesta-pesta paling liar, rasa segan dari adik kelas, guru-guru yang memilih menutup mata, bahkan bocoran kunci jawaban untuk semua mata pelajaran. Jalan Jill menuju kampus Ivy League idamannya seolah sudah terbentang mulus tanpa hambatan. Namun, semua kemewahan dan kebebasan absolut itu sebenarnya hanyalah topeng yang rapuh.

Seperti yang terefleksikan dalam salah satu kutipan kuat di halaman 174, "Kita semua hanya berpura-pura seolah-olah semuanya sempurna sepanjang waktu." Ketegangan cerita mulai memuncak ketika Jill menerima pesan misterius yang meminta bantuannya untuk membuktikan bahwa Graham sebenarnya tidak bersalah. Dari sinilah Jill terseret ke dalam dilema moral yang hebat. Jika dia memilih menyelidiki kebenaran, dia harus berhadapan dengan ancaman dari kelompoknya sendiri dan pihak sekolah yang tidak ingin skandal ini merusak reputasi mereka. Bagi Jill, yang sebenarnya adalah anak beasiswa dari keluarga pas-pasan, taruhannya terlalu besar. Dia terbelah antara keinginan mempertahankan masa depan yang aman demi membalas pengorbanan orang tuanya, atau mengikuti nuraninya demi mengungkap pembunuh Shaila yang sebenarnya—terutama setelah dia tahu bahwa Shaila sendiri menyimpan rahasia yang sangat gelap.

Bagi para pencinta genre misteri, novel ini mungkin akan memberikan reaksi yang sedikit berbeda di akhir cerita. Alih-alih dibuat tercengang atau terkejut oleh identitas pelaku, pembaca justru akan merasakan rasa sesak yang mendalam. Goodman cukup berhasil mengetuk empati pembaca saat menggambarkan betapa beratnya tekanan mental menjadi anak beasiswa di lingkungan orang kaya. Keinginan kuat untuk membuktikan diri, kebutuhan mendasar untuk diterima oleh kelompok elite, dan perasaan selalu merasa kurang padahal sudah berusaha sekuat tenaga, tersaji dengan sangat nyelekit. Kompas moral pembaca seolah ikut diuji melihat bagaimana cinta, dusta, dan duka berkelindan merusak masa muda karakter-karakternya.

Meski memiliki pesan moral dan penggambaran psikologis karakter utama yang kuat, novel ini tidak luput dari kekurangan teknis yang cukup mengganggu. Salah satu aspek yang paling banyak dikritik adalah alur misterinya yang terasa hambar dan mudah ditebak sejak awal. Karakter-karakter pendukung di sekitar Jill kurang dikembangkan dengan matang, sehingga tebakan pembaca mengenai siapa pembunuh asli Shaila menjadi terlalu sempit dan mudah diprediksi. Selain itu, gaya penceritaan yang dipenuhi oleh lompatan waktu dan kilas balik kerap kali membuat ritme membaca menjadi kurang nyaman karena beberapa konflik menarik justru diselesaikan di luar narasi utama. Hal ini puncaknya terasa pada bagian akhir cerita yang terkesan terburu-buru dan kurang matang dalam mengeksekusi keputusan besar seperti pembubaran kelompok Orang Dalam.

Terlepas dari kelemahan pada eksekusi plot misterinya, novel ini tetap menyisakan momen-momen yang menyentuh perasaan. Pesan terkuatnya muncul saat Jill merefleksikan bahwa tidak ada kegelapan mutlak di langit malam karena bintang-bintang akan selalu ada. Melalui untaian kalimat di halaman 428, "Bersama-sama, kami menatap kegelapan untuk menemukan cahaya," Goodman mengingatkan bahwa di tengah sistem yang korup dan lingkungan yang toksik sekalipun, harapan akan selalu ada selama kita berani menyalakan cahaya kebenaran. Bagi Anda yang menyukai drama remaja dengan atmosfer yang gelap dan penuh skandal sosial, kisah ini tetap menjadi sebuah bacaan yang cukup menggigit untuk dinikmati.

Identitas Buku
Judul: Kalau Saja Kalian Tahu (They Wish They Were Us)
Penulis: Jessica Goodman
Alih Bahasa: Rosi L. Simamora
Editor: Karina Anjani
Penerbit: Penerbit Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2025 (Cetakan Terjemahan Indonesia)
Tebal Buku: 432 halaman; 20 cm
ISBN: 978-602-06-8613-4

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda