Ulasan
Menjemput Damai di Kafe Dona Dona: Lika-liku Lintas Waktu Penuh Haru
Bagi para pencinta semesta Funiculi Funicula, nama Toshikazu Kawaguchi tentu sudah tidak asing lagi. Lewat sentuhan magisnya, ia kembali mengajak pembaca setianya melintasi waktu dalam buku ketiga yang berjudul Dona Dona. Jika dua buku sebelumnya berlatar di sebuah gang sunyi di sudut Tokyo, kali ini Kawaguchi membawa kita berpindah pelesir ke sebuah kafe di daerah lereng yang indah di Hakodate, Hokkaido.
Membaca Dona Dona rasanya seperti pulang ke rumah yang familier, namun dengan suasana baru yang menyegarkan. Format kafenya masih sama: menawarkan kesempatan magis untuk kembali ke masa lalu melalui sebuah kursi khusus. Aturan-aturan super ribet yang sempat membuat kita geleng-geleng kepala di buku pertama dan kedua pun tetap berlaku. Pengunjung tidak akan bisa mengubah kenyataan di masa kini, dan yang paling krusial, mereka harus menghabiskan kopi sebelum benar-benar dingin durasi singkat sekitar 15 menit yang menentukan segalanya.
Menariknya, buku ketiga ini bertindak sebagai penawar rasa penasaran yang sengaja digantung oleh penulis pada akhir buku kedua. Kita akhirnya mendapatkan jawaban atas teka-teki kehidupan Kazu yang tengah hamil, serta alasan mengapa Nagare bisa terdampar jauh di Hokkaido. Menariknya lagi, plot Dona Dona melompat maju sekitar 15 tahun ke masa depan, membuka ruang bagi dinamika baru dalam keluarga Tokita.
Empat Kisah, Satu Muara Penyesalan
Daya tarik utama novel-novel Kawaguchi selalu terletak pada manusia-manusia yang mengetuk pintu kafenya. Di Dona Dona, spektrum emosi yang dihadirkan terasa lebih luas sekaligus lebih kelam, karena seluruh perjalanan waktu di buku ini dipicu oleh satu hal mutlak: kematian.
Ada empat perjalanan waktu utama yang disajikan dengan alur maju-mundur yang rapi. Kita akan diajak menyelami batin seorang wanita muda yang didera dendam karena merasa ditinggalkan orang tuanya dalam kesepian. Lalu, ada kisah pilu komedian yang kehilangan arah hidup justru setelah berhasil mewujudkan mimpi mendiang istrinya. Di sudut lain, ada kekhawatiran tulus seorang adik akan senyuman kakaknya setelah ia tiada, hingga keberanian terakhir seorang pemuda demi menyatakan cinta terpendam kepada sahabatnya sendiri.
Meskipun premisnya terdengar sederhana tentang orang-orang yang didera penyesalan—Kawaguchi punya formula magis untuk membuat dada pembaca sesak. Buku ini membuktikan bahwa meskipun masa lalu tidak bisa diubah satu sentimeter pun, perspektif manusialah yang bertransformasi. Benci bisa berubah menjadi kagum, putus asa berganti menjadi semangat, dan keraguan menjelma jadi keberanian untuk melangkah.
Refleksi Lewat Lembaran Buku
Satu hal yang membuat Dona Dona terasa sangat istimewa dan personal bagi para pencinta literatur adalah kuatnya atmosfer buku di dalam cerita. Selain hantu kafe yang digambarkan selalu sibuk membaca, sepanjang cerita kita akan diajak menelusuri sebuah buku fiksi di dalam cerita yang berjudul Seratus Pertanyaan: Bagaimana Jika Esok Kiamat?.
Melalui buku misterius tersebut, kita disuguhi dialog-dialog kontemplatif mengenai kehidupan. Salah satu bagian paling berkesan muncul di bab penutup melalui karakter Nanako dan Reiji. Kutipan dari penulis Yukari Tokita di halaman akhir buku tersebut menjadi gong yang sangat menyentuh: kematian tidak seharusnya menjadi alasan seseorang untuk tidak bahagia. Kita diingatkan agar tidak kehilangan rasa syukur dan kebahagiaan hanya karena takdir perpisahan.
Secara keseluruhan, dengan halaman yang sedikit lebih tebal dari pendahulunya, Dona Dona tetap menjadi sebuah page-turner yang sanggup diselesaikan dalam sekali duduk. Novel ini berhasil menjadi pengingat yang hangat bagi kita untuk lebih menghargai kehadiran orang-orang tercinta di sekitar kita sebelum mereka benar-benar menjadi sebatas kenangan yang membekas.
Identitas Buku
Judul Buku: Dona Dona
Penulis: Toshikazu Kawaguchi
Alih Bahasa: Pegy Permatasari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2023
Jumlah Halaman: 264 halaman
ISBN: 978-602-06-7171-0