Ulasan

Film 'Senin Harga Naik': Saat Karier Sukses Harus Dibayar dengan Luka Lama Keluarga

Film 'Senin Harga Naik': Saat Karier Sukses Harus Dibayar dengan Luka Lama Keluarga
Poster Film Senin Harga Naik (IMDb)

Satu hal yang sering dilupakan di tengah ambisi dan tuntutan hidup: rumah bukan soal bangunan, tapi tentang siapa yang menunggu di dalamnya.

Pesan sederhana itu menjadi inti dari Film Senin Harga Naik, drama keluarga garapan Dinna Jasanti yang mencoba mengaduk emosi penonton lewat konflik yang terasa dekat dengan realita banyak orang.

Film Senin Harga Naik dibintangi Nadya Arina, Meriam Bellina, Andri Mashadi, Givina, serta Hamish Daud. Sementara departemen naskahnya ditangani Rino Sarjono.

Dengan jajaran bintangnya, mudah sekali menarik minat sinefil melirik film ini, terlebih dengan cerita yang diusung. Sobat Yoursay penasaran dengan detail ceritanya? Yuk, simak sampai akhir!

Sinopsis Film Senin Harga Naik 

Film yang tayang Lebaran 2026 ini mengikuti kisah Mutia (Nadya Arina), perempuan muda yang memilih kabur dari rumah karena merasa hidupnya terlalu dikendalikan sang ibu, Retno (Meriam Bellina), pemilik toko roti bernama Mercusuar.

Tiga tahun berlalu, Mutia menjelma menjadi sosok sukses di perusahaan properti. Dia piawai mempermudah proses penggusuran, meyakinkan pemilik rumah untuk melepas tempat tinggal mereka demi proyek besar.

Namun hidup rupanya nggak sesederhana yang dia kira. Suatu ketika Mutia mendapat tugas menggusur satu tempat yang sangat dia kenal: rumah sekaligus toko roti milik ibunya sendiri.

Di sisi lain, keluarga yang dia tinggalkan perlahan retak. Kakaknya, Amal (Andri Mashadi), memilih pergi setelah konflik dengan Retno, sementara adiknya, Tasya, harus bertahan menghadapi ibu mereka seorang diri.

Kali ini, Mutia dihadapkan pada pilihan yang nggak hanya soal karier, tapi juga tentang luka lama dan arti pulang.

Ceritanya terdengar simpel, bukan? Namun, Sobat Yoursay perlu tahu beberapa hal, terkait apa yang membuatnya layak kamu tonton. Kepoin bareng, yuk!

Review Film Senin Harga Naik 

Buatku, Senin Harga Naik bukan film yang mengejutkan dari segi cerita. Aku sudah bisa menebak ke mana arah konflik ini sejak awal.

Formula drama keluarga seperti ini memang terasa familier, bahkan beberapa elemen terkait konflik ibu-anak dan simbol kemiskinan terasa cukup klise. Memang begitu kok, tapi cerdiknya, film ini bermain nggak sebatas di ranah ngasih kejutan, melainkan ada di rasa.

Aku cukup tersentuh dengan cara Dinna Jasanti meracik momen-momen kecil. Nggak semuanya harus meledak-ledak, lho. Ada scene percakapan santai di depan toko roti yang justru terasa hangat dan manusiawi. Rasanya seperti mengintip kehidupan orang lain secara diam-diam.

Penampilan Nadya Arina menurutku mampu menyeimbangkan sisi emosional dan sedikit humor tanpa terasa berlebihan. Akan tetapi, yang benar-benar jadi pusat gravitasi film ini sebenarnya adalah Meriam Bellina.

Ada satu hal yang membekas. Senyum tipis dari karakter Retno. Bukan senyum bahagia, tapi lebih ke senyum yang menyimpan banyak hal. Kentara banget ada penyesalan, kasih sayang, dan ego seorang ibu yang sulit dilepaskan. Momen-momen kecil seperti itu jadi jendela untuk memahami karakternya.

Sayangnya, ketika film mendekati akhir, aku merasa semuanya berjalan terlalu cepat. Perubahan sikap karakter utama terasa dipadatkan, seolah-olah film kehabisan waktu untuk benar-benar membangun klimaks emosional yang lebih kuat. Harusnya bagian ini bisa jadi titik paling menyentuh, tapi terasa terburu-buru.

Sebagai drama keluarga, Film Senin Harga Naik tetap bekerja dengan cukup baik. Film ini mungkin nggak menawarkan sesuatu yang baru, tapi berhasil menyampaikan pesan yang relevan, terutama dalam konteks hubungan keluarga dan makna ‘pulang’. Semoga filmnya masih tayang di bioskop terdekat rumah Sobat Yoursay, ya. Selamat nonton. 

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda