Ulasan

Pesona Tragis Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck: Kisah Pilu Hayati-Zainuddin

Pesona Tragis Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck: Kisah Pilu Hayati-Zainuddin
Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (IMDB)

Ada beberapa film yang awalnya ditonton tanpa ekspektasi, tapi justru meninggalkan bekas paling dalam. Itulah yang saya rasakan saat pertama kali menonton film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck ketika kelas 3 SMA di jam pelajaran Bahasa Indonesia.

Jujur saja, awalnya saya mengira ini akan menjadi film “tugas sekolah” yang membosankan. Bahkan dari judulnya, saya sempat mengira ini film barat tentang tragedi kapal laut. Namun ternyata, saya dibuat diam sepanjang film dan pulang dengan mata bengkak karena terlalu banyak menangis memikirkan ending-nya.

Film garapan Sunil Soraya ini diadaptasi dari novel klasik karya Buya Hamka yang terinspirasi dari tragedi nyata tenggelamnya kapal Van der Wijck di perairan Lamongan pada tahun 1936. Menariknya, kapal tenggelam yang saya kira akan menjadi fokus utama cerita justru baru muncul di bagian akhir film.

Sinopsis Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

Sepanjang hampir 165 menit, penonton malah diajak menyelami kisah cinta tragis antara Zainuddin dan Hayati yang terasa jauh lebih menyakitkan dibanding tragedi kapalnya sendiri.

Tokoh Zainuddin yang diperankan Herjunot Ali adalah pemuda berdarah campuran Bugis-Minang yang merantau dari Makassar ke Batipuh untuk menuntut ilmu. Di sana ia jatuh cinta pada Hayati, gadis bangsawan Minangkabau yang diperankan Pevita Pearce.

Hubungan mereka bermula sederhana, bahkan romantis dengan cara yang sangat klasik: saling berkirim surat setelah Zainuddin meminjamkan payung kepada Hayati sepulang mengaji di surau. Namun, cinta mereka harus berhadapan dengan adat Minangkabau yang ketat.

Status Zainuddin sebagai keturunan campuran membuat dirinya dianggap tidak layak mempersunting Hayati. Ia dipandang tidak memiliki garis keturunan Minang yang “murni”, ditambah kondisi ekonominya yang biasa saja.

Pada akhirnya, Hayati dijodohkan dengan Aziz, saudagar kaya yang diperankan sangat apik oleh Reza Rahadian. Dari sinilah film mulai berubah menjadi kisah patah hati yang benar-benar menguras emosi.

Kelebihan dan Kekurangan

Yang membuat saya kagum bukan hanya kisah cintanya, tetapi juga kritik sosial yang dibawanya. Film ini menyoroti bagaimana adat dan status sosial bisa mengalahkan perasaan manusia.

Identitas budaya Minangkabau dan Bugis diperlihatkan begitu jelas melalui dialog, aturan adat, hingga cara masyarakat memandang keturunan dan kehormatan keluarga. Penonton dibuat sadar bahwa cinta pada masa itu bukan hanya soal dua orang saling mencintai, tetapi juga tentang restu suku, darah keturunan, dan harga diri keluarga.

Visual film ini juga menjadi salah satu kekuatan terbesar. Setting era 1930-an berhasil dibangun dengan sangat detail melalui kostum, bangunan, kendaraan, hingga suasana kota. Meski ada beberapa kostum Hayati yang terlihat terlalu modern untuk era tersebut, secara keseluruhan wardrobe film ini tetap memanjakan mata.

Dari sisi akting, Reza Rahadian kembali membuktikan kualitasnya sebagai salah satu aktor terbaik Indonesia. Karakter Aziz yang arogan, emosional, namun rapuh berhasil ia bawakan dengan sangat meyakinkan. Herjunot Ali juga tampil kuat sebagai Zainuddin yang penuh luka dan kesedihan.

Sementara itu, Pevita Pearce menurut saya menjadi bagian yang paling kurang maksimal. Karakter Hayati terasa kurang dalam secara emosional, padahal ia adalah pusat konflik utama cerita. Namun di luar itu, chemistry para pemain tetap berhasil membuat penonton larut.

Pesan Moral

Yang paling mengesankan dari film ini adalah bagaimana kisah cintanya terasa begitu manusiawi. Zainuddin dan Hayati bukan dipisahkan oleh kurangnya cinta, melainkan oleh keadaan, adat, dan waktu yang tidak berpihak. Karena itulah tragedinya terasa lebih menyakitkan.

Film ini seolah ingin mengatakan bahwa tidak semua cinta gagal karena hilang rasa. Kadang cinta gagal karena dunia memang tidak mengizinkannya bersatu.

Dan mungkin itu sebabnya film ini begitu membekas. Kita datang mengira akan menonton kapal tenggelam, tetapi justru menyaksikan hati manusia yang perlahan karam.

Identitas Film

  • Judul: Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
  • Sutradara: Sunil Soraya
  • Penulis Cerita: Buya Hamka (novel), Donny Dhirgantoro dan Riheam Junianti (skenario)
  • Rumah Produksi: Soraya Intercine Films
  • Tanggal Rilis: 19 Desember 2013

Pemeran Utama:

  • Herjunot Ali (sebagai Zainuddin)
  • Pevita Pearce (sebagai Hayati)
  • Reza Rahadian (sebagai Aziz)

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda