Ulasan
Godlob Karya Danarto: Menjelajah Dunia Tak Masuk Akal yang Terasa Nyata
Awalnya, membaca kumpulan cerpen Godlob bukan pengalaman yang langsung menyenangkan. Cerpen pembukanya terasa berat, penuh simbol dan metafora yang seperti menolak untuk segera dimengerti. Saya bahkan sempat meninggalkannya dan beralih ke bacaan lain.
Namun, saat kembali dengan pikiran yang lebih segar, teks-teks dalam kumpulan kisah ini perlahan membuka dirinya, tidak sepenuhnya terang, tetapi cukup untuk membuat saya bertahan dan terus menyelam.
Ada pengalaman yang selalu berbeda setiap kali membaca karya-karya Danarto. Ia bukan sekadar penulis cerpen, melainkan semacam peramu realitas yang berani membengkokkan logika, menabrakkan simbol, dan mengajak pembaca masuk ke wilayah yang sering terasa ganjil bahkan absurd.
Ketertarikan saya pada Godlob muncul kembali setelah menuntaskan kumpulan cerpen Adam Makrifat. Buku itu seperti pintu pembuka yang membuat saya ingin menengok ulang dunia lama Danarto, dunia yang pernah saya kenal, tapi tak benar-benar saya pahami.
Kumpulan cerpen Godlob pertama kali terbit pada 1975, dan menjadi salah satu tonggak penting dalam perkembangan realisme magis di Indonesia. Danarto, yang juga seorang pelukis, menghadirkan gaya bertutur yang sangat visual, liar, sekaligus kontemplatif.
Imajinasi dalam cerpen-cerpen Danarto (kalau bahasa Jawanya) terasa sak karepe dewe, semaunya sendiri tetapi justru di situlah kekuatannya. Kebebasan yang tidak kehilangan arah, absurditas yang tetap menyisakan makna.
Salah satu hal paling mencolok dalam Godlob adalah cara Danarto meramu berbagai sumber, seperti kisah-kisah religius, sastra Barat klasik, hingga kisah pewayangan seperti Baratayuda. Tokoh-tokoh seperti Yohanes Pembaptis, Hamlet, hingga Abimanyu hadir berdampingan dalam satu semesta naratif yang cair. Hasilnya adalah cerita-cerita yang sufistik sekaligus parodis. Sakral namun juga terasa seperti sedang mengolok-olok dirinya sendiri.
Cerpen Godlob sendiri menghadirkan konflik yang keras dan mengguncang. Tentang seorang ayah yang kehilangan hampir seluruh anaknya dalam perang, lalu berhadapan dengan satu-satunya anak yang tersisa. Di sini, Danarto tidak sekadar bercerita tentang perang, tetapi juga tentang absurditas kebanggaan, tentang bagaimana kepahlawanan bisa menjadi konstruksi yang dipaksakan.
Sang ayah, yang terobsesi pada makna kemenangan dan pengorbanan, justru terjebak dalam logika yang menyesatkan, bahkan sampai pada tindakan yang tak manusiawi.
Cerita ini terasa seperti sindiran tajam terhadap kekuasaan dan politik. Sajak Sang Politikus yang disisipkan menjadi semacam gema ironi, bagaimana kematian bisa dipoles menjadi keharuman, dan tragedi diubah menjadi propaganda.
Dalam konteks ini, Godlob bukan hanya karya sastra, tetapi juga kritik sosial yang masih relevan hingga hari ini.
Cerpen-cerpen lain dalam kumpulan ini memperluas spektrum pengalaman membaca. Cerpen bertajuk Armagedon menghadirkan lanskap tandus yang menjadi simbol kehancuran moral manusia. Sosok ibu yang membunuh anaknya sendiri di bawah pengaruh kekuatan gelap menjadi gambaran ekstrem tentang bagaimana hawa nafsu dapat menghancurkan kebijaksanaan.
Sementara cerpen Nostalgia membawa kita ke dunia pewayangan, mengikuti konflik batin Abimanyu yang terjepit antara tugas dan kerinduan. Di sini, Danarto menunjukkan sisi yang lebih humanis, bahwa bahkan pahlawan pun memiliki kegamangan.
Cerpen seperti Kecubung Pengasihan dan Asmaradana mempertegas kepiawaian Danarto dalam mengolah emosi dan simbol.
Sedangkan cerpen Abracadabra menjadi penutup yang memikat, dengan imajinasi liar tentang kehidupan setelah mati, bahkan menghadirkan Hamlet dalam tafsir yang sama sekali baru. Ada juga kisah Ahasveros yang membingungkan, tetapi justru memperkaya nuansa misterius dalam kumpulan ini.
Secara tematik, Godlob dipenuhi oleh isu-isu besar, berupa moralitas, kekuasaan, kebebasan, dan tanggung jawab. Danarto berkali-kali menegaskan bahwa kehancuran tidak datang dari luar, melainkan dari pilihan manusia sendiri. Simbol-simbol yang ia gunakan menjadi cermin konflik batin yang universal.
Namun, kekuatan ini sekaligus menjadi tantangan. Dialog-dialognya sering terasa seperti monolog panjang yang filosofis, seolah tokoh-tokohnya berbicara layaknya nabi di tengah sahabat-sahabatnya.
Bagi sebagian pembaca, ini bisa melelahkan. Saya sendiri merasa, jika membaca buku ini di masa remaja (saat kegelisahan spiritual masih memuncak) mungkin dampaknya akan jauh lebih menghantam.
Meski begitu, sulit untuk tidak mengakui bahwa Danarto adalah seorang master. Ia tidak hanya bercerita, tetapi menciptakan pengalaman.
Imajinasi yang liar, bahasa yang puitis, serta keberanian untuk menabrak batas-batas logika menjadikan Godlob sebagai karya yang tidak mudah dilupakan.
Identitas Buku
- Judul: Godlob
- Penulis: Danarto
- Penerbit: Basabasi, Yogyakarta
- Cetakan: I, 2017
- Tebal: 252 halaman
- ISBN: 978-602-6651-15-0
- Genre: Fiksi / Kumpulan Cerpen