Ulasan

Menaklukkan Gunung Malabar: Dari Sabana Indah hingga Tanjakan Mematikan

Menaklukkan Gunung Malabar: Dari Sabana Indah hingga Tanjakan Mematikan
Mendaki Gunung Malabar. [Doc Pribadi/Ahad Trekmate]

Sejak awal, mendaki Gunung Malabar tidak ada di dalam daftar pendakian saya, namun setelah mengetahui bahwa gunung setinggi 2.343 mdpl itu termasuk ke dalam tujuh puncak tertinggi (Seven Summit) Jawa Barat, saya jadi merasa tertantang.

Akhirnya, saya memutuskan untuk mencari open trip (OT) yang membuka pendakian ke gunung yang terletak di Bandung Selatan tersebut. Pilihan saya jatuh pada Ahad Trekmate, open trip yang khusus ditujukan bagi perempuan untuk kegiatan mendaki gunung.

Petualangan Dimulai pada Dini Hari

Pendakian berlangsung pada Jumat (3/4/2026), namun para peserta harus berkumpul pada Kamis (2/4/2026) malam. Terdapat tiga titik kumpul (meeting point atau mepo) yang ditawarkan. Pertama UKI Cawang, kedua Bekasi, dan ketiga di Kopo, Bandung.

Saya tiba di titik kumpul Bekasi pada pukul 22.32 WIB dan perjalan menuju Bandung dimulai sekitar pukul 23.30 WIB setelah menunggu para peserta lainnya hadir. Saya juga berkenalan dengan para peserta yang terdiri dari total 13 orang—di mana dua orang di antaranya merupakan kakak pemandu.

Kami naik microbus atau yang juga sering disebut dengan nama "elf" menuju Bandung. Itu kali pertama saya melakukan perjalanan pada dini hari menuju Kota Kembang. Mayoritas peserta menghabiskan waktu dengan tidur, diiringi dengan musik-musik band lawas yang populer di tahun 2000-an.

Setelah menjemput para peserta di mepo Kopo, kami akhirnya tiba di area pendakian Gunung Malabar sekitar pukul 03.52 WIB. Saya ingat udara Bandung yang dingin dan menusuk kulit ketika saya turun dari microbus, menunggu beberapa menit sebelum pintu basecamp dibuka, lalu menunggu azan untuk salat Subuh berjamaah dengan para peserta.

Pemandangan di Gunung Malabar. [Doc Pribadi/Lintang Siltya Utami]
Pemandangan di Gunung Malabar. [Doc Pribadi/Lintang Siltya Utami]

Gunung Malabar dan Tanjakan Akar

Pendakian Gunung Malabar via Cinyiruan dimulai sekitar pukul 05.39 WIB. Lintasan awalnya dipenuhi oleh perkebunan teh milik warga dengan jalur yang cukup landai, meskipun licin karena sehabis turun hujan. Kami mengabadikan foto cukup banyak di awal jalur karena terpesona dengan hamparan perkebunan teh, mirip seperti di film My Heart.

Menariknya, jarak menuju pos 1 cukup jauh. Namun, pos itu sendiri masih terletak di daerah perkebunan teh, sehingga jalurnya masih landai dan mudah dilewati.

Kami membutuhkan waktu sekitar 2 jam perjalanan dari pos 1 menuju pos 2. Sebenarnya, waktunya bisa dipersingkat. Namun, bagi orang-orang yang menyukai sabana, rasanya akan sulit untuk tidak berjalan lebih lambat agar menikmati hamparan padang rumput luas tersebut.

Gunung Malabar menawarkan sabana yang cukup luas, dengan dua pohon tumbang yang rupanya cukup populer sebagai spot foto yang ikonik. Alhasil, saya dan teman-teman lainnya menghabiskan waktu cukup banyak di sabana tersebut. Bahkan, kami sempat membuat video TikTok sebagai kenang-kenangan.

Selain itu, pendaki juga akan bertemu dengan setidaknya tiga ekor anjing lucu di pos 1 dan area di sekitar sabana. Oleh karena itu, bagi yang ingin mendaki Gunung Malabar, mungkin bisa membawa makanan lebih untuk mereka. Tapi tenang saja, anjing-anjing itu ramah dan mengerti jika kita enggan untuk didekati.

Salah satu pohon tumbang yang jadi spot ikonik di Gunung Malabar. [Doc Pribadi/Lintang Siltya Utami]
Salah satu pohon tumbang yang jadi spot ikonik di sabana Gunung Malabar. [Doc Pribadi/Lintang Siltya Utami]

Setelah beristirahat sebentar di pos 2, kami membutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk menuju pos 3. Sayangnya, masing-masing pos tidak memiliki tempat istirahat yang cukup memadai, sehingga mayoritas pendaki bisa langsung duduk di atas akar pohon, tanah, atau membawa alas duduk sendiri.

Tak jauh dari pos 3, saya akhirnya bertemu dengan Tanjakan Akar. Sesuai namanya, area ini memiliki jalur yang menanjak dan dipenuhi dengan banyak akar. Namun, jangan khawatir karena pendaki bisa menggunakan tali webbing yang telah disediakan agar tidak terpeleset.

Meski sebelumnya saya sudah mengecek seperti apa lintasan Gunung Malabar melalui video-video di TikTok, tapi rasanya tetap terkejut ketika melihat Tanjakan Akar dengan mata sendiri. Bagi saya pribadi, Tanjakan Akar cukup menantang untuk didaki. Meski begitu, saya beruntung memiliki kakak pemandu yang sabar, mereka akan setia menunggu jika saya ingin beristirahat sebentar di tengah jalur.

Setelah menaklukkan Tanjakan Akar, saya akhirnya tiba di pos 4 pukul 10.31 WIB. Lintasan dari pos 4 menuju pos 5 cukup menanjak, namun tidak memiliki banyak akar seperti sebelumnya.

Tanjakan Akar di Gunung Malabar. [Doc Pribadi/Lintang Siltya Utami]
Tanjakan Akar di Gunung Malabar. [Doc Pribadi/Lintang Siltya Utami]

Namun, mendekati Puncak Besar, para pendaki juga akan bertemu dengan Tanjakan Ah Euy—yang menurut saya lebih "mematikan" daripada Tanjakan Akar. Entah berapa kali saya menyebut asma Allah sepanjang jalur, karena napas yang terengah dan paha yang mulai terasa pegal ketika melewati tanjakan tersebut. Di sepanjang Tanjakan Ah Euy pun kaki saya sempat mengalami kram sebanyak dua kali, namun beruntung saya ditolong oleh salah satu peserta dan kakak pemandu.

Puncak Besar Malabar

Saya dan para peserta lainnya tiba di Puncak Besar Gunung Malabar pada pukul 11.54 WIB. Berbeda dari gunung pada umumnya yang bisa melihat pemandangan di bawahnya, Puncak Besar Malabar cenderung tertutup dengan rimbunnya hutan dan semak belukar.

Kami menghabiskan waktu di area puncak untuk beristirahat, makan bekal yang dibawa masing-masing peserta, dan mengantre berfoto di pohon ikonik di Puncak Besar Malabar.

Puncak Besar Malabar. [Doc Pribadi/Lintang Siltya Utami]
Puncak Besar Malabar. [Doc Pribadi/Lintang Siltya Utami]

Namun, belum sempat menikmati puncaknya lebih lama, tiba-tiba gerimis perlahan turun. Hal itu membuat beberapa orang merasa ingin segera turun agar tidak terjebak hujan.

Sayangnya, karena kaki saya sebelumnya sempat sakit akibat kram, kemampuan saya untuk berjalan saat turun melambat. Untungnya, saya ditemani dengan salah satu kakak pemandu yang memang bertugas di bagian belakang rombongan, juga seorang peserta yang kesulitan turun.

Hujan besar mengguyur Gunung Malabar ketika saya turun dan belum melewati Tanjakan Akar. Jujur saja, saya sangat khawatir terpeleset karena tekstur tanah yang menjadi licin. Ditambah lagi akar-akar di sepanjang jalur seolah membuat aliran air hujan mengalir lebih deras ke bawah, hampir mirip seperti air terjun mini.

Ketakutan saya menjadi kenyataan ketika saya melewati Tanjakan Ah Euy. Entah mengapa, sepatu saya terasa sangat licin dan tidak bisa mencengkram tanah yang dipijak. Alhasil, saya berulang kali terpeleset hingga akhirnya duduk merosot ketika menuruni tanjakan tersebut.

Intensitas hujan yang tinggi perlahan membuat sepatu saya basah, genangan air bercampur tanah masuk ke dalam sepatu, membuat kaki saya terasa sangat dingin dan menusuk. Namun, saya tetap harus melanjutkan perjalanan.

Sepanjang jalan pulang menuju basecamp, saya mematikan ponsel karena takut tersambar petir. Alhasil, saya tidak punya dokumentasi sama sekali untuk menunjukkan lintasan di tanjakan Gunung Malabar ketika hujan. Hujan baru sedikit reda ketika saya tiba di pos 1, tepatnya di area perkebunan teh milik warga.

Tekstur tanah yang saya lalui sepanjang lintasan mirip seperti tanah liat yang diberi air, sangat licin. Belum lagi, beberapa jalur memiliki bekas lintasan motor trail milik warga setempat, sehingga ketika hujan, lintasan tersebut akan dipenuhi air yang mengalir di bagian tengahnya dan membuat jalur semakin licin.

Setelah berjalan cukup lama, saya akhirnya tiba di basecamp sekitar pukul 15.35 WIB dalam keadaan basah kuyup dan sepatu yang penuh dengan lumpur. Saya bersiap-siap untuk mandi dan makan makanan yang telah disediakan oleh pihak open trip, sebelum melakukan perjalan pulang kembali ke Bekasi.

Perkebunan teh dan wortel milik warga. [Doc Pribadi/Lintang Siltya Utami]
Perkebunan teh dan wortel milik warga. [Doc Pribadi/Lintang Siltya Utami]

Persiapan yang Matang Sebelum Mendaki

Jika boleh bicara jujur, saya tidak melakukan persiapan apa pun sebelum mendaki Gunung Malabar. Salah saya karena terlalu meremehkan gunung ini, meskipun ia termasuk ke dalam Seven Summit Jawa Barat.

Olahraga yang saya lakukan sehari-hari hanyalah berjalan santai dan parahnya, saya bahkan menganggap kegiatan mengejar KRL pada jam berangkat dan pulang kantor adalah bagian dari olahraga.

Oleh karena itu, sangat disarankan untuk melakukan persiapan fisik yang matang sebelum mendaki gunung apa pun. Pastikan untuk menggunakan sepatu gunung dengan cengkraman yang kuat agar tidak mudah terpeleset seperti saya—meskipun sepatu yang saya kenakan juga merupakan sepatu gunung. Selain itu, bawa spray khusus kram atau krim oles untuk berjaga-jaga.

Pengalaman mendaki Gunung Malabar akan selalu menjadi pengalaman luar biasa yang tidak akan pernah saya lupakan, karena di sanalah saya pertama kali kehujanan hingga basah kuyup sampai rasanya kaki terasa mati rasa karena sangat sakit.

Namun, apakah saya kapok untuk mendaki gunung? Tidak. Pengalaman seru dan menyenangkan seperti ini yang selalu saya cari ketika pergi ke gunung, juga kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang baru. Saya sangat beruntung bisa bertemu dengan teman-teman yang asyik selama pendakian di Gunung Malabar.

Tetapi, ingat bahwa keselamatan adalah nomor satu. Jangan paksakan diri jika sudah merasa lelah, karena tiba di puncak bagi saya adalah bonus. My rating for Mt. Malabar is 8/10, would recommend it to anyone who loves nature and hiking!

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Komentar

Rekomendasi

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda