Ulasan
Refleksi Idul Adha dalam Pendidikan Anak di Buku Kiat Menjadi Guru Keluarga
Sebentar lagi kita akan menghadapi suasana Idul Adha yang identik dengan hari raya qurban bagi umat Islam. Selain anjuran berqurban, Idul Adha sebenarnya adalah momentum yang tepat untuk kembali meneladani kisah Nabi Ibrahim dan keluarganya. Yakni bagaimana beliau benar-benar menjadi teladan dalam mendidik istri dan anak-anaknya.
Terkait hal tersebut, saya jadi tertarik untuk mengulas buku berjudul 'Kiat Menjadi Guru Keluarga' karya Dr. Adian Husaini. Sejalan dengan kisah Nabi Ibrahim dan pendidikan keluarga, buku ini membahas tentang bagaimana membentuk generasi emas dengan memaksimalkan kehadiran orang tua sebagai guru pertama bagi anak-anaknya.
Lantas, kenapa sih pendidikan keluarga itu penting? Menurut Dr. Adian, di era sekarang banyak di antara kita yang menyalahkan sistem pendidikan sekolah yang tidak efektif dalam memberikan pembelajaran pada anak.
Tapi sebagian orang tua lupa. Bahwa sebelum menyerahkan tanggungjawab pendidikan dan pengasuhan kepada guru di sekolah, sejatinya orang tua adalah guru atau madrasah pertama dalam kehidupan seorang anak.
Adapun kehadiran sekolah hanyalah sebagai sarana yang memudahkan orang tua untuk mendidik anak-anak mereka. Tapi pemeran utama dalam dunia pendidikan itu tetaplah menjadi tanggung jawab orang tua itu sendiri.
Orang tua lah menjadi tokoh yang seharusnya berada dalam garda terdepan untuk memberikan contoh/teladan dalam adab, akhlak, dan cara menjalani kehidupan yang baik. Sebab, akan percuma jika seorang anak memiliki prestasi akademik yang baik di sekolah namun tidak menjadikannya manusia yang beradab.
Seorang anak juga tentu akan lebih mudah belajar ketika menyaksikan contoh langsung dalam keluarganya. Yakni tentang nilai-nilai apa yang diterapkan oleh kedua orang tua mereka, alih alih belajar hanya dari nasihat saja.
Sebagaimana kisah Nabi Ibrahim yang memberikan pengajaran kepada keluarganya. Tidak hanya berperan sebagai seseorang yang mengemban misi kenabian, tetapi Nabi Ibrahim juga adalah seorang ayah yang selalu memberi pengajaran dan teladan untuk anaknya.
Apalagi kita memasuki era postmodern yang menyodorkan begitu banyak tantangan terkait pendidikan anak. Mulai dari banyaknya pemikiran menyimpang, paham dan budaya yang menyesatkan, hingga ujian keimanan dari berbagai arah.
Ada sebuah pertanyaan yang cukup menarik yang disampaikan oleh Dr. Adian, bahwa jika peran orang tua memang sepenting itu, lantas mengapa sistem pendidikan yang diterapkan oleh umat Islam itu sendiri tidak menekankan pendidikan untuk membentuk orang tua yang baik?
Saya pikir apa yang dibahas oleh Dr. Adian ini cukup menarik. Ia melontarkan kritik tentang masih kurangnya keteladanan orang tua kepada anak-anaknya karena disibukkan dengan hal-hal lain. Entah beban mencari nafkah, urusan domestik, atau kesibukan yang membuat mereka lupa tanggungjawab pendidikan.
Hal itu terbukti dengan banyaknya kasus fatherless hingga laki-laki yang tidak bisa diandalkan menjadi sosok suami dan ayah.
Meskipun dalam Islam kita kerap familiar dengan ungkapan bahwa jika sebuah keluarga diibaratkan sekolah dan ibu adalah guru pertama, jangan lupa bahwa seorang ayah lah yang menjadi kepala sekolahnya.
Tidak cuma ibu yang perlu untuk belajar bagaimana mendidik anak. Tapi seorang ayah terutama, harus membekali diri tentang bagaimana ia seharusnya bisa menjadi pemimpin bagi istri dan anak-anaknya.
Buku seperti ini seharusnya lebih banyak dibaca oleh para ayah maupun calon ayah di luar sana. Jangan hanya ibu yang selalu disibukkan dengan beban parenting keluarga yang memang sangat berat. Apalagi jika posisi ayah dan ibu sama-sama bekerja.
Secara umum, buku ini cukup inspiratif. Namun isinya barangkali hanya menyasar para pembaca muslim. Selain itu, solusi yang ditawarkan tentang perlunya kehadiran orang tua dalam pendidikan anak agaknya bukan sesuatu yang mudah untuk diterapkan. Mengingat masalah dalam setiap keluarga itu kompleks. Dan terkadang, banyak orang tua yang sebenarnya sudah memahami esensi pendidikan keluarga namun terpaksa meninggalkan anak karena keadaan yang memang tidak kondusif.
Meskipun begitu, ketika kita berkaca pada kisah Nabi Ibrahim di momen Idul Adha ini, sesibuk-sibuknya misi kenabian yang diemban, beliau tetap punya waktu untuk kembali pada keluarga dan menjalankan tugasnya sebagai seorang pendidik.