Ulasan
Di Balik Julukan Gotham City, Medan Punya Kehangatan yang Selalu Kurindu
Gotham City adalah salah satu kota di film Batman yang identik dengan suasana keras dan penuh kejahatan. Entah mengapa, itu menjadi julukan bagi Medan, kota yang selama lima tahun kutinggali ini.
Sejujurnya, awalnya aku agak takut dengan Medan yang dikenal keras. Namun, setelah aku tinggal dan berbaur di sana, pelan-pelan aku mulai mengerti mengapa bahasanya terdengar keras dan cara bicaranya yang terkesan “nyablak”. Ternyata, itu memang aksen atau dialek yang ada di Sumatera Utara.
Konon katanya, para leluhur dahulu berkomunikasi dari ladang ke ladang yang jaraknya jauh, sehingga harus menggunakan nada yang lebih keras. Akhirnya, kebiasaan itu terbawa sampai sekarang di Medan.
Julukan Gotham City muncul karena banyaknya cerita tentang begal, tawuran, dan preman. Memang, bagi orang yang pertama kali datang ke sini, akan kaget dengan kondisi jalan di Medan seperti yang ada di sosial media. Kebanyakan kendaraan hanya bergerak berdasarkan keyakinannya masing-masing.
Lalu, ada satu hal lagi yang sangat mengagetkanku di sini. Waktu itu kosku berada di samping kafe. Biasanya, ada sekumpulan pria yang berkumpul, bernyanyi dengan gitar, dan lagunya hampir selalu ada “Mardua Holong”.
Nanti tiba-tiba akan ada pecah suara khas koor bapak-bapak di gereja. Kalau kamu sudah mendengar itu di malam hari, welcome to Medan. Suara koor dadakan ini yang terkadang menemaniku bergadang mengerjakan jurnal praktikum.
Namun, itulah Medan, selalu ada cerita yang mengisi hati. Juga soal makanannya yang murah meriah, wisata yang beragam, hingga di sini aku bisa lebih mengenal keluargaku dan silsilahnya. Hal seperti ini tidak kurasakan di Batam yang hanya sebatas diceritakan.
Di Medan, aku justru bisa langsung bertemu dengan keluargaku yang tersebar di berbagai tempat, karena kebanyakan dari mereka memang berada di sini. Di sinilah aku merasakan kekerabatan keluarga yang jauh lebih kuat dibandingkan di perkotaan.
Kimia, Jurnal, dan Pertemanan

Satu lagi yang sangat terasa di sini adalah pertemanan.
Saat itu, aku memutuskan untuk terlibat dalam acara Natal kampus. Rumahku cukup jauh, sekitar satu jam dari kampus, dan latihan sering berlangsung sampai malam. Sejujurnya, selama 19 tahun aku tinggal di Batam, aku tidak pernah ditunggu sampai dijemput oleh ayahku.
Jadi, kami latihan hampir beberapa kali dalam seminggu dan sering sampai malam. Ternyata, beberapa temanku ada yang mau menunggu sampai aku benar-benar dijemput. Bahkan sempat ada candaan, “Eh, sudah datang bapak kita.” Ayahku pun jadi ikut tertawa juga mendengarnya.
Jujur, aku salut dengan pertemanan di sini. Mungkin karena lingkungannya yang rawan, jadi kami saling menjaga. Sementara itu, di Batam yang terbilang lebih kecil dan minim kejahatan, aku lebih sering menunggu sendirian.
Lalu, soal jurnal praktikum, pasti ada saja pengalaman lucu. Salah satu yang paling kuingat adalah setelah COVID-19, kami langsung “dibantai” dengan praktikum kimia anorganik sampai malam. Namun, setelah itu hal tersebut sudah dilarang oleh pihak jurusan. Walaupun melelahkan, kalau diceritakan sekarang rasanya tetap seru.
Bahkan, ada hari di mana kami harus menjalani dua praktikum dalam satu hari. Banyak dari kami tidak tidur karena harus belajar dan mengerjakan laporan tulis tangan. Maka dari itu, tak heran mata teman saya banyak yang tinggal satu watt saja saat tiba di kampus.
Pada akhirnya, Medan tidak hanya menjadi tempat persinggahanku selama kuliah, tetapi juga tempat aku pulang.