Ulasan

Review Film Ek Din: Dialog Puitis tentang Cinta, Kehilangan, dan Harapan

Review Film Ek Din: Dialog Puitis tentang Cinta, Kehilangan, dan Harapan
Poster film Ek Din (IMDb)

Ek Din merupakan film drama romantis Hindi berbahasa India yang dirilis pada tahun 2026. Disutradarai oleh Sunil Pandey dalam debut penyutradaraannya, film ini diproduksi oleh Aamir Khan Productions, dengan Mansoor Khan, Aamir Khan, dan Aparna Purohit sebagai produser utama. Film ini merupakan remake resmi dari film Thailand One Day (2016) karya Banjong Pisanthanakun, yang mengadaptasi premis unik tentang cinta satu hari dengan sentuhan emosional khas Bollywood.

Bintang utama film ini adalah Sai Pallavi, yang melakukan debutnya dalam film Hindi, berperan sebagai Meera Ranganathan, serta Junaid Khan sebagai Dinesh Kumar Srivastav atau Dino. Pemeran pendukung termasuk Kunal Kapoor. Dengan durasi sekitar 120 menit, Ek Din menggabungkan elemen romansa, drama, dan sedikit fantasi ringan melalui kondisi medis Transient Global Amnesia (TGA). Musik diaransemen oleh Ram Sampath dengan lirik Irshad Kamil, sementara sinematografi Manoj Lobo menghadirkan visual memukau lokasi di Jepang.

Pertemuan Tak Terduga: Percikan di Balik Kesunyian

Tangkapan layar adegan di film Ek Din (IMDb)
Tangkapan layar adegan di film Ek Din (IMDb)

Dinesh, seorang karyawan IT yang pemalu, canggung, dan sering diabaikan rekan kerjanya di perusahaan Mycon Digital berbasis di Noida, diam-diam mencintai Meera, rekan kerjanya yang cantik dan energik. Meera sedang menjalin hubungan dengan atasannya, Nakul (Kunal Kapoor), yang ternyata sudah menikah.

Perjalanan kantor tahunan ke Jepang menjadi titik balik. Di tengah kekecewaan Meera setelah mengetahui kebenaran tentang Nakul, Dinesh membuat permohonan spontan di Fortune Bell terkenal: agar Meera menjadi kekasihnya meski hanya untuk satu hari.

Permohonan tersebut terkabul melalui twist tak terduga. Meera mengalami kecelakaan di malam bersalju dan didiagnosis menderita TGA, kondisi yang menyebabkan hilangnya ingatan untuk periode tertentu serta ketidakmampuan membentuk ingatan baru melebihi satu hari.

Saat bangun, Meera mengira Dinesh adalah pacarnya. Dinesh memilih mempertahankan kebohongan ini untuk menjalani satu hari sempurna bersama wanita yang dicintainya, menjelajahi keindahan Jepang, Festival Salju Sapporo, dan membangun kenangan intim. Akan tetapi, ketika hari itu berakhir dan ingatan Meera kembali, konsekuensi emosional pun muncul. Film mengeksplorasi tema cinta tak terucap, nilai sebuah kenangan, dan keberanian untuk melepaskan.

Review Film Ek Din

Tangkapan layar adegan di film Ek Din (IMDb)
Tangkapan layar adegan di film Ek Din (IMDb)

Ek Din berhasil menonjolkan kekuatan akting Sai Pallavi. Dalam debut Hindi-nya, ia menyampaikan kedalaman emosi Meera dengan nuansa alami—dari kerapuhan pasca-patah hati hingga kehangatan saat berpacaran dengan Dinesh. Chemistry antara Sai Pallavi dan Junaid Khan terasa tulus, meski Junaid kadang tampak kurang meyakinkan dalam membawa beban emosional utama sebagai karakter introvert. Visual Jepang yang indah, mulai dari pemandangan salju hingga aktivitas budaya, menjadi daya tarik utama yang membuat film ini nyaman ditonton di layar lebar.

Film ini mengusung pendekatan emosi-dahulu-logika, mirip pendahulunya Thailand. Premis amnesia satu hari memberikan ruang bagi momen-momen manis dan reflektif tentang betapa berharganya waktu bersama orang yang dicintai.

Sutradara Sunil Pandey berhasil menjaga nada ringan dan menghibur di paruh pertama, meski ritmenyaa lambat dan adaptasi yang kurang mendalam di paruh kedua. Skor musik dan lagu-lagu mendukung atmosfer romantis dengan baik, meski tidak mencapai level ikonik. Secara keseluruhan, Ek Din adalah tontonan satu kali yang menyenangkan bagi penggemar romansa ringan.

Meski premisnya menarik, eksekusi cerita terasa konvensional dan kurang berani dibandingkan versi asli Thailand yang lebih tragis. Beberapa plot point terasa dipaksakan dan pengembangan karakter pendukung kurang kuat. Pacing di bagian tengah agak melambat, yang mungkin membuatku tidak sabar menanti resolusi. Film ini juga tidak sepenuhnya memanfaatkan potensi konflik moral dari kebohongan Dinesh, sehingga dampak emosional klimaksnya terasa sedang.

Film Ek Din tayang perdana di bioskop Indonesia pada 1 Mei 2026, bersamaan dengan rilis di India. Film ini tersedia di jaringan bioskop besar seperti CGV Cinemas, Cinema XXI, Cinepolis, dan Platinum Cineplex. Penayangan berlangsung dalam format 2D, dengan durasi tayang yang terus berjalan sejak tanggal rilis tersebut. Penggemar Bollywood di Indonesia dapat menikmati film ini dengan subtitle bahasa Indonesia.

Salah satu adegan paling berkesan adalah saat Dinesh dan Meera menghabiskan waktu di tengah Festival Salju Sapporo pada malam hari. Di bawah guyuran salju yang lembut, Meera yang kehilangan ingatan berbagi cerita pribadi, tertawa lepas, dan akhirnya berpegangan tangan dengan Dinesh sambil menonton kembang api atau pertunjukan cahaya.

Adegan ini penuh kelembutan visual—sinematografi yang memukau dengan latar putih salju dan cahaya hangat—sekaligus emosional, karena aku sendiri menyadari bahwa kenangan indah ini hanya milik Dinesh seorang. Ia tahu besok segalanya akan kembali ke semula, akan tetapi tetap berusaha menciptakan momen sempurna. Adegan ini menjadi puncak romansa sekaligus pengingat pahit tentang sifat sementara kebahagiaan, adegan yang kuanggap sebagai highlight yang membuatku terharu.

Kesimpulannya, Ek Din adalah film yang manis dan penuh harapan tentang mencintai tanpa syarat serta menghargai setiap momen. Meski bukan masterpiece, ia menyuguhkan hiburan berkualitas dengan pesan universal bahwa kadang satu hari saja sudah cukup untuk mengubah segalanya. Aku rekomendasikan buat kamu yang mencari romansa segar dengan latar internasional yang indah.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda