Ulasan

Uang yang Terselip di Peci: Saat Tradisi Keluarga Jadi Senjata Melawan Politik Culas

Uang yang Terselip di Peci: Saat Tradisi Keluarga Jadi Senjata Melawan Politik Culas
Kumpulan Cerpen Uang yang Terselip Di Peci (Dok. pribadi/ Chairun Nisa)

Sebagai penggemar cerpen seminggu sekali, saya biasanya melahap bacaan terbitan BasaBasi. Kali ini pilihan saya jatuh pada karya Satmoko Budi Santoso berjudul Uang yang Terselip di Peci. Blurb-nya sangat menarik dan menjanjikan, apalagi penulisnya adalah Kaprodi Fakultas Ilmu Budaya UGM. Buku ini juga dilengkapi kata pengantar dari Akiko Iwata yang terasa sangat "Jepang", karena cerpen-cerpen di sini memang digunakan sebagai materi ajar bahasa Jepang dalam pengantar bahasa Indonesia di kelas.

Buku ini terdiri dari 21 cerita pendek yang telah dimuat di berbagai media. Penulis menyatakan harapannya agar buku ini bisa memperkaya perspektif tema dan eksploitasi literasi berbasis kearifan lokal serta dunia keluarga.

Kesan Terhadap Cerita: Dari Absurditas hingga Realitas

Cerita pembuka, "Alamat Kebahagiaan", menurut saya biasa saja. Isinya tentang orang "gabut" yang mencari alamat kebahagiaan di media sosial dan hanya menanti berbagai komentar yang datang. Ada beberapa cerpen sejenis yang jujur saya kurang paham maknanya, seperti "Punakawan Turun ke Jalan". Di situ, tokoh Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong turun ke jalanan Jogja menuju gedung DPRD dan Keraton. Mereka seolah tidak bisa diajak bicara karena dunia sudah terlalu banyak korupsi, lalu tokoh-tokoh ini hilang begitu saja melebur dengan gedung DPRD.

Lalu ada "Empat Cerita Tentang Teka-Teki" yang isinya setengah misteri dan memaksa pembaca bergulat dengan akal karena dibuat seolah nyata. Ada juga yang bernuansa magis seperti "Dua Keris", tentang seseorang yang menyimpan keris untuk resepsi namun istrinya menjadi paranoid hingga jatuh sakit.

Ironi Sosial dan Kehidupan Urban

Cerpen "Bersampan ke Tanah Mimpi" terasa sangat "nyastra" dengan latar Sungai Siak. Bahasanya cukup berat hingga sulit dipahami, menceritakan dua generasi (Mamak dan anaknya) yang hidup tidak sejahtera. Ada ironi yang tajam di sini: mereka harus mengantre jatah beli minyak goreng, padahal kampung mereka adalah tempat berdirinya kilang-kilang minyak.

Beberapa cerpen juga merekam cara orang bertahan hidup di tengah pandemi COVID-19. Dalam "Angkringan Pandemi", digambarkan penjual terompet yang biasanya laris saat tahun baru kini harus mencari celah solusi. Di masa sulit itu, biasanya hanya penjual makanan yang laku, sementara penjual jasa sangat kesulitan.

Cerpen "Ke Kota Abu" menceritakan kunjungan nekat seseorang ke daerah kekasihnya yang sedang terkena letusan gunung berapi besar, tanpa latar nama tokoh yang jelas (hanya "Kau" dan "Aku"). Sementara cerpen "Ke Kota" terasa sangat related dengan anak muda zaman sekarang; pergi ke kota untuk mencari penghasilan lebih karena merasa di desa tidak bisa berkembang, namun ujung-ujungnya di kota pun sama saja. Hidup tetap pas-pasan dan berakhir menjadi "budak korporat" atau karyawan yang taraf hidupnya tidak meningkat.

Kearifan Lokal dan Tradisi

Cerpen "Sasi" menonjolkan kearifan lokal Maluku tentang hukuman adat "Sasi". Pelaku (penjual hasil kekayaan desa secara ilegal atau penyelundup kayu) dihukum dengan diarak memanggul kotorannya sendiri. Menariknya, tokoh "Aku" dalam cerita ini sebenarnya licik; dia juga menyelundupkan ikan melalui sungai, namun saat bertemu tetua adat, dia memberikan sogokan agar terhindar dari hukuman Sasi tersebut.

Dalam cerpen "Talak Bimbang", latar keluarga kecil sangat terasa. Seorang istri yang sudah lama bercerai merasa bimbang ingin kembali dengan mantan suaminya, padahal di tempat kerja ada lelaki lain yang sangat menarik hati. Perceraian mereka dulu disorot hanya karena masalah suami yang impoten.

Cerpen utama, "Uang yang Terselip di Peci", menceritakan tradisi meneruskan kebiasaan menyelipkan uang di peci dari kakek ke ayah hingga ke anak-cucu. Ternyata, tradisi ini berhasil menjadi strategi halus untuk melawan politik culas yang sedang membara di desa.

Gong Utama: "Sarung Kiai Ababil"

Bagian yang paling mengesankan atau menjadi "gong" buku ini menurut saya adalah cerpen "Sarung Kiai Ababil". Tokohnya adalah seorang santri yang senang mencuci sarung kiainya. Dari sini saya baru tahu betapa menghinanya Lekra terhadap agama Islam melalui sandiwara keliling dengan tajuk yang keterlaluan seperti Gusti Allah Mantu, Gusti Allah Edan, dan Matine Gusti Allah.

Seketika saya merasa geram, padahal dulu saya pernah terpesona dengan Lekra setelah tahu cerita dari sudut pandang lain. Si santri ini ternyata punya tabiat buruk; dia gemar meminta proposal jutaan rupiah kepada pejabat, yang uangnya malah dipakai untuk dugem. Ternyata itu semua adalah kenangannya saat sudah dipenjara karena korupsi. Dia memang berbakat korupsi sejak kecil dan sang kiai tidak pernah curiga bahwa dialah yang membocorkan lokasi persembunyiannya kepada Lekra. Meski korupsi, tokoh ini tetap hidup sejahtera dan mampu menghidupi tiga keluarga.

Cerpen ini berhasil menambah wawasan mengenai perspektif tema dan eksploitasi literasi yang berbasis pada kearifan lokal serta dunia keluarga seperti harapan penulis. Dari segi alur, banyak cerita yang diakhiri secara multitafsir. Penokohannya jarang menyebut nama (hanya Aku, Kau, Kamu, atau Dia). Ada yang alurnya lurus-lurus saja sebagai kilas balik kenangan tanpa konflik besar, membuat saya merasa sedikit "kecele" karena awalnya terlalu terpesona dengan blurb-nya.

Identitas Buku:

  • Judul: Uang yang Terselip di Peci
  • Penulis: Satmoko Budi Santoso
  • Penerbit: BasaBasi\
  • Tahun Terbit: 2022
  • ISBN: 978-623-305-275-7

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda