Ulasan

Monte Carlo: Ketika Move On Ternyata Nggak Sesimpel Itu

Monte Carlo: Ketika Move On Ternyata Nggak Sesimpel Itu
Novel Monte Carlo (Dok. Pribadi/Miranda)

Ada satu hal yang jarang dibahas jujur dalam cerita cinta: tidak semua hubungan yang berkesan punya akhir yang jelas. Kadang, yang paling sulit dilupakan justru bukan yang paling lama bersama, tapi yang datang sebentar lalu pergi tanpa penjelasan. Rasanya nanggung, menggantung, dan anehnya tetap tinggal di kepala lebih lama dari yang seharusnya.

Perasaan seperti itu yang jadi pintu masuk cerita dalam novel Monte Carlo karya Arumi E. Bukan tentang cinta yang langsung jadi, bukan juga tentang hubungan yang mulus dari awal sampai akhir. Tapi tentang satu pertemuan singkat yang efeknya panjang, bahkan ketika semuanya sudah terlihat selesai.

Lewat tokoh Kiara, pembaca diajak melihat bagaimana seseorang bisa terlihat baik-baik saja di luar, tapi sebenarnya masih membawa sesuatu yang belum tuntas di dalam. Dan yang bikin cerita ini terasa dekat, konflik itu bukan sesuatu yang “besar” secara dramatis, tapi justru sederhana—sesederhana rasa penasaran yang tidak pernah benar-benar terjawab.

Pertemuan Singkat yang Terlalu Membekas

Awalnya terlihat seperti momen biasa. Perjalanan kereta, duduk bersebelahan dengan orang asing, lalu obrolan ringan yang seharusnya berakhir begitu saja. Tapi yang terjadi pada Kiara justru sebaliknya. Ia bertemu seorang pria yang, entah bagaimana, terasa berbeda dari orang lain yang pernah ia temui.

Tidak ada janji, tidak ada rencana untuk bertemu lagi. Bahkan identitas pria itu pun tidak benar-benar jelas. Tapi justru karena itulah, kesan yang tertinggal jadi lebih kuat. Dan ketika pria itu menghilang tanpa jejak, yang tersisa bukan hanya kenangan, tapi juga pertanyaan yang terus berputar di kepala.

Bagian ini terasa realistis karena tidak dilebih-lebihkan. Tidak ada adegan dramatis berlebihan, tapi cukup kuat untuk membuat pembaca mengerti kenapa Kiara sulit melupakan.

Saat yang Nyata Datang, Tapi Hati Masih Tertinggal

Seiring berjalannya cerita, Kiara bertemu dengan Alaric Kanigara. Sosok yang jelas, nyata, dan hadir dalam hidupnya dengan cara yang lebih “masuk akal”. Tidak seperti pria misterius di kereta yang hanya meninggalkan bayangan.

Secara logika, Alaric adalah pilihan yang lebih pasti. Ia ada, bisa diajak bicara, dan perlahan membangun kedekatan dengan Kiara. Tapi masalahnya bukan pada siapa yang datang, melainkan pada apa yang belum selesai.

Kiara ada di posisi yang sulit: mencoba membuka hati untuk sesuatu yang nyata, sambil masih membawa perasaan terhadap sesuatu yang bahkan belum sempat dimulai. Ini yang bikin konflik terasa kuat—bukan karena rumit secara plot, tapi karena jujur secara emosi.

Antara Logika dan Perasaan yang Nggak Selalu Sejalan

Salah satu hal yang menonjol dari cerita ini adalah bagaimana Kiara digambarkan sebagai sosok yang sadar dengan keadaannya. Ia tahu bahwa terus memikirkan masa lalu bukanlah pilihan terbaik. Ia juga tahu bahwa Alaric adalah seseorang yang layak dipertimbangkan.

Tapi mengetahui dan menjalani adalah dua hal yang berbeda.

Di sinilah cerita terasa sangat manusiawi. Kiara tidak dibuat sebagai karakter yang selalu tahu apa yang harus dilakukan. Ia ragu, ia mempertanyakan dirinya sendiri, dan kadang ia terjebak di pikirannya sendiri. Bukan karena lemah, tapi karena memang begitulah cara perasaan bekerja.

Monte Carlo yang Indah, Tapi Tidak Menyelesaikan Apa-apa

Latar tempat seperti Monte Carlo, Cannes, dan Nice memberi nuansa yang menarik sepanjang cerita. Tempat-tempat ini digambarkan indah, elegan, dan terasa jauh dari kehidupan sehari-hari kebanyakan orang.

Tapi yang menarik, keindahan itu tidak menghapus konflik yang ada dalam diri Kiara. Justru ada kontras yang terasa: di tengah suasana yang seharusnya menyenangkan, ia tetap bergulat dengan pikirannya sendiri.

Ini seperti pengingat sederhana bahwa pindah tempat tidak otomatis membuat seseorang selesai dengan perasaannya. Masalah yang dibawa dari awal tetap ikut, ke mana pun kita pergi.

Cinta yang Tidak Selalu Punya Jawaban Jelas

Seiring cerita berjalan, satu hal yang makin terasa adalah bahwa novel ini tidak berusaha memberi jawaban yang terlalu mudah. Tidak semua hal dijelaskan secara tuntas, dan tidak semua perasaan diberi penutup yang rapi.

Dan justru itu yang jadi kekuatannya.

Monte Carlo tidak mencoba menjadi kisah cinta yang sempurna. Ia lebih memilih jadi cerita yang jujur—tentang bagaimana seseorang mencoba memahami perasaannya sendiri, meskipun tidak selalu berhasil.

Kenapa Cerita Ini Terasa Dekat

Pada akhirnya, yang membuat buku novel ini menarik bukan hanya ceritanya, tapi bagaimana pembaca bisa melihat sebagian dirinya di dalam Kiara. Perasaan ragu, penasaran, sulit melepaskan sesuatu yang belum selesai—semua itu terasa familiar.

Cerita ini seperti bilang bahwa tidak semua hal dalam hidup harus langsung selesai. Ada yang memang butuh waktu, ada juga yang mungkin akan tetap jadi tanda tanya.

Dan mungkin, yang paling penting bukan tentang menemukan jawabannya, tapi tentang bagaimana kita tetap berjalan meskipun belum sepenuhnya mengerti.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda