Ulasan

Di Ujung Tahta Pajajaran: Tragedi dan Intrik Politik di Akhir Kekuasaan

Di Ujung Tahta Pajajaran: Tragedi dan Intrik Politik di Akhir Kekuasaan
Singgasana Terakhir Pajajaran (Dok.Pribadi/Oktavia)

Melihat cover dan judulnya aku sudah gugup mau membaca buku ini. Tapi saat membuka bab pertama, bahasa yang digunakan buku ini ternyata cukup membuatku bernapas lega. Naratif yang puitis dan dialog sehari-hari di buku ini terbilang cukup mudah diikuti. 

Novel Singgasana Terakhir Pajajaran karya Tatang Sumarsono memadukan sejarah, roman, dan intrik politik. Berlatar masa akhir Kerajaan Pajajaran, novel ini tidak hanya menggambarkan keruntuhan sebuah kekuasaan besar di Tatar Sunda, tetapi juga menyelipkan drama manusiawi yang membuat pembaca terhubung secara emosional.

Sinopsis Buku

Pajajaran, yang berpusat di Pakuan Pajajaran (wilayah yang kini dikenal sebagai Bogor) digambarkan berada di ambang kehancuran. Ancaman datang dari kekuatan baru, terutama Kesultanan Demak, serta tekanan dari Cirebon dan Banten.

Dalam konteks sejarah, perebutan pelabuhan strategis Sunda Kalapa menjadi titik krusial. Pelabuhan ini bukan sekadar tempat perdagangan, melainkan jantung ekonomi kerajaan. Ketika pelabuhan ini goyah, masa depan Pajajaran pun ikut terancam.

Menariknya, novel ini tidak menjadikan raja sebagai pusat cerita. Alih-alih, pembaca diajak mengikuti sudut pandang Adegdaha, seorang pemimpin pasukan khusus Deugdeug Tanjeur, dan Retnayu, seorang penari keraton. Pilihan ini membuat kisah terasa lebih dekat dan manusiawi.

Adegdaha digambarkan sebagai sosok setia namun terjebak dalam dilema moral, terutama karena ia terikat janji dengan Senopati Genggong. Tokoh ambisius yang perlahan berubah menjadi antagonis karena haus kekuasaan.

Di sisi lain, Retnayu menghadirkan lapisan emosi yang kompleks. Pernikahannya dengan Genggong bukan didasari cinta, melainkan tekanan sosial dan keluarga. Kehadiran Adegdaha memunculkan konflik batin yang memperkaya narasi.

Relasi keduanya bukan sekadar kisah cinta terlarang, tetapi juga refleksi tentang pilihan, pengorbanan, dan konsekuensi dalam sistem sosial feodal yang kaku.

Novel ini juga menyisipkan tokoh Wangi Mananggay, seorang anak blasteran Sunda-Portugis yang menjadi simbol pertemuan budaya sekaligus perubahan zaman. Kehadirannya mengingatkan bahwa pada masa itu,

Nusantara telah terhubung dengan dunia luar, termasuk bangsa Portugis yang mulai masuk melalui jalur perdagangan dan politik.

Secara historis, kisah ini bersinggungan dengan masa pemerintahan Prabu Siliwangi (raja besar yang membawa Pajajaran ke puncak kejayaan) hingga masa Prabu Surawisesa (yang menghadapi fase kemunduran) .

Pergeseran kepemimpinan ini digambarkan sebagai titik balik: dari stabilitas menuju kerentanan. Kelemahan politik, ditambah kelengahan para pejabat yang terlena kemewahan, mempercepat runtuhnya fondasi kerajaan.

Kelebihan dan Kekurangan

Dari segi penyajian, Tatang Sumarsono menggunakan bahasa yang relatif ringan dan naratif, sehingga mudah diikuti, terutama oleh pembaca muda. Alur cerita mengalir dengan kombinasi antara konflik politik, strategi perang, dan drama personal.

Namun, sebagian pembaca mungkin merasa bahwa porsi sejarahnya tidak terlalu mendalam. Novel ini lebih condong sebagai fiksi berlatar sejarah daripada rekonstruksi sejarah yang ketat.

Buku ini cocok menjadi pintu masuk bagi pembaca untuk mengenal sejarah Sunda tanpa terasa berat. Ia menghidupkan kembali masa lalu melalui cerita, bukan sekadar data. Intrik seperti pengkhianatan Genggong, loyalitas Adegdaha, serta dilema cinta Retnayu memberi warna yang membuat kisah tidak terasa kaku.

Singgasana Terakhir Pajajaran adalah potret tentang bagaimana sebuah peradaban besar bisa runtuh bukan hanya karena serangan dari luar, tetapi juga karena rapuhnya integritas di dalam.

Di balik perang dan politik, novel ini mengingatkan bahwa sejarah selalu dibentuk oleh manusia dengan segala cinta, ambisi, dan kelemahannya.

Identitas Buku

  • Judul: Singgasana Terakhir Pajajaran
  • Penulis: Tatang Sumarsono
  • Penerbit: Bentang Pustaka 
  • Tahun Terbit: 2010 
  • ISBN: 978-979-1227-92-6
  • Tebal: vi + 568 halaman
  • Genre: Novel, Sejarah, Fiksi 

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda