Ulasan
Review His & Hers: Kisah Pasangan yang Terjebak dalam Lingkaran Konflik!
Dunia drama kriminal dan psychological thriller kembali mendapatkan suntikan adrenalin melalui serial terbaru Netflix, His & Hers. Diadaptasi dari novel best-seller karya Alice Feeney, serial terbatas (limited series) ini telah resmi menyapa penonton global sejak 8 Januari 2026. Sejak penayangannya, serial ini langsung mencuri perhatian berkat premisnya yang tidak biasa: sebuah investigasi pembunuhan yang dilihat dari dua sudut pandang yang bertolak belakang, di mana kebenaran menjadi sesuatu yang sangat subjektif.
Sinopsis: Satu Kematian, Dua Versi Cerita

Bertempat di sebuah kota kecil yang tampak tenang namun menyimpan banyak rahasia di Dahlonega, Georgia, His & Hers berfokus pada dua karakter utama yang memiliki sejarah masa lalu yang rumit.
Anna Andrews (diperankan oleh Tessa Thompson) adalah seorang reporter berita televisi yang kariernya sedang berada di titik nadir setelah sebuah tragedi pribadi menjauhkannya dari layar kaca selama setahun. Ketika sebuah pembunuhan terjadi di kampung halamannya, Anna melihat ini sebagai kesempatan terakhir untuk memperbaiki reputasinya. Tetapi, kepulangannya ke Dahlonega bukan sekadar tugas profesional; ia harus menghadapi hantu masa lalu yang selama ini ia coba kubur rapat-rapat.
Di sisi lain, ada Detektif Jack Harper (diperankan oleh Jon Bernthal), pria yang ditugaskan untuk memimpin penyelidikan kasus pembunuhan tersebut. Menariknya, Jack adalah mantan suami Anna. Hubungan mereka yang retak dan penuh kecurigaan menciptakan dinamika investigasi yang sangat tegang. Jack tidak hanya mencurigai keterlibatan orang-orang di kota tersebut, tetapi ia juga mulai meragukan Anna. Sebaliknya, Anna, dengan insting jurnalisnya, mulai menemukan bukti-bukti yang justru mengarah kepada Jack.
Seperti judulnya, narasi serial ini terbagi antara His (Versi Dia Laki-laki) dan Hers (Versi Dia Perempuan), memaksaku untuk terus menebak siapa yang sebenarnya berkata jujur dan siapa yang sedang memanipulasi fakta.
Review Serial His & Hers

Salah satu kekuatan utama serial ini adalah pemilihan pemainnya. Tessa Thompson memberikan performa yang sangat berlapis sebagai Anna. Ia mampu menampilkan sosok wanita yang rapuh namun memiliki tekad baja, seorang jurnalis yang terobsesi dengan kebenaran meski kebenaran itu mungkin akan menghancurkannya.
Jon Bernthal, yang dikenal melalui perannya dalam The Punisher, kembali menunjukkan karisma tough guy yang menyimpan luka dalam. Sebagai Jack Harper, Bernthal berhasil membawakan karakter detektif yang terhimpit antara tugas profesional dan rahasia kelam yang ia simpan. Chemistry antara Thompson dan Bernthal sangat elektrik; setiap adegan konfrontasi mereka terasa sangat nyata dan penuh dengan ketegangan emosional.
Pemeran pendukung seperti Pablo Schreiber sebagai Richard Jones (kameramen Anna) dan Sunita Mani sebagai Priya Boston Patel (mitra detektif Jack) juga memberikan dimensi tambahan pada cerita. Mereka bukan sekadar pelengkap, melainkan kepingan puzzle yang krusial dalam mengungkap misteri besar di balik pembunuhan di Dahlonega.
Di bawah arahan sutradara William Oldroyd, His & Hers berhasil membangun atmosfer yang mencekam. Penggunaan lokasi di Dahlonega yang dikelilingi pegunungan dan hutan memberikan kesan terisolasi yang mendukung tema cerita. Sinematografinya cenderung gelap dengan palet warna yang dingin, mencerminkan kondisi mental para karakternya yang penuh dengan ketidakpastian.
Tempo penceritaan dalam enam episode ini terasa pas—tidak terlalu cepat sehingga kehilangan detail, namun tidak terlalu lambat hingga membosankan. Setiap akhir episode selalu menyisakan cliffhanger yang membuat aku sebagai penonton sulit untuk tidak menekan tombol Next Episode.
His & Hers bukan sekadar drama whodunnit (siapa pelakunya) biasa. Serial ini mengeksplorasi tema tentang memori, trauma masa lalu, dan bagaimana persepsi seseorang terhadap sebuah kejadian bisa sangat berbeda. Alice Feeney dalam novelnya selalu menekankan bahwa ada dua sisi dalam setiap cerita, dan adaptasi Netflix ini berhasil memvisualisasikan konsep tersebut dengan brilian.
Serial ini juga menyoroti budaya obsesi masyarakat terhadap berita kriminal dan bagaimana media sering kali mengaburkan batas antara informasi dan eksploitasi demi rating. Anna Andrews menjadi representasi dari dilema moral ini—apakah dia mencari keadilan, atau hanya mencari penebusan bagi kariernya sendiri?
Buat kamu yang belum sempat menonton, His & Hers sudah tersedia secara lengkap di Netflix sejak 8 Januari 2026. Seluruh enam episodenya dirilis secara bersamaan, sehingga sangat cocok buat kamu yang gemar melakukan binge-watching di akhir pekan.
Kalau kamu adalah penggemar serial seperti Gone Girl, Sharp Objects, atau The Undoing, maka His & Hers adalah tontonan wajib. Meskipun plotnya terkadang terlalu berbelit-belit dengan twist yang mungkin terasa ekstrem bagi sebagian orang, akting luar biasa dari Tessa Thompson dan Jon Bernthal sudah lebih dari cukup untuk membuat kamu terpaku di depan layar kok.
His & Hers adalah pengingat bahwa terkadang orang yang paling kita kenal—atau bahkan diri kita sendiri—adalah orang yang paling menyimpan rahasia paling gelap. Jangan percaya pada siapa pun, karena dalam cerita ini, semua orang punya alasan untuk berbohong. Rating pribadi: 8.5/10.