Ulasan
Berdamai dengan Hidup Pas-Pasan: Kritik Tajam atas Kapitalisme Modern
Awalnya aku kira buku ini akan berisi dengan romantisasi kemiskinan. Tapi ternyata buku ini justru berisi realitas tentang kehidupan yang dipaksa cukup untuk segala hal. Mulai dari gugatan terhadap hilangnya simpati kita perlahan-lahan, dan betapa rumitnya keluar dari situasi kelas menengah.
Buku Berdamai dengan Hidup Pas-pasan: Seni Hidup Sederhana Namun Bahagia karya Rofi Ali Majid seperti tamparan halus sekaligus ajakan untuk berhenti sejenak dari hiruk pikuk dunia.
Buku yang diterbitkan oleh Psikologi Corner pada tahun 2019 ini membahas sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan modern. Obsesi manusia terhadap kepemilikan. Dengan bahasa yang reflektif dan penuh referensi sosial, Rofi Ali Majid mencoba mengajak pembaca memahami mengapa manusia modern sulit merasa cukup.
Isi Buku
Sejak awal buku, pembaca diajak melihat bagaimana perubahan peradaban manusia melahirkan budaya materialisme. Di era sekarang, hampir semua hal diukur dengan uang. Kesuksesan ditentukan dari jumlah harta, kendaraan, rumah, atau gaya hidup.
Akibatnya, manusia berlomba-lomba mengumpulkan kekayaan dengan keyakinan bahwa semakin banyak yang dimiliki, semakin bahagia hidupnya. Namun buku ini justru mempertanyakan keyakinan tersebut.
Ali menjelaskan bahwa hasrat memiliki bukan sekadar persoalan pribadi, melainkan hasil dari sistem sosial yang terus mendorong manusia menjadi konsumtif. Mesin industri menghasilkan barang dalam jumlah besar, lalu iklan bekerja memanipulasi manusia agar membeli lebih banyak daripada yang sebenarnya mereka butuhkan.
Dari sinilah lahir budaya “hidup harus lebih” yang perlahan membuat manusia kehilangan rasa cukup.
Menurut buku ini, orientasi hidup yang terlalu berpusat pada kepemilikan melahirkan banyak persoalan sosial: ketimpangan ekonomi, kecemasan hidup, hingga hilangnya empati antarmanusia.
Salah satu bagian yang paling menohok adalah pembahasan tentang bunuh diri dan tekanan ekonomi. Ali mempertanyakan sesuatu yang sering luput kita pikirkan: berapa banyak orang yang benar-benar peduli pada seseorang yang terlilit hutang?
Berapa banyak yang membantu orang kehilangan pekerjaan, bukan sekadar memberi nasihat agama atau motivasi kosong?
Dalam salah satu subbab, Ali menyebut bahwa banyak korban bunuh diri sebenarnya adalah korban masyarakat yang egois dan tidak peduli. Pernyataan itu terasa keras, tetapi juga realistis. Kita hidup di tengah masyarakat yang sering sibuk menghakimi tanpa benar-benar hadir membantu.
Ali juga banyak membahas ketimpangan sosial. Ia mengkritik peribahasa lama seperti “hemat pangkal kaya, rajin pangkal pandai” yang menurutnya terlalu menyederhanakan realitas hidup. Sebab pada kenyataannya, tidak semua orang miskin menjadi miskin karena malas atau boros.
Seorang buruh dan majikan bisa sama-sama rajin bekerja, tetapi hasil hidup mereka tetap berbeda jauh. Dari sini Ali ingin menunjukkan bahwa kemiskinan sering kali lahir dari sistem yang timpang, bukan sekadar akibat kurang usaha pribadi.
Pemikiran seperti ini membuat buku Berdamai dengan Hidup Pas-pasan terasa lebih luas daripada sekadar buku motivasi hidup sederhana. Ia juga menjadi kritik sosial terhadap budaya kapitalisme modern yang membuat sebagian orang hidup berlebihan sementara sebagian lain kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.
Kelebihan dan Kekurangan
Meski begitu, buku ini tidak mengajak pembaca membenci uang atau menolak kekayaan. Ali justru menawarkan konsep “pas-pasan” sebagai bentuk pengendalian diri. Hidup pas-pasan bukan berarti hidup sengsara atau anti kemajuan, melainkan hidup secukupnya tanpa diperbudak hasrat memiliki.
Dalam beberapa bagian, buku ini juga terasa seperti curhatan pribadi si penulis. Dan terkadang terasa kurang optimis dan cenderung menyalahkan keadaan.
Yang menarik, Ali tidak menulis buku ini secara dogmatis. Ia menyertakan banyak referensi pemikiran dari berbagai tokoh seperti Erich Fromm, Noam Chomsky, hingga kisah Frederick Douglas. Referensi-referensi ini membuat pembahasannya terasa lebih kuat dan membuka ruang berpikir bagi pembaca.
Saya pribadi merasa buku ini relevan sekali dengan kondisi sekarang. Di media sosial, orang mudah merasa tertinggal hanya karena melihat kehidupan orang lain tampak lebih mewah. Kita dipaksa percaya bahwa kebahagiaan harus terlihat mahal. Padahal sering kali yang benar-benar kita butuhkan hanyalah hidup yang tenang dan cukup.
Berdamai dengan Hidup Pas-pasan adalah buku yang berisi ajakan untuk berdamai dengan diri sendiri. Berhenti membandingkan hidup dengan orang lain, dan memahami bahwa rasa cukup mungkin adalah kemewahan terbesar yang semakin langka di zaman modern.
Identitas Buku
- Judul: Berdamai dengan Hidup Pas-pasan: Seni Hidup Sederhana Namun Bahagia
- Penulis: Rofi Ali Majid
- Penerbit: Psikologi Corner
- Tahun Terbit: 2019
- Kota Terbit: Yogyakarta
- Tebal Buku: 216 halaman
- Klasifikasi: Pengembangan Diri/Psikologi