Ulasan

Membaca Mata yang Enak Dipandang: Cermin Retak Masyarakat Kita yang Masih Sangat Relevan

Membaca Mata yang Enak Dipandang: Cermin Retak Masyarakat Kita yang Masih Sangat Relevan
Mata yang Enak Dipandang (Dok.Pribadi/Oktavia)

Kumpulan cerpen Mata yang Enak Dipandang karya Ahmad Tohari adalah potret getir kehidupan masyarakat kecil Indonesia yang ditulis dengan sederhana. Tapi meski begitu tetap menghantam perasaan pembaca secara perlahan.

Buku yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2013 ini berisi cerpen-cerpen yang sebagian besar pernah dimuat di berbagai media sejak era 1980-an hingga 2000-an. Meski berupa karya fiksi, kisah-kisah di dalamnya terasa begitu dekat dengan realitas sosial yang masih mudah ditemukan sampai hari ini.

Ahmad Tohari memang dikenal sebagai pengarang yang konsisten berbicara tentang orang-orang kecil yang hidup di pinggir masyarakat, terjebak kemiskinan, ketidakadilan, dan keterbatasan hidup.

Isi Buku

Dalam kumpulan cerpen ini, Tohari tidak menghadirkan tokoh-tokoh hebat atau dunia yang glamor. Ia justru membawa pembaca masuk ke lorong-lorong sempit kehidupan rakyat biasa: pengemis, petani, janda miskin, buruh, hingga warga desa yang hidup dari gosip dan prasangka.

Cerpen pembuka berjudul Mata yang Enak Dipandang menjadi salah satu cerita paling kuat dalam buku ini. Kisahnya tentang Mirta, seorang pengemis buta, dan Tarsa, anak kecil yang menjadi penuntunnya. Mereka berjalan dari satu tempat ke tempat lain demi bertahan hidup.

Tidak ada adegan dramatis berlebihan, tetapi justru kesederhanaan itulah yang membuat cerita terasa menyakitkan. Kemiskinan dalam cerita ini bukan sekadar latar, melainkan sesuatu yang mengendalikan hidup tokohnya.

Tohari menggambarkan bagaimana orang miskin sering kali kehilangan pilihan hidup. Mirta dan Tarsa saling membutuhkan bukan karena cinta atau ikatan keluarga, tetapi karena keadaan memaksa mereka bertahan bersama. Relasi seperti ini terasa sangat nyata di masyarakat, ketika kemiskinan membuat manusia terjebak dalam ketergantungan yang tidak sehat.

Kritik sosial Tohari juga terlihat jelas dalam cerpen Bila Jebris Ada di Rumah Kami. Cerita ini membahas seorang janda bernama Jebris yang dikucilkan masyarakat karena dianggap membawa aib. Gosip tentang dirinya menyebar cepat seperti “bau terasi terbakar”, kalimat khas Tohari yang sederhana namun kuat. Yang menarik, Tohari tidak hanya mengkritik kemiskinan ekonomi, tetapi juga kemiskinan empati masyarakat desa.

Jebris menjadi korban standar moral yang timpang. Masyarakat sibuk menghakimi hidupnya, tetapi tidak ada yang benar-benar menolongnya keluar dari keterpurukan. Cerpen ini terasa relevan dengan kondisi sosial hari ini, ketika masyarakat lebih suka mengomentari kehidupan orang lain dibanding memahami alasan di balik tindakan seseorang.

Cerpen lain yang menarik adalah Penipu yang Keempat. Kisah ini terasa satir dan dekat dengan kehidupan modern. Tohari menampilkan bagaimana manipulasi dan penipuan bisa terjadi karena manusia terlalu mudah memainkan belas kasihan. Namun di balik humor dan ironi cerita, Tohari tetap menyisipkan kritik tentang kerasnya hidup yang memaksa orang melakukan apa saja demi bertahan.

Kelebihan dan Kekurangan

Salah satu kekuatan terbesar Ahmad Tohari adalah kemampuannya mengkritik tanpa terdengar menggurui. Ia tidak menulis seperti aktivis yang berteriak di mimbar. Ia hanya menunjukkan kenyataan melalui cerita-cerita sederhana, lalu membiarkan pembaca menyimpulkan sendiri luka sosial yang terjadi.

Tema ketidakadilan sosial juga tampak dalam Paman Doblo Merobek Layang-Layang dan Warung Penajem. Dalam cerita-cerita ini, Tohari menggambarkan bagaimana modernisasi dan kepentingan industri perlahan mengikis hubungan antarmanusia di desa. Orang kecil selalu menjadi pihak yang paling mudah dikorbankan atas nama pembangunan.

Meski banyak berbicara tentang penderitaan, cerpen-cerpen Tohari tidak sepenuhnya gelap. Ada rasa hangat, humor kecil, dan kemanusiaan yang tetap hidup di tengah kesulitan. Itulah yang membuat karya Ahmad Tohari terasa manusiawi. Ia tidak memotret orang miskin sebagai objek belas kasihan semata, melainkan sebagai manusia utuh dengan harga diri, rasa cinta, dan harapan.

Dibanding karya terkenalnya seperti Senyum Karyamin, mungkin merasa kumpulan cerpen ini tidak terlalu mengguncang. Namun Mata yang Enak Dipandang tetap penting dibaca karena memperlihatkan konsistensi Ahmad Tohari dalam merekam realitas sosial Indonesia. Bahasa yang lugas membuat buku ini mudah diakses, bahkan bagi pembaca yang baru mengenal karya sastra Indonesia.

Pada akhirnya, kumpulan cerpen ini mengingatkan bahwa sastra bukan hanya soal keindahan bahasa. Sastra juga bisa menjadi cermin sosial yang memperlihatkan wajah masyarakat apa adanya. Termasuk wajah kemiskinan, ketidakadilan, dan sunyinya hidup orang-orang kecil yang sering luput dipandang.

Identitas Buku

  • Judul Buku: Mata yang Enak Dipandang
  • Penulis: Ahmad Tohari
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Tahun Terbit: 2013
  • ISBN : 978-602-03-0045-0
  • Tebal: 216 Halaman
  • Genre: Kumpulan Cerita Pendek

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda