Ulasan

Jejak Intelektual Buya Hamka: Menenun Pesan Persatuan Di Lembah Sungai Nil

Jejak Intelektual Buya Hamka: Menenun Pesan Persatuan Di Lembah Sungai Nil
Buku di Lembah Sungai Nil. (Dok. Pribadi/Chairun Nisa)

Bagi sebagian besar orang, melakukan perjalanan mungkin hanya sebatas urusan berfoto di destinasi ikonik atau sekadar melepaskan penat dari rutinitas harian. Namun, ketika seorang ulama besar sekaligus sastrawan legendaris kelas atas seperti Profesor Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang lebih dikenal sebagai Buya Hamka melangkahkan kaki ke Mesir, sebuah perjalanan singkat selama tujuh hari pun mampu berubah menjadi sebuah catatan peradaban yang luar biasa mendalam.

Di balik lambaian pohon kurma dan hamparan angin padang pasir, Buya Hamka tidak sekadar melihat bangunan fisik yang mati. Beliau justru membaca denyut nadi sejarah, dinamika sosiopolitik, dan jiwa masyarakat setempat yang sering dijuluki sebagai Umm al Dunya atau Ibu Dunia.

Melalui catatan perjalanannya yang kini diterbitkan oleh gema insani dengan judul Di Lembah Sungai Nil, Buya Hamka membuktikan perbedaan yang sangat mencolok antara petualangan seorang yang kaya ilmu dengan perjalanan orang awam pada umumnya.

Kunjungan resmi beliau sebagai delegasi yang mewakili Indonesia tidak lama setelah era kemerdekaan pada tahun 1950 menjadi bukti nyata bagaimana sebuah memoar perjalanan mampu berfungsi sebagai rekaman sejarah modern yang utuh. Setiap objek, peristiwa, bahkan fenomena sosial buruk yang ditemui sepanjang aliran lembah Sungai Nil tidak luput dari analisisnya yang tajam, tetapi dikemas dengan gaya bahasa yang sangat santai, mengalir, dan tetap puitis.

Kehebatan narasi Buya Hamka terlihat jelas saat beliau berhadapan dengan monumen kuno seperti Sphinx dan Piramida Giza. Di mata orang biasa, tempat tersebut mungkin hanya menjadi latar belakang untuk berfoto, tetapi di bawah pengamatan Hamka, struktur batu kaku tersebut seolah merangkai kembali lembaran sejarah panjang Mesir sejak zaman sebelum Iskandar Agung dari Macedonia hingga era Dinasti Pasha.

Beliau melihat posisi geografis Mesir yang strategis sebagai titik temu yang sangat dinamis antara arus pemikiran Timur dan Barat. Menariknya, ketertarikan Buya Hamka terhadap Mesir ternyata bukan hal baru. Rasa kagum itu sudah ditanamkan oleh ayahnya sejak beliau masih kecil, sehingga perjalanan ini terasa seperti sebuah pembatasan janji sekaligus perwujudan dari impian masa mudanya.

Sebagai seorang tokoh intelektual berjiwa besar, Buya Hamka memanfaatkan waktu yang singkat tersebut untuk menyelami kondisi sosiopolitik dan peta pemikiran lokal. Daya tarik utama dari buku ini adalah kisah ziarah beliau saat bertemu langsung dengan deretan tokoh besar sastra dan pemikiran Mesir waktu itu seperti Taha Hussein, Abbas al Aqqad, dan Dr. Muhammad Hussein Haikal Pasha.

Tidak hanya itu, pembaca juga diajak menikmati kelembutan budaya setempat melalui apresiasi Buya Hamka terhadap bait lirik penyanyi legendaris Umm Kalthoum dan gubahan musik Mohammed Abd el Wahab, serta karya tulisan sarjana perempuan Bint Shati dan penyair Ahmad Syauqi. Walaupun ada sedikit rasa sesal di dalam hati Buya  Hamka karena keterbatasan waktu membuat beliau tidak sempat mengunjungi Luxor atau bertemu sebagian tokoh lainnya, inti ilmu yang berhasil dikumpulkan sudah lebih dari cukup untuk membuat pembaca merasa kagum.

Di samping membahas urusan ilmu, buku ini juga menunjukkan keluhuran pribadi Buya Hamka dalam menyikapi perbedaan pandangan. Sikap bijak dan toleransi beliau terlihat nyata saat berdialog dengan Tuan Karam Ali, seorang tokoh Syiah. Dalam diskusi itu, Buya Hamka menegaskan bahwa persatuan umat Islam jauh lebih penting daripada terus menerus memperpanjang konflik politik masa lalu ke generasi modern.

Di saat yang sama, corak pemikiran modernis Islam beliau yang dipengaruhi oleh para pembaru seperti Jamaluddin al Afghani dan Muhammad Abduh tetap berdiri tegak. Beliau tanpa ragu mengkritik berbagai praktik khurafat yang beliau saksikan di beberapa makam keramat di Mesir, seperti kebiasaan mengirim surat permohonan di makam Imam Syafi'i, yang beliau nilai sebagai bentuk kemunduran dalam cara berpikir.

Setiap perbandingan yang beliau lakukan dengan kondisi umat Islam di Indonesia pada masa itu memberikan refleksi mendalam tentang pentingnya pendidikan dan keterbukan cara pandang tanpa harus mengorbankan nilai keimanan. Gaya penulisannya yang hidup membuat buku ini sangat ramah untuk semua kalangan, mulai dari bahan analisis para akademisi hingga menjadi bacaan santai bagi anak sekolah dasar.

Meskipun alur bukunya yang berbentuk catatan harian terasa cukup panjang dan tidak memiliki konflik dramatis seperti novel fiksi, keberadaan nota kaki yang sangat mendetail berhasil menyelamatkan pembaca dari kekeliruan fakta sejarah. Karya ini benar benar menjadi sebuah jembatan ilmu, sebuah perjalanan spiritual dan intelektual yang mengajarkan kepada kita semua bahwa tidak ada satu momen pun dalam perjalanan hidup yang boleh dibiarkan terbuang sia sia.

Identitas Buku

Judul Buku: Di Lembah Sungai Nil
Penulis: Buya Hamka
Penerbit: Gema Insani
Kategori: Buku Islami
Sub Kategori: Novel atau Catatan Perjalanan
ISBN: 978 623 458 214 7
Jumlah Halaman: 198 Halaman
Tanggal Terbit: Desember 2023
Cetakan: Ke 1

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda