Ulasan

Man on Fire, Series yang Sibuk Jadi Thriller Politik Sampai Lupa Rasa

Man on Fire, Series yang Sibuk Jadi Thriller Politik Sampai Lupa Rasa
Scene Series Man on Fire (Netflix)

Adaptasi lawas yang dihidupkan kembali memang sedang jadi tren besar di layanan streaming. Ada yang berhasil memberi napas baru pada cerita klasik, tapi nggak sedikit pula yang mengulang formula tanpa punya alasan kuat untuk dibuat ulang. Nah, series terbaru Netflix yang tayang sejak 30 April 2026, ‘Man on Fire’, tampaknya masuk ke kategori kedua. 

Meski membawa deretan aktor solid dan premis yang menjanjikan, series ini malah kehilangan bara yang dulu membuat kisahnya begitu membekas. Series aksi-thriller ini dibuat Kyle Killen dan diproduksi Netflix sebagai adaptasi terbaru dari novel karya A. J. Quinnell. Sebelumnya, kisah yang sama pernah diangkat menjadi film tahun 1987 dan versi paling populer tahun 2004 yang dibintangi Denzel Washington. Kali ini, tongkat estafet diberikan kepada Yahya Abdul-Mateen II sebagai John Creasy.

Selain Yahya, series ini juga dibintangi Billie Boullet sebagai Poe Rayburn, Bobby Cannavale sebagai Paul Rayburn, Alice Braga sebagai Valeria Melo, dan Scoot McNairy sebagai Henry Tappan.

Sobat Yoursay penasaran dengan kisahnya? Kepoin, yuk!

Sekilas Kisah Series Man on Fire

Scene Series Man on Fire (Netflix)
Scene Series Man on Fire (Netflix)

Ceritanya mengikuti John Creasy, mantan tentara bayaran yang hidupnya hancur setelah melaksanakan misi yang gagal hingga menewaskan seluruh rekan satu timnya. Trauma berat membuatnya berubah menjadi sosok dengan luka fisik dan batin. 

John menghabiskan hari-harinya dengan alkohol dan mimpi buruk yang nggak kunjung pergi. Setelah mencoba mengakhiri hidupnya sendiri, Creasy akhirnya ditolong sahabat lamanya, Paul Rayburn, yang meminta bantuannya untuk membongkar jaringan teroris berbahaya di Rio de Janeiro.

Namun, situasi berubah semakin kacau ketika gedung tempat Rayburn tinggal meledak. Rayburn tewas, sementara putrinya, Poe, menjadi target kelompok yang sama. Mau nggak mau, Creasy harus menjadi pelindung bagi gadis itu, meski dirinya sendiri sebenarnya belum selesai dengan trauma masa lalu.

Gimana kelanjutannya? Cek Netflix deh!

Review Series Man on Fire

Poster Series Man on Fire (Netflix)
Poster Series Man on Fire (Netflix)

Dari awal, series ini sebenarnya punya pondasi emosional yang cukup kuat. Aku pribadi merasa hubungan antara Creasy dan Poe adalah bagian terbaik dari keseluruhan cerita. Ada dinamika menarik antara seorang pria yang kehilangan arah hidup dengan anak kecil yang perlahan mencoba masuk ke dunianya. Poe terus berusaha mendekat, sementara Creasy mati-matian menjaga jarak karena takut kehilangan lagi. Hubungan mereka terasa hangat sekaligus menyakitkan.

Penampilan Yahya Abdul-Mateen II juga masih jadi daya tarik utama. Dia berhasil membawa aura lelah, kosong, dan banyak amarah dalam karakter Creasy. Meski begitu, aku merasa naskah series ini terlalu aman dan nggak benar-benar memberi ruang bagi Yahya untuk mengeksplorasi sisi emosional karakter lebih dalam. Karakter Creasy akhirnya terlalu datar di beberapa episode.

Yang cukup mengejutkan justru chemistry antara Creasy, Poe, dan Valeria. Saat ketiganya berada dalam satu adegan, series ini sangat hidup. Ada momen-momen kecil ketika mereka berbicara tentang luka masing-masing, mencoba bertahan hidup bersama, dan perlahan saling bergantung.

Sayangnya, series ini terlalu sering memisahkan mereka demi subplot politik dan aksi yang malah terasa membosankan. Dan di sinilah masalah terbesar Series Man on Fire versi 2026. Series ini pun terlalu sibuk menjadi thriller politik berskala besar sampai lupa inti cerita sebenarnya adalah hubungan antar karakternya. 

Adegan aksi memang banyak, tapi kebanyakan terasa hambar dan kurang intens. Bahkan beberapa baku tembak lewat begitu saja tanpa meninggalkan kesan berarti. Padahal untuk series dengan tema mantan pembunuh bayaran yang diburu teroris, seharusnya tensi bisa jauh lebih menegangkan.

Belum lagi visualnya yang kadang terasa terlalu gelap dan terkadang ada scene dengan pencahayaan mencolok. Bukannya membuat atmosfer lebih keren, beberapa adegan terlihat berlebihan dan melelahkan dilihat.

Sepanjang tujuh episode, aku juga terus bertanya-tanya, “Kenapa cerita ini harus dijadikan series?”

Rasanya materi cerita ‘Man on Fire’ sebenarnya jauh lebih cocok menjadi film dua jam yang padat dan fokus. Karena dibuat menjadi series, ceritanya malah melebar ke mana-mana. Banyak subplot terasa nggak perlu dan hanya memperlambat perkembangan karakter utama. Akibatnya, emosi yang harusnya jadi kekuatan utama malah tenggelam di tengah intrik politik yang membingungkan.

Yang paling disayangkan itu, sebenarnya punya potensi besar buat menjadi drama trauma yang intim dan menyentuh. Ada beberapa adegan yang berhasil menunjukkan sisi rapuh manusia-manusia di dalamnya. Namun, setiap kali series ini mulai terasa emosional, cerita langsung dipotong aksi generik atau konspirasi pemerintah yang nggak terlalu menarik.

Bila Sobat Yoursay belum pernah nonton versi sebelumnya, ‘Man on Fire’ versi 2026 mungkin masih bisa dinikmati sebagai tontonan aksi mingguan. Hanya saja, bila pernah nonton versi 2004, sulit untuk nggak terus membandingkannya. Jika Sobat Yoursay merasa perlu nonton dan membandingkan kesanmu dengan kesanku ini, buka Netflix sekarang juga ya! Selamat nonton. 

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda