Ulasan

Di Antara Mimpi, Identitas, dan Trauma dalam Novel Ceritakan Mimpi-Mimpimu

Di Antara Mimpi, Identitas, dan Trauma dalam Novel Ceritakan Mimpi-Mimpimu
Novel Ceritakan Mimpi-Mimpimu (Dok. Ipusnas)

Apa rasanya, ketika kau mendadak hilang kesadaran dan saat terbangun kau bukan berada di ranjangmu sendiri? Kau berada di lain kota, tanpa identitas, mengenakan pakaian yang bukan milikmu, dan kehilangan orientasi waktu berhari-hari.

Bingung? Ketakutan barangkali?

Ya, itu juga yang dirasakan oleh Ashley Patterson. Hal yang berulang terjadi ketika ia tak menyadari berapa hari telah berlalu. Apa yang ia lakukan selama waktu-waktu yang hilang tersebut. Mengapa sesudahnya ia selalu merasa lelah yang amat sangat, tapi tak bisa mengingat sedikit pun?

Kisah menarik bergenre thriller psikologis yang mengangkat tema Multiple Personality Disorder (MPD) ini, ada di dalam novel Ceritakan Mimpi-Mimpimu (Tell Me Your Dreams) karya dari Sidney Sheldon, yang di Indonesia diterbitkan pertama kali oleh Gramedia Pustaka Utama pada tahun 1999.

Kisah bermula ketika sang tokoh utama dalam novel ini, Ashley Patterson, merasa dirinya dikuntit oleh seseorang, dari serangkaian jejak yang ditinggalkan sang penguntit di apartemennya; lampu apartemen yang ditinggalkan dalam keadaan gelap, tapi lalu menyala, sisa puntung rokok di meja rias, laci pakaian dalam yang diacak-acak.

Ashley yang bekerja di Global Computer Graphics Corporation, juga mendapat ancaman lewat komputer kantornya. Puncaknya ketika Ashley menemukan tulisan di cermin kamar mandi bertuliskan ‘Kau Akan Mati’, yang membuatnya kemudian memutuskan meminta bantuan kepolisian.

Sementara itu di saat bersamaan, polisi tengah menangani serangkaian kasus pembunuhan brutal terhadap laki-laki. Para korban dikebiri. Lalu dari sejumlah barang bukti yang ditemukan, polisi menemukan keterlibatan antara Ashley Patterson dan dua perempuan lainnya, Toni Prescott dan Alette Peters.

Polisi menangkap Ashley dan menempatkannya di Santa Clara County Jail sambil menunggu sidang pengadilannya dimulai. Ashley terguncang karena yakin tak pernah melakukan semua pembunuhan tersebut. Di titik ini cerita kemudian bergulir melalui serangkaian drama pengadilan dari teka-teki identitas, trauma, hingga sisi gelap pikiran manusia.

Seluruh hidupnya menjadi mimpi buruk yang sangat mengerikan. Ashley memikirkan semua kejadian misterius yang telah terjadi: Ada orang yang masuk apartemennya dan mempermainkannya. Kunjungan ke Chicago. Tulisan di cerminnya. Dan sekarang polisi menuduhnya melakukan hal-hal menyeramkan yang sama sekali tak ia ketahui. (Hal. 152)

Ceritakan Mimpi-Mimpimu (Tell Me Your Dreams) merupakan thriller psikologis yang memadukan misteri, ketegangan, kesehatan mental, dan drama emosional yang menjadikannya satu rangkaian cerita yang terus menggugah rasa penasaran saya selaku pembaca.

Dalam serangkaian aksi pembunuhan brutal yang menjadikan Ashley sebagai tertuduh, pembaca akan diajak memasuki babak demi babak pengadilan yang menguras emosi.

Alur cerita cepat dan penuh kejutan. Setiap bab seperti potongan puzzle yang terus mencari potongan lainnya di setiap bab yang penuh misteri. Gaya bahasa sederhana, tapi tetap mampu menciptakan ketegangan yang memikat.

Tokoh-tokoh alter juga dibuat sangat hidup. Mereka memiliki kepribadian, aksen, dan kebiasaan yang berbeda. Plot twist sangat memukau. Saya benar-benar terjebak dengan kenyataan manis yang mengakhiri cerita, tapi ternyata menyimpan kejutan besar.

Sedikit kekurangan dari novel ini, setelah babak pengadilan usai, pace cerita menjadi terlalu lambat, sedikit membosankan. Lalu terdapat unsur trauma mental yang cukup kental, sehingga kurang cocok untuk pembaca remaja karena beberapa adegan terasa berat dan mengganggu secara emosional.

Beberapa karakter pendukung juga kurang berkembang, karena fokus cerita terlalu menyorot pada Ashley dan segala misteri kehidupannya. Dan, karena novel ini terbitan tahun 90-an, tentu saja masalah kesehatan mental sudah jauh berbeda penanganannya dengan masa sekarang. Jadi, sedikit ada perbedaan perspektif dan dalam novel ini kesehatan mental Ashley cenderung lebih didramatisir.

Namun, selain dari kekurangannya tersebut, novel Ceritakan Mimpi-Mimpimu (Tell Me Your Dreams) merupakan novel thriller psikologis yang kuat. Novel ini tak sekadar bercerita tentang pembunuhan, tapi juga menggambarkan trauma masa kecil, identitas, kesehatan mental, dan usaha seseorang untuk bisa terlepas dari trauma.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda