Ulasan

Rasina: Kisah Pilu Budak Bisu di Tengah Genosida VOC di Tanah Banda Neira

Rasina: Kisah Pilu Budak Bisu di Tengah Genosida VOC di Tanah Banda Neira
Novel Rasina. (Dok. pribadi/Chairun Nisa)

Bagi para pencinta fiksi sejarah tanah air, nama Iksaka Banu tentu menempati posisi khusus. Setelah sukses memukau pembaca lewat ketajaman emosi dalam kumpulan cerpen Semua untuk Hindia dan Teh dan Pengkhianat, saya pribadi tanpa ragu menobatkan beliau sebagai penulis spesialis zaman Belanda. Kemampuannya menghidupkan kembali detail kolonial secara visual lewat kata-kata selalu berhasil membuat pembaca merasa terlempar ke masa lalu. Melalui novel terbarunya yang cukup tebal bertajuk Rasina, Iksaka Banu kembali membuktikan kepiawaiannya tersebut, kali ini dengan skala penceritaan yang jauh lebih kolosal, intim, sekaligus menyayat hati.

Ulasan

Pada halaman awal novel Rasina, pembaca langsung disuguhkan dengan materi pelengkap sejarah berupa visualisasi struktur organisasi VOC abad ke-17 hingga ke-18, glosarium jabatan kompeni, hingga peta kuno Batavia. Lembar-lembar tebal pembuka ini menjadi jangkar historis yang penting sebelum cerita utama melompat ke sebuah adegan menegangkan di Batavia pada tahun 1755.

Di sebuah kedai Tionghoa yang riuh di luar tembok kota, cerita langsung bergerak cepat ketika duo petugas hukum kompeni, Jan Aldemaar Staalhart sang Baljuw Batavia dan deputinya, Joost Borstveld yang menjabat sebagai Landdrost Ommelanden Timur, menyelamatkan seorang budak perempuan bernama Rasina dari buruan tukang pukul majikannya.

Meskipun namanya diangkat menjadi judul utama, sosok Rasina tidak serta-merta menguasai panggung sejak awal. Ia diperkenalkan secara perlahan sebagai perwujudan dari ketimpangan sosial kolonial yang ekstrem. Rasina adalah gadis remaja berusia lima belas tahun yang hidupnya terikat status budak, namun ia menyimpan rahasia besar yang berbahaya bagi lingkaran kekuasaan di Batavia.

Lidahnya telah dikerat hingga hampir bisu oleh tuannya, Jacobus de Vries—seorang pengusaha kaya sekaligus bandar madat ilegal agar ia tidak bisa membeberkan kekejaman serta skandal bisnis hitam yang terjadi di dalam rumah mewah sang majikan.

Daya tarik utama dari narasi ini terletak pada struktur dua plot dengan sudut pandang orang pertama (point of view orang pertama) yang disajikan secara selang-seling sepanjang bab. Plot pertama berfokus pada tahun 1755, di mana Batavia sedang berada di ambang kebangkrutan akibat korupsi akut para pejabat VOC yang hanya berambisi menumpuk kekayaan pribadi.

Penyelidikan hukum yang dimulai oleh Staalhart dan Joost atas kematian mencurigakan seorang budak bernama Jimun, perlahan-lahan membuka kotak pandora yang menyeret nama-nama besar dalam jaringan penyelundupan budak dan perdagangan opium lintas koloni. Di tengah investigasi yang berbahaya ini, Joost yang bertugas menjaga Rasina mulai membangun kedekatan emosional yang getir dengan gadis trauma tersebut, mencoba mengorek kesaksiannya demi menyeret De Vries ke meja hijau.

Sementara itu, plot kedua membawa pembaca mundur jauh ke tahun 1621 melalui lembaran-lembaran buku harian kuno milik kakek Staalhart, Hendriek Cornelis Adam, yang kala itu bertugas sebagai juru tulis militer VOC. Plot masa lalu ini merekam lembaran paling berdarah dalam sejarah nusantara: keputusan Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen untuk melakukan pembantaian massal dan pengusiran paksa terhadap seluruh penduduk asli kepulauan Banda.

Langkah kejam ini diambil VOC demi menegakkan monopoli penuh atas perdagangan buah pala, komoditas emas hitam endemik yang ambisinya memicu penaklukan masif dari bangsa-bangsa Eropa. Melalui tulisan sang juru tulis yang anonim namun jujur, pembaca diajak menyaksikan bagaimana pluralitas baru di Banda lahir di atas genosida warga lokalnya sendiri.

Mendekati bagian klimaks, tempo cerita yang awalnya lambat karena padatnya istilah birokrasi Belanda berubah bergerak sangat cepat. Penulis secara konsisten mempertahankan detail latar yang hidup, mulai dari kilau lantai pualam teras Prancis hingga pekatnya atmosfer rumah-rumah bordil di pinggiran Batavia.

Pada akhirnya, novel ini sengaja tidak menyuguhkan akhir cerita yang membahagiakan ataupun heroik. Resolusi yang dihadirkan justru terasa sangat realistis secara historis; memperlihatkan betapa terbatas dan rapuhnya penegakan hukum ketika harus berhadapan dengan belantara sistem kolonial yang dari akarnya sudah represif dan korup.

Buku pelajaran IPS memang terasa kering karena isinya padat dengan angka tahun, nama jenderal, dan traktat perjanjian yang harus dihafal untuk ujian. Sebaliknya, novel fiksi sejarah seperti Rasina ini mengajak kita masuk lewat pintu emosi. Kita tidak cuma membaca tentang "monopoli pala tahun 1621", tapi ikut merasakan bagaimana nyeseknya menjadi penduduk asli Banda yang diusir dari tanahnya sendiri, atau bagaimana ngerinya praktik perbudakan yang memperlakukan manusia seperti barang dagangan.

Iksaka Banu memang jago menyisipkan riset sejarah yang super detail—mulai dari tata kota Batavia luar tembok, hierarki jabatan kompeni, sampai peta wilayah—ke dalam jalinan cerita misteri dan investigasi hukum. Efeknya, sejarah itu jadi terasa hidup, sinematik, dan punya "jiwa". Belajar sejarah kolonial lewat fiksi seperti ini justru bikin kita lebih paham mengapa sebuah peristiwa bisa terjadi dan apa dampaknya secara manusiawi, bukan sekadar tahu angka tahunnya saja.

Identitas Buku

Judul Buku: Rasina, Sebuah Novel
Penulis: Iksaka Banu
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan: Pertama, Maret 2023
Tebal Buku: xxvii + 587 halaman
ISBN: 978-602-481-986-6

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda