Ulasan
Review Film Masters of The Universe: Adaptasi Modern Franchise Legendaris!
Film Masters of the Universe yang dirilis pada tahun 2026 merupakan adaptasi live-action terbaru dari franchise ikonik Mattel yang berasal dari era 1980-an. Disutradarai oleh Travis Knight, film ini menghadirkan kembali petualangan epik di planet Eternia dengan sentuhan visual modern yang memadukan elemen fantasi klasik dan aksi kontemporer. Dengan durasi sekitar 132 menit, film ini mengusung genre sword and sorcery yang penuh dengan pertarungan heroik, efek visual memukau, serta narasi tentang takdir, persahabatan, dan kekuatan sejati.
Kekuatan Persahabatan di Alam Semesta

Cerita berfokus pada Prince Adam (diperankan oleh Nicholas Galitzine), seorang pemuda biasa yang dibesarkan di Bumi setelah terpisah dari asal-usulnya selama 15 tahun. Pedang kekuatan (Sword of Power) membawanya kembali ke Eternia, di mana kerajaannya telah hancur di bawah kekuasaan tirani Skeletor (Jared Leto).
Untuk menyelamatkan keluarganya dan dunianya, Adam harus merangkul takdirnya sebagai He-Man, manusia terkuat di alam semesta. Ia bergabung dengan sekutu setia seperti Teela (Camila Mendes) dan Duncan atau Man-At-Arms (Idris Elba), serta karakter pendukung lainnya termasuk Cringer, Fisto, dan Ram Man.
Narasi film ini secara cerdas menggabungkan flashback masa kecil Adam di Eternia dengan kehidupannya di Bumi, menciptakan lapisan emosional yang kuat. Konflik utama melibatkan perebutan kekuasaan atas Castle Grayskull dan rahasia Pedang Kekuatan yang mampu mengubah nasib seluruh alam semesta. Elemen coming-of-age Adam sebagai pahlawan yang ragu-ragu menambah kedalaman pada karakter utama, sementara Skeletor digambarkan sebagai antagonis yang karismatik dan mengancam dengan desain visual yang dramatis.
Review Film Masters of the Universe

Visual efek film ini menjadi salah satu kekuatannya. Travis Knight, yang dikenal dengan karya stop-motion seperti Coraline, berhasil menghadirkan Eternia yang megah dengan landscape yang indah, pertarungan epik, dan desain kostum yang setia pada estetika retro namun ditingkatkan dengan teknologi CGI mutakhir. Skor musik yang epik mendukung nuansa heroik, sementara aksi koreografi pertarungan terasa dinamis dan memuaskan.
Penampilan para aktor utama patut diapresiasi. Nicholas Galitzine membawa karisma yang diperlukan untuk peran Prince Adam atau He-Man, menampilkan transisi dari pemuda biasa menjadi pahlawan yang percaya diri. Jared Leto sebagai Skeletor memberikan interpretasi yang intens dan teatrikal, sering mencuri perhatian dengan monolog dan ekspresi jahatnya. Idris Elba menghadirkan kedalaman pada Man-At-Arms sebagai mentor yang bijaksana, sementara Camila Mendes memberikan energi segar sebagai Teela yang tangguh. Chemistry antar karakter pendukung memperkaya dinamika kelompok.
Kelebihan utama film ini terletak pada penghormatannya terhadap warisan franchise sambil memperbarui cerita untuk generasi baru. Adegan aksi yang spektakuler, humor ringan, dan tema persahabatan membuatnya cocok untuk penonton keluarga. Namun, beberapa kritikku terutama pada plot yang terkadang mengikuti formula klasik dan predictable, durasi film yang panjang mungkin terasa sedikit lambat di bagian awal saat membangun dunia. Meski demikian, film ini berhasil menangkap esensi nostalgia tanpa terjebak sepenuhnya pada masa lalu, kok.
Film Masters of the Universe resmi tayang di bioskop Indonesia mulai 3 Juni 2026. Penayangan tersedia di jaringan bioskop besar seperti CGV, XXI, Cinema 21, Cinepolis, dan lainnya. Tiket sudah dapat dibeli sejak akhir Mei 2026, dengan sesi awal yang ramai diminati penggemar.
Salah satu adegan paling ikonik adalah saat Prince Adam pertama kali mengangkat Pedang Kekuatan dan berteriak “By the Power of Grayskull! I Have the Power!”. Transformasi menjadi He-Man disajikan dengan efek visual yang dramatis, cahaya menyilaukan, dan musik yang menggelegar, menciptakan momen cathartic yang langsung membangkitkan nostalgia penggemar lama. Adegan ini tidak hanya visually stunning tetapi juga secara emosional memuaskan, menandai titik balik karakter utama.
Satu lagi adegan yang tak bisa kulupakan adalah duel maut antara He-Man dan Skeletor di reruntuhan Castle Grayskull yang jadi penutup epik film ini. Pertarungan ini penuh dengan aksi intens, dialog tajam, dan elemen kejutan yang melibatkan sekutu kedua belah pihak. Ekspresi Skeletor yang penuh amarah dan putus asa, dikombinasikan dengan determinasi He-Man, meninggalkan kesan mendalam tentang tema kekuasaan dan pengorbanan. Aku pun juga mengingat adegan emosional reunian Adam dengan orang tuanya serta momen persahabatan dengan Cringer, yang menambahkan sentuhan hangat di tengah aksinya yang spektakuler.
Secara keseluruhan, Masters of the Universe (2026) adalah hiburan epik yang sukses merevitalisasi franchise klasik. Dengan perpaduan aksi, visual memukau, dan cerita yang heartfelt, film ini layak ditonton di layar lebar untuk pengalaman maksimal.
Buat kamu penggemar He-Man lama maupun penonton baru, film ini menawarkan petualangan yang menghibur dan menginspirasi. Meskipun tidak sempurna, keberhasilannya dalam menangkap semangat asli membuatnya menjadi tambahan berharga dalam genre fantasi modern. Rating pribadi: 7/10.