News
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
Kore wa yume ka? Genjitsu nara
Boku wa mou hitogoroshi da
Sonna baka na taerarenai
Konna mono suteru beki ka.
Ada yang masih familier dengan potongan lirik lagu tersebut? Bagi generasi yang tumbuh pada era 1990-an hingga awal 2000-an, lirik itu mungkin langsung mengingatkan pada soundtrack anime yang dulu setia menemani waktu sepulang sekolah.
Namun, pernahkah terpikir bahwa kini komunitas yang secara khusus membahas anime lawas dan lagu-lagu Jepang era tersebut makin jarang ditemukan? Di tengah maraknya budaya pop Jepang modern dengan anime dan idol generasi terbaru, ruang untuk bernostalgia bersama justru terasa makin terbatas.
Berawal dari Kerinduan pada Anime Lawas
Berangkat dari keresahan itulah Orutaku Club hadir. Komunitas ini menjadi wadah bagi para penggemar budaya pop Jepang lawas untuk kembali menikmati lagu anime, J-pop, hingga tokusatsu era 1980-an sampai awal 2000-an bersama ratusan orang yang memiliki kenangan serupa.
Orutaku Club berdiri pada 2018, berawal dari kebiasaan lima orang pendirinya menghadiri berbagai acara karaoke nostalgia. Saat itu, banyak acara yang mengangkat lagu-lagu Indonesia maupun Barat era 1990-an, tetapi belum ada yang secara khusus menghadirkan lagu anime dan budaya pop Jepang lawas.
Salah satu pendiri Orutaku Club, Triska Sarwono, mengatakan ide tersebut muncul karena mereka merasa lagu-lagu anime justru menjadi musik yang paling melekat di ingatan generasi mereka.
"Kalau memang mau nostalgia, kenapa tidak dibikin lagu Jepang? Soalnya yang paling kita hafal sampai sekarang justru lagu-lagu anime," ujar Triska.
Karena merasa tidak ada pihak lain yang menyediakan ruang bagi penggemar anime generasi lama, mereka pun akhirnya iseng membuat acara sendiri. Tak disangka, acara perdana justru mendapat respons yang sangat positif.
"Nah terus, ya sudah, kita iseng saja. Ya sudah, kita saja sendiri yang bikin kalau tidak ada orang lain yang bikin. Di situlah kita bikin Orutaku Vol. 1 namanya. Dan ternyata karena acara pertama sudah cukup ramai, dan orang-orang juga antusias untuk bikin acara lagi, jadi ya kita teruskan, jadi rutin sampai sekarang," tambahnya.
Makna di Balik Nama Orutaku
Dari ide sederhana tersebut, lahirlah acara karaoke bertajuk Orutaku yang hingga kini rutin digelar satu hingga dua kali setiap tahun. Nama Orutaku sendiri memiliki makna khusus.
"Itu istilah ciptaan kita saja, sih. Itu kepanjangan dari Old School Otaku. Tapi kalau ditulis dengan katakana, kalau old itu jadi orudo, jadi maksudnya Orudo Otaku, terus disingkat jadi Orutaku," jelas Triska.
Nama tersebut sengaja dipilih untuk menggambarkan identitas komunitas sebagai rumah bagi para penggemar budaya pop Jepang generasi lama. Berbeda dengan komunitas anime lain yang mengikuti perkembangan serial terbaru, Orutaku justru konsisten menghadirkan lagu-lagu dan kenangan dari era 1980-an hingga awal 2000-an.
Menurut Triska, banyak penggemar anime generasi lama yang merasa tidak lagi memiliki tempat ketika menghadiri festival Jepang saat ini karena mayoritas kontennya sudah didominasi anime dan karakter baru.
"Cuma kita sebagai wibu zaman dulu itu tidak nyambung kalau ke acara-acara itu. Lagu-lagunya sudah anime zaman sekarang, orang cosplay juga karakter zaman sekarang. Zaman dulu juga jarang ada event. Sekarang giliran event banyak, malah kita sudah tidak nyambung. Jadi, ya sudah, kita saja yang bikin," paparnya mengenai alasan utama lahirnya komunitas ini.
Bukan Sekadar Karaoke, tetapi Perjalanan Kembali ke Masa Kecil

Tidak hanya mengandalkan karaoke bersama, Orutaku juga menghadirkan berbagai aktivitas yang memperkuat nuansa nostalgia. Pengunjung dapat memainkan PlayStation 1 dengan gim klasik, mengikuti kuis anime lawas, hingga mengunjungi mini art market yang diisi ilustrator dan kreator lokal bertema budaya pop Jepang.
Konsep tersebut membuat setiap acara terasa seperti perjalanan kembali ke masa kecil. Pengunjung tidak hanya menyanyikan lagu-lagu favorit mereka, tetapi juga menikmati berbagai aktivitas yang pernah menjadi bagian dari kehidupan generasi 1990-an.
Antusiasme masyarakat pun terus terjaga. Setelah pandemi Covid-19, acara Orutaku sempat dihadiri sekitar 900 orang. Kini, jumlah pengunjung relatif stabil di kisaran 500 hingga 600 orang pada setiap penyelenggaraan.
Agenda utama Orutaku secara rutin digelar setiap momen Halloween, yakni pada akhir Oktober atau awal November. Selain itu, komunitas ini juga mengadakan acara tambahan sesuai kebutuhan dengan tema yang berbeda. Salah satunya adalah Oru Summer, sebuah acara bertema musim panas yang pernah diselenggarakan pada bulan Agustus.
Lebih dari sekadar bernyanyi bersama, acara ini rupanya menjadi ajang untuk kembali merasakan kebahagiaan sederhana di masa lalu.
"Kita mau jadi wadah untuk orang escape adulthood. Sehari-hari orang sudah banyak pusing tentang kerja, keluarga, cicilan, dan lain-lain. Di Orutaku satu malam itu mereka bisa kembali ke masa kecil," ungkap Triska.
Menariknya, Orutaku tidak hanya diikuti oleh mereka yang tumbuh bersama anime era 1990-an. Sejumlah pengunjung yang lebih muda juga mulai mengenal lagu-lagu lawas setelah mengikuti acara tersebut. Bahkan ada peserta yang awalnya hanya mengetahui sedikit lagu anime klasik, tetapi kemudian makin mendalami budaya pop Jepang lawas hingga aktif terlibat dalam komunitas.
Menjaga Nostalgia Sekaligus Mendukung Kreator Lokal
Selain menjadi ruang nostalgia, Orutaku juga berupaya mendukung ekosistem kreatif lokal. Dalam setiap penyelenggaraan acara, komunitas ini selalu menggandeng dan berkolaborasi dengan banyak pihak dari berbagai daerah.
"Kita ingin memberdayakan orang-orang kreatif di Indonesia. Dengan menjalin hubungan juga sama artis lokal, meng-hire DJ, VJ, terus untuk poster juga pasti kita memberi komisi ke ilustrator lokal. Kita juga jadi menjalin hubungan sama content creator," tutur Triska.
Kolaborasi tersebut menjadi salah satu cara Orutaku memperluas jejaring komunitas sekaligus memberikan ruang bagi para pelaku industri kreatif yang memiliki ketertarikan terhadap budaya pop Jepang.
Bagi masyarakat yang ingin mengetahui informasi mengenai agenda dan kegiatan mereka, Orutaku aktif membagikan berbagai informasi melalui akun Instagram @orutakuclub.
Di tengah derasnya arus budaya pop modern, Orutaku membuktikan bahwa lagu-lagu anime dan budaya pop Jepang lawas masih memiliki tempat di hati banyak orang.
Lebih dari sekadar komunitas nostalgia, Orutaku menjadi ruang untuk bertemu kembali dengan kenangan masa kecil, membangun relasi baru, sekaligus menjaga agar lagu-lagu dan anime yang pernah mewarnai masa tumbuh generasi 1990-an tetap hidup dan dikenang lintas generasi.