Ulasan

Bagaimana Backrooms dari Foto Anonim Jadi Fenomena Horor Psikologis Dunia?

Bagaimana Backrooms dari Foto Anonim Jadi Fenomena Horor Psikologis Dunia?
Scene dalam Film Backrooms (IMDb)

Banyak monster horor lahir dari novel, cerita rakyat, atau film. Dracula berasal dari sastra, Frankenstein muncul dari imajinasi penulis, bahkan banyak hantu terkenal yang kita kenal hari ini berakar pada mitologi dan folklore yang turun-temurun selama puluhan hingga ratusan tahun.

Backrooms berbeda. Kisahnya lahir dari internet, sebelum menjadi film horor psikologis dibalut fiksi ilmiah yang sudah tayang di Indonesia sejak 10 Juni 2026. Awalnya, Backrooms hanyalah sebuah foto yang beredar di forum internet. Foto itu menampilkan ruangan kosong dengan dinding kuning kusam dan lampu neon yang tampak menyala tanpa akhir. Nggak ada cerita yang jelas.

Orang-orang mulai menciptakan teori, cerita, dan mitologi mereka sendiri. Dari satu gambar, lahirlah konsep tentang sebuah ruang di luar realita yang bisa dimasuki manusia secara nggak sengaja. Tempat tanpa akhir yang hampir mustahil untuk ditinggalkan. Fenomena itulah yang kemudian berkembang menjadi salah satu kisah internet paling terkenal dalam dua dekade terakhir.

Kesuksesan tersebut akhirnya membawa Backrooms menuju layar lebar melalui film berjudul sama yang disutradarai Kane Parsons. Nama Parsons sendiri bukan sosok asing bagi para penggemar Backrooms karena dia merupakan kreator serial analog horror Backrooms yang viral di YouTube melalui kanal Kane Pixels.

Film ini diproduksi A24, studio yang suka main-main dengan berbagai film horor atmosferik. Di antaranya: Hereditary, Midsommar, dan Talk to Me. Naskahnya ditulis Will Soodik dengan jajaran pemain yang diisi Chiwetel Ejiofor sebagai Clark, Renate Reinsve sebagai Dr. Mary Kline, Mark Duplass sebagai Phil, Finn Bennett sebagai Bobby, Lukita Maxwell sebagai Kat, serta Avan Jogia sebagai Naren Warne.

Ceritanya mengambil latar Santa Clara pada tahun 1990. Clark adalah pemilik toko furnitur yang kehidupannya sedang berada di titik terburuk. Bisnisnya hampir bangkrut, kondisi finansialnya berantakan, dan kehidupan pribadinya nggak berjalan baik. Dalam kondisi tersebut, dia menemukan sesuatu yang mustahil di ruang bawah tanah tokonya. Sebuah celah menuju tempat yang nggak seharusnya ada. Tempat itu adalah Backrooms.

Awalnya ruang itu kayak kantor kosong biasa. Dinding kuning, lampu neon, dan lorong-lorong yang terlihat membosankan. Namun, semakin jauh Clark menjelajah, semakin jelas tempat itu nggak mengikuti hukum ruang dan waktu yang normal.

Lorong terus bercabang tanpa akhir. Ruangan saling terhubung dengan cara yang mustahil. Arah menjadi nggak berarti.

Ketika Clark mulai melibatkan orang lain untuk mendokumentasikan fenomena tersebut, misteri yang awalnya terlihat menarik perlahan berubah menjadi mimpi buruk. Seburuk apa, sih? Sobat Yoursay wajib banget buat tahu banyak film ini dengan nonton langsung di bioskop. 

Bagaimana Generasi Digital Menciptakan Mitologi Backrooms

Scene dalam Film Backrooms (IMDb)
Scene dalam Film Backrooms (IMDb)

Menurutku, terkait pembahasan ‘bagaimana generasi digital menciptakan mitologi mereka sendiri’, merupakan hal menarik yang sangat layak dikupas lebih dalam. 

Begini, Sobat Yoursay. Selama berabad-abad, manusia selalu menciptakan cerita untuk menjelaskan ketakutan yang nggak ak bisa mereka pahami. Masyarakat kuno memiliki legenda tentang makhluk hutan, roh gunung, atau monster laut. Setiap zaman melahirkan ketakutannya sendiri. Generasi internet ternyata nggak berbeda.

Perbedaannya hanya terletak pada tempat lahirnya cerita. Jika dahulu mitos lahir dari api unggun dan cerita turun-temurun, kini mitos lahir dari forum daring, unggahan anonim, dan kolom komentar. Backrooms menjadi bukti paling menarik dari fenomena tersebut.

Nggak ada satu penulis tunggal yang menciptakan seluruh lore Backrooms, pun buku resmi yang menjadi sumber utamanya. Sebagian besar dunia Backrooms dibangun komunitas internet yang saling menambahkan ide selama bertahun-tahun.

Dalam banyak hal, Backrooms ibarat folklore modern. Bedanya, folklore ini nggak berkembang dari desa ke desa, melainkan dari satu server ke server lain.

Generasi sebelumnya mungkin takut pada hutan gelap karena itu wilayah yang belum dikenal. Generasi sekarang tumbuh di tengah gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, sekolah, hotel, dan ruang publik yang seragam.

Backrooms mengambil ruang-ruang yang sangat akrab bagi kehidupan masa kini lalu mengubahnya menjadi sesuatu yang mengerikan. Karena itulah konsep ini begitu efektif.

Film Backrooms memahami, bahwa ketakutan generasi digital nggak selalu datang dari monster. Biasanya, ketakutan muncul ketika sesuatu yang sangat familier tiba-tiba asing. Kane Parsons tampaknya memahami hal tersebut dengan baik.

Melalui visual yang sengaja monoton, lorong yang tampak nggak berujung, dan suasana yang serupa mimpi buruk, Kane Parsons berhasil mempertahankan identitas Backrooms sebagai produk budaya internet.

Meski film ini memang sedikit kehilangan daya pikatnya ketika mulai menjelaskan terlalu banyak misterinya, aku tetap menganggap Backrooms sebagai pencapaian yang menarik. Nggak banyak cerita internet yang berhasil menyeberang ke medium film tanpa kehilangan jati dirinya. Dan film Backrooms cukup berhasil melakukan itu.

Akhir kata, jangan ragu nonton film Backrooms di bioskop, ya! Selamat menonton. 

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda