Ulasan
Film Hokum: Menelisik Mitos yang Turun-temurun Hidup dalam Ingatan Kolektif
Membicarakan film horor seringkali membuat kita langsung teringat pada hantu, kutukan, atau makhluk mengerikan yang muncul dari kegelapan. Namun, ada jenis horor lain yang bekerja dengan cara berbeda. Nggak hanya menakut-nakuti penonton melalui sosok menyeramkan, tapi juga melalui sejarah, kepercayaan, dan rahasia yang diceritakan dari generasi ke generasi. Jenis horor seperti inilah yang menjadi jantung dari Hokum garapan Damian McCarthy.
Film yang rilis di Indonesia sejak 26 Mei 2026 ini diproduksi dan didistribusikan Neon. Adam Scott didapuk sebagai pemeran utama sebagai Ohm Bauman, bersama Peter Coonan, David Wilmot, Florence Ordesh, Will O'Connell, dan Michael Patric. Nama Damian McCarthy sendiri bukan sosok asing bagi penggemar horor atmosferik, lho. Setelah sukses membintangi Caveat dan Oddity, dia kembali menghadirkan kisah yang menggabungkan ketegangan psikologis dengan unsur folk horror yang kental.
Ceritanya tertuju pada Ohm Bauman, penulis novel horor terkenal yang datang ke hotel terpencil di Irlandia. Kedatangannya bukan untuk berlibur, melainkan menaburkan abu kedua orang tuanya di dekat pohon yang memiliki nilai sentimental bagi keluarganya.
Namun, suasana tenang itu berubah ketika Ohm Bauman bertemu Fiona, perempuan muda yang kemudian menghilang secara misterius setelah pesta Halloween. Ketika orang-orang di sekitar tampak menerima kejadian tersebut begitu saja, Ohm merasa ada sesuatu yang disembunyikan.
Pencariannya membawanya menuju sebuah kamar bulan madu yang telah lama ditutup. Kamar itu dikaitkan dengan legenda penyihir yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari cerita rakyat setempat. Semakin jauh Ohm menggali misteri tersebut, semakin jelas hotel itu menyimpan rahasia mengerikan. Apa itu? Jawabannya bakal mengejutkan Sobat Yoursay, deh!
Menelisik Mitos dan Ketakutan Kolektif Film Hokum

Bagiku, terlepas ada misteri hilangnya seseorang, masih ada sesuatu yang jauh lebih menarik ketimbang plot itu. Yakni, bagaimana film ini menggambarkan ketakutan kolektif.
Folk horror hampir selalu berbicara tentang hubungan manusia dengan sejarah yang diwariskan. Berbeda dengan horor masa kini yang seringnya mengupas kehidupan individu, folk horror cenderung menyoroti komunitas. Ketakutannya lahir dari sesuatu yang telah ada jauh sebelum tokoh utama datang dan kemungkinan akan tetap ada bahkan setelah cerita berakhir.
Dalam Hokum, legenda penyihir bukan sebatas cerita seram yang digunakan untuk menciptakan suasana mencekam. Itu adalah wujud dari masa lalu yang masih hidup. Masyarakat di sekitar hotel mengetahui kisah tersebut. Mereka hidup berdampingan dengannya. Sebagian mungkin nggak lagi percaya sepenuhnya, tapi legenda itu tetap hadir dalam kehidupan mereka.
Di sinilah Hokum begitu unik. Banyak masyarakat di dunia nyata juga hidup bersama cerita-cerita lama yang terus diwariskan. Ada sejarah kelam, konflik masa lalu, tragedi, atau mitos yang terus diceritakan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Waktu boleh berjalan maju, tapi ingatan kolektif seringkali bertahan.
Nah, hotel dalam film ini pun menjadi representasi yang kuat pada gagasan masa lalu. Bangunan itu terlihat berdiri tenang, tapi di balik dinding-dindingnya tersimpan cerita yang nggak mati. Kamar bulan madu yang ditutup selama bertahun-tahun menjadi tanda bagaimana manusia sering berusaha mengunci masa lalu di tempat yang jauh dari pandangan. Masalahnya, sesuatu yang dikunci nggak berarti lenyap begitu saja.
Film ini juga menarik karena nggak menggambarkan masyarakat lokal sebagai korban yang nggak tahu apa-apa. Sebaliknya, mereka tampak hidup dengan legenda penyihir. Mereka mengetahui keberadaannya, memahami risikonya, bahkan mungkin sudah terbiasa dengannya. Kondisi ini mengingatkanku pada bagaimana komunitas seringkali berdamai dengan sejarah yang sebenarnya belum pernah mereka selesaikan.
Damian McCarthy tampaknya memahami karakteristik folk horror seperti ini dengan sangat baik. Dia nggak terburu-buru menjelaskan semua hal kepada penonton. Sebaliknya, membiarkan misteri tumbuh perlahan, sama seperti legenda rakyat yang berkembang dari mulut ke mulut selama bertahun-tahun.
Pendekatan tersebut membuat penyihir dalam Hokum jadi lebih menakutkan. Bukan karena penampilannya semata, melainkan karena membawa beban sejarah. Sosok itu menjadi representasi dari sesuatu yang telah lama hidup dalam ingatan masyarakat setempat.
Inilah alasan mengapa Film Hokum begitu mengganggu dibanding banyak film horor biasa. Ketakutannya nggak hanya berasal dari kemungkinan adanya makhluk gaib, tapi juga dari gagasan terkait masa lalu nggak lenyap begitu saja dari ingatan dan kondisi masa kini.
Secara keseluruhan, Hokum bukan sekadar film tentang penyihir yang menghantui sebuah hotel tua. Film ini berbicara mengenai bagaimana masyarakat menyimpan sejarah mereka sendiri, baik yang membanggakan maupun yang memalukan. Melalui balutan folk horror yang atmosferik dan mencekam, Damian McCarthy sukses menebar teror senjang durasi bergulir. Keren!
Sobat Yoursay sudah nonton belum, nih?