Ulasan

Menjelajahi Pecinan Semarang dalam Sebuah Buku

Menjelajahi Pecinan Semarang dalam Sebuah Buku
Buku Pecinan Semarang (Dok Pribadi/Tisna Ady Tanamal)

Untuk minggu ini saya memilih buku dengan judul Pecinan Semarang: Sepenggal Kisah, Sebuah Perjalanan sebagai bacaan pengantar tidur. Buku dengan dimensi 15,5 x 20 cm ini adalah karya Ananda Astrid Adrianne dan Anastasia Dwirahmi. Buku ini kali pertama diterbitkan pada 2013 silam oleh Penerbit KPG.

Pecinan Semarang: Sepenggal Kisah, Sebuah Perjalanan punya tampilan sampul yang sederhana namun menarik. Dominasi warna merah pada sampulnya mungkin adalah salah satu alasan yang membuat saya mengambilnya dari tumpukan. Ya, saya menemukan buku ini pada kunjungan terakhir saya di sebuah tempat loak di daerah saya. Lagipula di benak saya Penerbit KPG adalah jaminan mutu.

Malam tadi, sebelum tidur, saya putuskan untuk mencicilnya. Pikir saya, pasti seru membawa panorama pecinan ke alam mimpi. Siang harinya, pada jam istirahat, saya lanjut membacanya dan selesai. Buku yang menarik.

Pada halaman paling awal saya disambut dengan potret punggung seorang bapak yang sedang mengayuh sepeda angin dengan membonceng keranjang dagang di sisi belakang. Di tepi jalan berjejer lempengan-lempengan batu (batu yang biasa dijadikan bahan dasar dalam seni ukir batu). Potret yang indah. Pada pojok kiri tengah tersemat sebuah pepatah Cina berbunyi seperti ini:

“Perjalanan seribu mil diawali dengan satu langkah.”

Penyematan pepatah yang sangat tepat karena buku ini benar-benar akan membawa kita jalan-jalan.  

Buku bergenre sosial budaya dengan ketebalan 231 halaman ini tentu saja membahas tentang sebuah kawasan pecinan yang ada di Semarang sana, lebih tepatnya Semarang Tengah. Mereka membagi materi bahasannya ke dalam sembilan bab yang masing-masing menggunakan nama jalan atau gang sebagai judul. Contohnya seperti Gang Warung, Gang Lombok, Jalan Wotgandul, dan Jalan Petudungan.

Setiap bab nantinya akan merujuk pada berbagai lokasi menarik  yang ada di kawasan pecinan tersebut. Totalnya ada 21 destinasi. Masing-masing destinasi diberi label untuk memudahkan pembaca memahami pada kategori wisata yang mana destinasi tersebut berada. Buku ini memberlakukan empat kategori wisata, yaitu religi, sejarah, kuliner, serta seni & budaya. Sebuah destinasi bisa saja mengantongi lebih dari satu kategori.

Hal apa saja yang menurut saya menarik dari buku ini?

Sebenarnya baik dari segi materi maupun penyajiannya saya sangat suka. Mereka menyajikan uraian materi dalam paragraf-paragraf ringkas yang efektif serta (yang paling saya suka) dilengkapi dengan banyak sekali gambar lokasi yang dimaksudkan untuk membuat kita merasa seperti sedang benar-benar  (dan tentu saja ingin) berada di sana.

Selain itu, beberapa hal yang saya temukan di dalam buku ini terasa sangat menarik karena bertautan langsung dengan apa yang pernah saya lihat atau alami di masa lalu. Misalnya saja bahwa saya punya kenangan manis dengan kue bulan (saya memakannya pertama kali di usia 20), ramalan ciam sie (seni ramalan dengan bilah-bilah kayu), kertas jimat hu (dalam berbagai variasi warna dan  guna), serta tentu saja pertunjukan barongsai.

Dalam buku ini kita juga akan menemukan sejumlah penggalan sejarah, seperti kerusuhan di Batavia pada 1740 dan diskriminasi terhadap etnis Tionghoa pada masa Orde Baru. Tapi cuma penggalan ya! Untuk detailnya tentu kita perlu mencarinya sendiri.

Kita juga akan diperkenalkan kepada beberapa profil menarik. Sebut saja Pak Tan Eng Tiong sang pelukis kilat, Pak Thio Tiong Gie sang dalang potehi, Pak Aming yang mengelola toko obat Toen Djin Tong warisan leluhurnya (sudah berdiri sekitar tahun 1800), dan lain-lain.

Pada intinya buku ini akan menyuguhi kita dengan banyak sekali wawasan namun dengan cara yang tidak intimidatif. Kita juga akan dimanjakan dengan banyak sekali gambar-gambar lokasi yang menarik (50% dari isi buku ini berupa gambar-gambar). Sangat cocok untuk dibaca sambil jalan-jalan, terutama jika secara kebetulan (yang disengaja) Anda sedang berada di Pecinan Semarang.

Ketika saya baru saja selesai menikmati arsitektur dari Klenteng See Hoo Kiong yang didominasi warna hitam alih-alih merah (saya benar-benar terpesona saat itu) dan membalik ke halaman berikutnya, ternyata saya sampai di lembar penutup serta daftar pustaka. Ya, buku ini berakhir di situ. Saya kecewa. Padahal saya belum puas jalan-jalan.

Mengapa buku ini layak dibaca?

Mungkin ada di antara Anda yang bertanya-tanya, ‘apa perlunya membaca buku ini jika di hampir semua daerah (terutama Pulau Jawa) selalu ada kawasan pecinan?' Ya, itu benar juga. Tapi ini Pecinan Semarang loh! Tidakkah kombinasi dua kata itu mampu menimbulkan efek khusus di benak Anda? Kalau saya sih ‘iya’. Kombinasi kata ‘Pecinan’ dan ‘Semarang’ benar-benar membangkitkan rasa penasaran saya.

Membaca buku ini membuat rasa penasaran saya terhadap Pecinan Semarang sedikit terpenuhi. Saya juga mendapat banyak sekali wawasan baru. Misalnya saja, sekarang saya tahu bahwa wayang potehi yang lucu-lucu itu dipertontonkan bagi para dewa yang sedang berulang tahun, jadi pertunjukannya akan tetap berjalan meski tanpa penonton. Lalu ada juga upacara King Hoo Ping, yang salah satu tujuannya adalah mendoakan arwah yang sudah tidak pernah didoakan oleh keluarga. Sangat menarik.

Membaca buku ini juga membuat saya ingin datang sendiri dan mengalami sendiri secara langsung pengalaman berwisata di Pecinan Semarang. Namun di sisi lain saya juga sadar bahwa buku ini telah dipublikasikan pada 2013 silam, lebih dari satu dasawarsa yang lalu. Dalam kurun waktu selama itu mungkin beberapa hal telah berubah, ada yang masih terjaga dan ada pula yang tinggal cerita. Tapi saya tetap ingin berkunjung ke sana.

Catatan khusus

Saya menemukan sebuah ungkapan yang menurut saya sangat keren di halaman 80. Bunyinya seperti ini:

‘Banyak yang berubah di Pecinan Semarang, tetapi ada pula yang menetap. Yang menetap sebetulnya bertahan dan yang bertahan sebenarnya selalu berubah untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang terus-menerus berubah.’

-Widya Wijayanti, Katalog Pasar Imlek Semawis 2006

Saya memaknai ungkapan di atas sebagai tepukan halus di bahu saya. Benar-benar petuah yang datang di saat yang tepat. 

Oh iya, ada satu bonus kecil yang membuat saya tersenyum. Selain pembatas buku, buku ini juga dilengkapi sebuah peta lipat kawasan Pecinan Semarang. Rasanya seperti benar-benar diajak berjalan-jalan. 

Begitulah ulasan tentang buku berjudul Pecinan Semarang ini saya tulis. Bacaan yang sangat menarik. Terima kasih banyak untuk saudari Nanda dan Anastasia. Semoga bisa menginspirasi orang lain untuk turut mengulik sisi menarik dari daerah mereka sendiri.

Saya rekomendasikan buku ini untuk siapapun yang memiliki ketertarikan terhadap sejarah lokal, budaya, atau sekadar gemar berjalan-jalan lewat halaman buku. Bahkan saya tidak akan segan untuk merekomendasikan buku ini kepada para pembaca yang berdomisili di Pecinan Semarang sendiri. Selalu menarik untuk menengok jauh ke belakang, terlebih jika beberapa bagiannya mengandung makna indah di benak kita. 

Sekian dari saya dan salam membaca!

Detail Buku

  • Judul: Pecinan Semarang: Sepenggal Kisah, Sebuah Perjalanan
  • Nama Penulis: Ananda Astrid Adrianne & Anastasia Dwirahmi
  • Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
  • Tahun Terbit: 2013
  • Ketebalan: 231 Halaman
  • Genre: Sosial Budaya, Non Fiksi
  • ISBN: 978-979-91-0576-9

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda