Kisah ini bermula dari seseorang di tempat kerjaku dahulu. Wajah dan namanya bahkan tidak bisa kuingat lagi. Bukan karena dia tidak berarti, melainkan karena keberadaannya terlalu singkat. Hanya dua hari. Namun, justru dari keberadaan yang sesingkat itulah kisah ini layak untuk diceritakan. Ada pelajaran di dalamnya. Pelajaran lama yang sering diabaikan orang, bahwa segala sesuatu yang berlebihan, sebaik apa pun niat awalnya, hampir selalu berakhir tidak baik.
Tempat kerjaku yang dahulu, ketika aku masih tinggal di kota M, adalah sebuah karaoke keluarga. Mungkin terdengar janggal. Karaoke, ya, karaoke saja, mengapa perlu embel-embel keluarga? Tentu saja perlu. Justru di situlah letak pembedaannya. Kata "keluarga" pada outlet tempatku bekerja adalah penanda, sekaligus pagar.
Tambahan kata itu menunjukkan bahwa tempat itu tidak menyediakan pemandu lagu, tidak ada minuman beralkohol, tidak ada room yang sepenuhnya tertutup, apalagi obat-obatan terlarang. Bahkan jika seseorang datang dengan pakaian rapi sekalipun, tetapi gerak-geriknya mencurigakan, kami tidak akan segan menolak. Semua itu kami lakukan demi keamanan dan kenyamanan pengunjung lain. Namun, apa pun kondisinya, kami akan selalu ramah. Bagi kami, senyum adalah kewajiban.
Di tempat itu aku bekerja sebagai server. Tugasku, seperti yang mungkin kamu sudah tahu, yaitu smiling, greeting, grooming, dan upselling. Butuh waktu setahun penuh bagiku untuk benar-benar beradaptasi. Atau mungkin lebih tepatnya, butuh waktu selama itu sampai rekan-rekanku terbiasa dengan pribadiku yang sedikit unik. Setelah itu, semuanya terasa menyenangkan. Setidaknya begitulah menurutku.
Outlet tempatku bekerja cukup terkenal. Koleksi lagunya lengkap dan selalu diperbarui, kualitas sound system-nya bisa diadu, dan satu hal yang paling sering dipuji adalah kebersihannya. Pernah suatu sore sekitar pukul enam, ada seorang pengunjung berdiri di koridor sambil menelepon temannya. Dengan suara penuh semangat ia berkata, “Kamu di mana? Ke sini saja. Sound-nya enak, tempatnya bersih banget. Serius. Buruan.”
Pujian itu tentu saja ditujukan untuk divisi kebersihan. Namun, sebagai orang yang mendengarnya, aku ikut merasa bangga. Lagipula itu memang benar. Tempat kami memang bersih dan wangi. Teman-teman dari divisi kebersihan sudah bekerja dengan sangat baik.
Seperti kebanyakan tempat kerja, outlet kami punya banyak aturan. Ada yang tertulis, ada pula yang tidak. Aturan tidak tertulis misalnya, dilarang berpacaran dengan rekan satu outlet, dilarang satu keluarga bekerja di outlet yang sama, dilarang mencampuri urusan antardivisi, dan masih banyak lagi. Aku termasuk orang yang cukup patuh. Aku menyukai tempat itu dan berusaha tidak melanggar aturan apa pun.
Suatu hari aku dipanggil ke kantor. Supervisiku membuka pembicaraan dengan nada datar.
“Saya dapat telepon dari kantor pusat. Katanya bulan lalu ada satu minggu di mana kamu tidak libur sama sekali. Benar?”
Aku berpikir sebentar. Sejujurnya aku memang jarang memperhatikan hari libur. Bekerja di tempat yang menyenangkan membuat hari-hari terasa sama.
“Kurang ingat, Pak,” jawabku.
“Baik,” katanya. “Karena libur seminggu sekali itu wajib, besok kamu bisa ambil libur dua hari.”
“Siap, Pak.”
Esoknya, aku pun pulang ke kampung halaman dan menikmati dua hari yang menyenangkan. Dua hari kemudian aku kembali bekerja, sif malam. Setelah menitipkan oleh-oleh di meja resepsionis, aku berjalan ke kantor untuk check lock. Di ujung lorong, dekat tangga ke lantai atas, aku melihat seseorang berseragam hitam-putih dengan wajah yang asing. Personel baru, pikirku. Karena aku tidak mendengar kabar apa pun, kupikir dia bukan dari divisiku.
Selesai check lock, aku pun naik ke lantai atas menuju loker. Di depan tangga, aku menyempatkan diri untuk menyapa.
“Anak baru ya, Mas?”
“Iya, Mas.”
“Sif pagi, kan? Sebentar lagi pulang berarti.”
“Sif malam, Mas.”
“Oh.” Aku mengangguk. “Ya sudah, Mas. Aku naik dulu.”
Sepanjang naik tangga, kepalaku dipenuhi tanda tanya. Bagaimana bisa?
Ada satu aturan yang entah tertulis atau tidak, tetapi diterapkan dengan sangat konsisten di outlet kami. Anak baru wajib menjalani masa adaptasi selama tiga bulan, dan selama itu pula mereka akan ditempatkan di sif pagi, setidaknya di dua bulan pertama. Dua minggu pertama wajib sif pagi. Setelah itu baru ditanya apakah sudah siap untuk mencoba sif malam. Jika belum siap, mereka tetap akan ditempatkan di sif pagi dan akan ditanya lagi setelah seminggu berikutnya. Namun, ketika sudah genap dua bulan, mau siap atau tidak, mereka mulai ditempatkan di sif malam. Setelah genap tiga bulan, barulah nama mereka masuk jadwal resmi seperti yang lain.
Di loker aku bertemu Mooe, rekan dari divisi kebersihan.
“Yang di bawah itu anak baru?” tanyaku.
“Iya, Jon. Anak baru dari divisiku.”
“Kenapa langsung sif malam?”
“Permintaan Pak Matsui. Katanya kerjanya bagus, jadi direkomendasikan malam.”
Aku mengangguk. Divisi kebersihan punya atasan sendiri, dan salah satu aturan tidak tertulis di outlet kami adalah jangan mencampuri urusan divisi lain. Meski begitu, ada perasaan tidak enak di dadaku. Menempatkan orang yang baru dua hari bekerja di sif malam rasanya bukan keputusan bijak. Dan waktu segera membuktikan itu.
Setelah briefing sore, aku kembali bertemu anak baru itu. Aku tidak pernah ingat siapa namanya serta seperti apa wajahnya. Tapi aku ingat betul bahwa anak baru itu sangat ramah. Terlampau ramah.
Sore itu, pada satu kesempatan, seorang tamu pria berjalan di koridor. Dari caranya melangkah saja sudah jelas dia mabuk berat. Saat tamu itu melintas tepat di depannya, anak baru itu menyapa dengan ceria, “Selamat malam, Pak!”
Tamu itu hampir tidak bereaksi. Hanya melirik sekilas lalu terus berjalan. Salah satu seniorku, Goody, mendekat padaku.
“Jon, beri tahu itu anak baru. Greeting memang penting, tapi lihat situasi juga. Tamu mabuk berat begitu di-greeting buat apa?”
“Jangan aku, Mas. Nanti yang lain salah paham,” jawabku.
Goody akhirnya menegurnya sendiri secara langsung.
“Bagaimana, Bro? Nyaman kerja di sini?” katanya ramah.
“Nyaman, Mas.”
“Bagus. Tapi begini, kalau kerja di sini itu dibuat santai saja.”
“Aku santai kok, Mas.”
“Maksudku, sekiranya ada tamu yang mabuk berat, seperti yang tadi, itu tidak perlu di-greeting. Percuma.”
Anak baru itu tersenyum. “Tidak apa-apa, Mas. Saya memang suka menyapa siapa saja. Yang penting niat saya baik.”
Goody mengangguk singkat. “Ya sudah.”
Saat berjalan menjauh, dia bergumam, “Terserahlah. Setidaknya aku sudah bilang.” Aku hanya tertawa kecil.
Malam semakin larut. Semua room penuh. Koridor ramai. Aku, seperti biasa, keluar masuk room untuk memastikan apakah semua pesanan sudah diantar atau jika tamu membutuhkan perpanjangan waktu. Di tengah kesibukan itu, kejadian yang tidak diinginkan terjadi.
Seorang tamu lain, juga sama mabuk berat, berjalan sempoyongan di koridor. Matanya merah, wajahnya panas. Begitu berdiri tepat di depan anak baru itu, sapaan yang sama meluncur.
“Selamat malam, Pak!”
Balasannya bukan senyum, melainkan sepotong bogem mentah yang mendarat telak di muka. Hanya sekali. Setelah itu, tamu tersebut berjalan pergi begitu saja, seolah tidak terjadi apa-apa.
Oleh para senior, anak itu disarankan untuk naik ke loker dan beristirahat. Lewat tengah malam, aku naik ke lantai atas untuk mengisi logbook. Di pojok loker, anak baru itu meringkuk sendirian.
Wajahnya pucat.
“Gimana, Mas?” tanyaku pelan. “Ada yang luka?”
Ia menggeleng. “Tidak ada, Mas.”
Aku mendekat dan memeriksa kepalanya. Tidak ada bekas pukulan, tidak ada darah, tidak ada memar. Pukulan orang mabuk memang sering kali kehilangan tenaga. Tapi ada sesuatu yang jelas tidak bisa disembunyikan. Wajah itu seperti kehilangan warna. Tatapannya kosong, seolah ada bagian dari dirinya yang tertinggal di koridor tadi. Kami tidak banyak bicara. Tidak ada yang perlu dijelaskan.
Kejadian malam itu menjadi bahan pembicaraan panas keesokan harinya. Bahkan hingga general meeting bulan berikutnya, peristiwa itu masih dibahas. Bukan lagi tentang orangnya, melainkan tentang keputusan. Tentang aturan yang dilanggar dan penempatan yang dianggap ceroboh. Sementara orang yang menjadi alasan semua pembahasan itu telah lebih dahulu menghilang. Dua hari bekerja, satu malam terluka, lalu namanya lenyap dari jadwal. Seperti tidak pernah benar-benar ada.