Ulasan

Ulasan Black Beauty: Kisah Seekor Kuda tentang Kebaikan dan Kemanusiaan

Ulasan Black Beauty: Kisah Seekor Kuda tentang Kebaikan dan Kemanusiaan
Black Beauty (Gramedia)

Black Beauty karya Anna Sewell merupakan novel klasik yang pertama kali hadir pada 1877. Keunikan utama buku ini terletak pada cara ceritanya disampaikan. Pembaca diajak mengikuti perjalanan hidup seekor kuda bernama Beauty melalui pengalaman yang ia rasakan sendiri. Dari kehidupan masa kecil yang menyenangkan hingga menghadapi berbagai perlakuan manusia, kisah Beauty perlahan berubah menjadi kritik kuat terhadap kekejaman dan eksploitasi terhadap hewan.

Beauty mengawali hidupnya dengan penuh kebahagiaan. Ia tumbuh di padang rumput bersama ibunya, Duchess, yang mengajarinya bersikap tenang, patuh, dan memperlakukan manusia dengan baik. Setelah beranjak besar, Beauty dimiliki Farmer Grey, seorang petani yang memperlakukannya dengan penuh perhatian dan memberinya nama Darkie. Kehidupannya kemudian berlanjut di Birtwick Park setelah ia dibeli Squire Gordon. Di sana, Beauty mendapatkan perawatan yang layak dan berteman dengan Merrylegs serta Ginger.

Lingkungan Birtwick menjadi salah satu bagian paling menyenangkan dalam perjalanan Beauty. Keluarga Gordon memahami bahwa kuda bukan sekadar hewan yang harus bekerja, sehingga mereka menolak penggunaan check-rein, alat yang membuat posisi kepala kuda tertahan dan dapat menyebabkan ketidaknyamanan. Namun, kehidupan nyaman tersebut tidak berlangsung selamanya. Kondisi kesehatan Mrs. Gordon membuat keluarga itu harus menjual kuda-kuda mereka.

Sejak saat itu, kehidupan Beauty berubah drastis. Ia berpindah dari satu pemilik ke pemilik lainnya. Ada majikan yang tidak memiliki pengetahuan memadai tentang perawatan kuda hingga membuat Beauty mengalami kecelakaan. Ia kemudian berada di bawah kendali orang kaya yang lebih mementingkan penampilan daripada kesejahteraan hewan. Check-rein kembali digunakan demi mengikuti mode, sementara Beauty harus menanggung rasa sakit dan kelelahan.

Nasib buruk terus berlanjut ketika Beauty bekerja di bawah kusir yang tidak bertanggung jawab. Beban pekerjaan, perlakuan kasar, dan kondisi cuaca yang buruk membuat tubuhnya nyaris menyerah. Namun, kehidupan Beauty sempat kembali membaik ketika ia menjadi milik Jerry Barker, pengemudi taksi di London. Jerry memperlakukannya dengan penuh kasih meskipun pekerjaan mereka berat. Sayangnya, kesehatan Jerry memburuk sehingga Beauty kembali dijual.

Majikan berikutnya memaksanya bekerja melampaui kemampuan tubuhnya. Beauty akhirnya jatuh sakit dan hampir kehilangan nyawa. Ketika dianggap tidak lagi berguna, ia dibawa ke pelelangan. Untungnya, seorang petani tua membelinya dengan bantuan cucunya dan memberinya kesempatan untuk memulihkan diri. Setelah kondisinya membaik, Beauty akhirnya tinggal bersama dua perempuan yang ternyata pernah mengenalnya ketika ia berada di Birtwick Park. Di tempat tersebut, ia menjalani masa tua dengan damai.

Sebelum membeli novel ini, saya sempat ragu karena Black Beauty ditulis dalam bahasa Inggris. Ketebalannya juga cukup membuat saya berpikir ulang karena mencapai 272 halaman. Namun, gagasan ceritanya terasa berbeda dari novel kebanyakan. Saya tertarik dengan keputusan Sewell menjadikan seekor kuda sebagai pencerita, sehingga akhirnya terus membaca sampai selesai.

Bagi saya, kekuatan terbesar Black Beauty bukan hanya pada perjalanan hidup tokohnya, tetapi pada pesan kemanusiaan yang disampaikan secara perlahan. Beauty membuat pembaca melihat bahwa hewan juga mampu merasakan takut, lelah, nyaman, sakit, dan bahagia. Mereka bukan benda yang dapat diperlakukan sesuka hati.

Novel ini juga menunjukkan bahwa kelembutan justru dapat menghasilkan kepercayaan dan kepatuhan yang lebih baik. Sebaliknya, kekerasan hanya menimbulkan penderitaan. Perlakuan terhadap hewan bahkan dapat menjadi cerminan karakter manusia, seperti ketika seseorang terbiasa menyakiti makhluk yang lebih lemah, rasa empatinya pun berpotensi terkikis.

Sewell juga mengingatkan bahwa kekuasaan manusia atas hewan seharusnya disertai tanggung jawab. Kebiasaan buruk, termasuk penggunaan alat yang menyiksa seperti check-rein, dapat bertahan karena dianggap normal. Karena itu, pengetahuan dan teladan menjadi penting untuk mengubah cara masyarakat memperlakukan makhluk hidup.

Pada akhirnya, Black Beauty bukan sekadar cerita tentang seekor kuda yang berpindah majikan. Ini adalah kisah mengenai empati, penderitaan, tanggung jawab, dan arti memperlakukan kehidupan dengan hormat. Meskipun ditulis lebih dari satu abad lalu, pesan Anna Sewell masih terasa relevan dan mampu mengajak pembaca melihat dunia dari sudut pandang makhluk yang selama ini jarang diberi suara.

Identitas Buku

Judul: Black Beauty
Penulis: Anna Sewell
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Bahasa: Inggris
ISBN: 9786020395173

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda