Ulasan
Review The Hawk: Saat Will Ferrell Nggak Lagi Cukup Mengundang Tawa
Will Ferrell akhirnya kembali ke zona yang selama ini begitu melekat dengan namanya. Setelah bertahun-tahun lebih banyak muncul dalam berbagai proyek komedi dan drama, aktor yang identik dengan karakter nyentrik itu kembali membintangi serial komedi olahraga melalui “The Hawk’. Serial yang diciptakan Chris Henchy, Harper Steele, dan Will Ferrell ini resmi rilis di Netflix pada 16 Juli 2026 dengan total 10 episode tayang sekaligus.
Selain Will Ferrell, serial ini juga dibintangi Molly Shannon, Jimmy Tatro, Fortune Feimster, Chris Parnell, hingga Luke Wilson. Kombinasi nama-nama tersebut tentu memunculkan ekspektasi tinggi. Apalagi Will Ferrell pernah melahirkan sejumlah komedi olahraga yang kini berstatus kultus, di antaranya: ‘Talladega Nights: The Ballad of Ricky Bobby’ dan ‘Blades of Glory’. Formula karakter arogan, percaya diri secara berlebihan, tapi sebenarnya rapuh di balik semua tingkah konyolnya selalu berhasil mengundang tawa.
Kali ini, Will Ferrell mencoba membawa formula serupa ke lapangan golf. Nah, kisahnya mengikuti perjalanan Lonnie ‘The Hawk’ Hawkins, mantan pegolf profesional yang karirnya runtuh dua puluh tahun lalu setelah gagal menyelesaikan pukulan yang seharusnya membuatnya meraih Career Grand Slam. Sejak saat itu namanya perlahan tenggelam. Kini Lonnie hanya berjuang di Korn Ferry Tour, kompetisi yang berada satu tingkat di bawah PGA Tour.
Harapan untuk menebus masa lalu muncul ketika putranya, Lance Hawkins, mulai bersinar sebagai pegolf profesional di PGA Tour. Alih-alih sekadar bangga sebagai ayah, Lonnie malah kembali terobsesi mengejar mimpi lamanya. Dia bertekad kembali ke panggung utama demi memenangkan U.S. Open, satu-satunya gelar besar yang belum pernah berhasil dia raih.
Dalam perjalanannya, Lonnie ditemani Sam, si caddy baru yang minim pengalaman di dunia golf profesional. Di sisi lain, Lonnie masih harus berhadapan dengan mantan istrinya, Stacy, hubungan yang belum sepenuhnya selesai, serta Anton Floyd, pejabat PGA yang menjadi salah satu penghalang terbesar.
Menjanjikan banget kisahnya bukan, Sobat Yoursay?
Sayangnya, Potensi yang Menjanjikan Itu Nggak Berkembang

Begitulah. Di satu sisi ‘The Hawk’ ingin menjadi komedi absurd khas Will Ferrell. Di sisi lain, serial ini juga ingin menjadi drama tentang penyesalan, hubungan keluarga, dan kesempatan kedua. Sayangnya, kedua arah itu berjalan sendiri-sendiri. Nggak saling nyatu membentuk plot cerita yang utuh dan menyentuh.
Sepanjang sepuluh episode, ritme ceritanya lambat. Banyak adegan yang sebenarnya nggak memberikan perkembangan berarti terhadap karakter maupun konflik utama. Lelucon demi lelucon terus dilempar, sayangnya nggak semuanya berhasil mendarat sempurna buat diriku ketawa lepas. Beberapa bahkan mengulang pola yang sama berkali-kali.
Will Ferrell memang masih tampil total. Dia memainkan Lonnie sebagai sosok keras kepala, egois, terlalu percaya diri, sekaligus menyebalkan dengan energi yang nyaris nggak pernah habis. Penggemar lama Ferrell kemungkinan masih akan menikmati ekspresi berlebihan, dialog absurd, hingga tingkah spontan yang menjadi ciri khasnya selama puluhan tahun.
Namun di sinilah persoalannya. Gaya komedi yang dulu fresh kini kehilangan daya kejut. Banyak humor di ‘The Hawk’ hanya mengandalkan teriakan, ekspresi berlebihan, atau situasi memalukan yang dipaksakan menjadi lucu. Padahal komedi terbaik Will Ferrell dulu lahir bukan semata karena karakternya berisik, melainkan karena absurditas situasi yang dibangun dengan brilian gitu.
Akibatnya, beberapa episode kayak aku lagi nonton Will Ferrell memainkan versi lain dari karakter-karakter lamanya tanpa ngasih sesuatu yang baru.
Dari sisi visual, ‘The Hawk’ sebenarnya tampil cukup meyakinkan. Lapangan golf difilmkan dengan sinematografi yang bersih, cerah, dan nyaman dipandang. Beberapa pengambilan gambar pertandingan berhasil menghadirkan nuansa kompetisi yang menyenangkan meski olahraga golf sendiri cenderung tenang. Penggunaan lagu-lagu rock klasik juga membantu membangun atmosfer santai yang sesuai dengan karakter serial ini.
Sayangnya, kualitas produksi yang rapi nggak mampu menutupi kelemahan terbesarnya, yaitu naskahnya sendiri. Cerita seringkali berjalan di tempat. Banyak subplot muncul tanpa memberikan pengaruh besar terhadap perjalanan Lonnie. Alih-alih memperkaya narasi, beberapa di antaranya bikin fokus cerita makin kabur.
Akhir kata, menurutku nama besar Will Ferrell memang masih mampu mengundang rasa penasaran, tapi nostalgia saja nggak cukup untuk menghidupi komedinya. Aku butuh humor yang berkembang bersama zamannya, bukan mengulang formula yang pernah berhasil dua dekade lalu. Ups.
Kendati begitu, ini tetap layak ditonton, terutama buat Sobat Yoursay penggemar berat sang aktor. Selamat menonton.