Ulasan
The Runner: Gal Gadot Ngebut Lari, Filmnya Gagal Bikin Penonton Ikut Tegang
Film thriller punya banyak cara untuk membuat penonton tegang. Bisa lewat suara yang tiba-tiba muncul, ruang sempit, ancaman yang perlahan mendekat, atau sekadar keputusan kecil yang konsekuensinya mengerikan. Nah, Film The Runner rupanya berada di jalur yang unik, yakni dengan menggaet Gal Gadot untuk terus berlari.
Ide itu menarik. Bahkan sangat menarik. Sayangnya, Film The Runner kayak terlalu percaya diri dengan menyuguhkan seseorang yang berlari selama hampir sepanjang film untuk membuat penonton ikut kehabisan napas. Padahal, berlari secara fisik dan berlari secara emosional adalah dua perkara yang berbeda.
Film produksi Amazon MGM Studios, Rockwood Pictures, dan Pilot Wave Motion Pictures ini disutradarai Kevin Macdonald, dengan Mark Gibson sebagai penulis skenario dan David Kosse sebagai produser. Gal Gadot menjadi pemeran utama sebagai Maia Marten, ditemani Damian Lewis sebagai The Caller, Rory Wilmot sebagai Noah, Alfred Enoch, Phoenix Di Sebastiani, Aaron Gill, Nathan Kirby, Hélder Fernandes, dan Will Austin. Film berdurasi sekitar 85 menit ini rilis di Prime Video pada 2 September 2026.
Ceritanya terkait Maia Marten, pengacara London, yang kehidupannya mendadak berantakan ketika putranya, Noah, diculik. Penculiknya lalu menghubungi Maia dan memberikan serangkaian perintah. Maia harus terus berlari melintasi London sambil mengikuti instruksi dari suara misterius. Setiap langkahnya diawasi, keputusan punya konsekuensi, dan keselamatan Noah menjadi alat untuk memaksanya melakukan berbagai hal yang semakin berbahaya. Salah satu bagian penting dari permainan tersebut berkaitan dengan seorang saksi yang terhubung dengan pekerjaan Maia sebagai pengacara.
Plot semacam ini sebenarnya punya satu daya pikat, yakni terkait keterbatasan waktu. Sayangnya ….
The Runner Terlalu Sibuk Berlari
Dalam film, Maia memang nggak punya kesempatan untuk duduk, berpikir panjang, atau menyusun rencana dengan tenang. Dia harus terus bergerak. Kondisi itu seharusnya menciptakan tekanan yang luar biasa karena tubuh Maia menjadi semacam jam berjalan. Semakin lama dia berlari, semakin dekat pula batas keselamatan Noah.
Semuanya sudah tersedia untuk menghasilkan thriller yang bikin penonton ikut gelisah. Masalahnya, The Runner terlalu sibuk membuat Maia bergerak sampai lupa membuat kita peduli pada setiap langkahnya.
Gal Gadot sebenarnya menjalankan bagian fisiknya dengan cukup baik. Dia terlihat meyakinkan sebagai perempuan yang sanggup berlari dalam kondisi terdesak. Bahkan perjuangan fisik Gadot dalam proses produksinya memang cukup berat; dia menjalani latihan lari intensif untuk film ini dan sempat mengalami cedera hingga menyelesaikan produksi dengan bantuan kruk. Sayangnya, usaha sebesar itu malah memperlihatkan persoalan utama film.
Aku memang melihat Gal Gadot berlari, kelelahan, dan waktu terus berjalan. Hanya saja. Aku kurang merasakan kenapa semua itu harus membuatku ikut panik.
Ketegangan seharusnya tumbuh dari hubungan antara karakter dan ancaman. Penonton perlu merasa kehilangan sesuatu kalau karakter gagal. Dalam The Runner, ancamannya memang jelas: Noah berada di tangan penculik. Film juga memberikan detail yang membuat keselamatan Noah semakin genting melalui perangkat insulin yang menjadi bagian dari kendali para penculik.
Namun, hubungan karakter Maia dan Noah kurang mendapat ruang emosional yang cukup kuat untuk membuat ancaman tersebut benar-benar menghantam. Akibatnya, ini yang membuat perjalanan Maia terasa mekanis. Dia mendapatkan perintah, bergerak, menghadapi masalah, berpindah lokasi, lalu mendapatkan perintah berikutnya. Siklus tersebut terus berulang. Secara struktur, film memang maju. Secara emosional, rasanya seperti berputar di treadmill.
Kamera pun mengikuti kegelisahannya. The Runner menggunakan pergerakan kamera dan editing yang agresif untuk mempertahankan emosi Sayangnya, gaya seperti ini punya konsekuensinya. Ketika hampir setiap momen ingin dibuat intens, lama-lama intensitas kehilangan nilainya.
The Runner cepat. Sangat cepat. Seperti halnya durasi film ini. Namun, kecepatan cuma membuat waktu terasa singkat. Itulah bagian yang menurutku paling hilang dari film ini.
London seharusnya bisa menjadi arena luar biasa untuk permainan semacam ini. Kota besar dengan jalanan padat, transportasi umum, manusia yang berlalu-lalang, dan begitu banyak ruang untuk bersembunyi maupun mengejar sebenarnya bisa membuat Maia terasa semakin terperangkap. Hanya saja, perpindahan yang terlalu agresif membuat ruang tersebut kurang terasa.
Intinya, untuk sebuah film yang menjadikan lari sebagai jantung cerita, eksekusinya terlalu gelagapan. Sangat disayangkan. Namun, bila Sobat Yoursay penasaran, bisa langsung cek Prime Video. Selamat menonton.