Ulasan
Melihat Wajah Asli Jakarta Lewat Buku Tiada Ojek di Paris Karya Seno Gumira Ajidarma
Jakarta adalah pusat harapan, tempat jutaan orang menggantungkan mimpi, sekaligus ruang yang sering membuat manusia merasa kecil, lelah, bahkan terasing. Sebagai kota yang terus bergerak tanpa jeda, Jakarta menyimpan begitu banyak cerita yang tak akan pernah habis dibicarakan.
Perasaan itulah yang saya rasakan setelah menyelesaikan baca buku Obrolan Urban: Tiada Ojek di Paris karya Seno Gumira Ajidarma. Buku setebal 297 halaman yang terbit pada tahun 2015 ini merupakan kumpulan 44 esai yang ditulis Seno antara tahun 2000 hingga 2013, sebagian pernah dimuat dalam buku Affair, Kentut Kosmopolitan, dan majalah Djakarta!. Meski sebagian tulisan telah berusia lebih dari satu dekade, isinya terasa tetap relevan hingga hari ini.
Ini adalah buku pertama Seno yang saya baca secara utuh. Sebelumnya saya hanya mengenal namanya melalui sejumlah cerpen dan esai yang tersebar di berbagai media.
Usai membaca buku ini, saya memahami mengapa Seno begitu dihormati sebagai pengamat sosial yang tajam. Ia mampu melihat hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian kita, lalu mengubahnya menjadi refleksi yang menggugah.
Buku ini tidak bercerita tentang Jakarta yang megah sebagaimana brosur pariwisata atau iklan properti. Seno justru mengajak pembaca menyusuri sisi lain ibu kota, berupa kemacetan, keterasingan, ketimpangan sosial, budaya konsumtif, hingga persoalan identitas yang dialami manusia urban.
Salah satu tema yang paling kuat dalam buku ini adalah soal keterasingan. Dalam esai tentang alienasi, Seno menggambarkan Jakarta sebagai kota yang menghubungkan manusia bukan melalui ikatan darah atau adat, melainkan melalui kepentingan. Orang datang ke Jakarta untuk bertahan hidup. Mereka bekerja, bersaing, dan berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari. Akibatnya, hubungan antarmanusia menjadi semakin renggang.
"Keterasingan selalu bertimbal balik dengan kerinduan." (Halaman 36).
Kalimat sederhana itu terasa begitu dalam. Seno seolah ingin mengatakan bahwa manusia Jakarta memang sering merasa sendiri, tetapi pada saat yang sama mereka tetap memiliki hubungan emosional yang sulit diputuskan dengan kota ini.
Keterasingan tersebut digambarkan secara puitis melalui puisi tentang bulan yang "pingsan" di atas Jakarta karena kalah oleh cahaya lampu kota. Personifikasi itu terasa menyentuh. Bahkan bulan pun merasa tidak ada yang memperhatikannya. Gambaran yang sangat pas untuk kehidupan urban yang sibuk dan serbatergesa.
Tema lain yang berulang kali muncul adalah kemacetan. Dalam esai Manusia Jakarta, Manusia Mobil, Seno menyajikan fakta yang membuat saya terdiam cukup lama.
"Seandainya ia bekerja mulai umur 25 tahun, dan berhenti kerja 55 tahun, maka tak kurang dari 10 tahun dari masa kerjanya habis di perjalanan." (Halaman 22).
Bayangkan, sepuluh tahun hidup habis hanya untuk berada di jalan. Angka itu terasa berlebihan, tetapi ketika dipikirkan kembali, sebenarnya sangat masuk akal. Di kota besar, kendaraan bukan lagi sekadar alat transportasi. Mobil telah berubah menjadi ruang hidup baru. Orang makan di dalamnya, bekerja di dalamnya, mendengarkan musik, berdandan, bahkan melakukan rapat melalui telepon.
Seno kemudian membedah fenomena ini lebih jauh melalui esai Mobil: Sebuah Mitos. Mobil bukan lagi soal fungsi, melainkan simbol status sosial. Banyak orang mengejarnya bukan karena kebutuhan, tetapi karena gengsi. Kritik semacam ini terasa sangat relevan bahkan di masa sekarang.
Selain kemacetan, saya juga tertarik pada esai mengenai zebra cross. Dengan gaya satir yang khas, Seno menggambarkan bagaimana penyeberang jalan di Jakarta justru bingung ketika ada pengemudi yang berhenti dan mempersilakan mereka lewat.
Dalam budaya lalu lintas yang tidak ramah pejalan kaki, sikap sopan malah dianggap aneh. Saya tertawa ketika membacanya, tetapi setelah itu muncul rasa miris karena kenyataannya memang demikian.
Esai lain dalam buku ini, Ojek Sudirman-Thamrin, juga sangat menarik. Ditulis jauh sebelum transportasi berbasis aplikasi menjamur, Seno sudah melihat ojek sebagai bentuk kreativitas masyarakat bawah dalam menjawab kebutuhan hidup.
"Fenomena ojek adalah contoh terbaik bentuk kreativitas yang tumbuh dari kebutuhan komunitasnya." (Halaman 189).
Membaca bagian ini membuat saya kagum. Seno mampu melihat fenomena sosial secara lebih dalam. Ojek bukan sekadar kendaraan, tetapi simbol kemampuan masyarakat menciptakan solusi ketika negara belum mampu menjawab kebutuhan mereka.
Hal yang paling saya sukai dari buku ini adalah kemampuan Seno mengubah peristiwa sehari-hari menjadi bahan renungan. Bajing yang melintas di kabel listrik, kartu nama, gosip infotainment, kopi, mode pakaian, listrik mati, hingga tiket pesawat semuanya bisa menjadi pintu masuk untuk membicarakan budaya urban.
Dalam esai Jakarta yang Sebenarnya, Seno juga membongkar citra ibu kota yang selama ini dianggap sebagai simbol kemajuan.
"Bukan, ini Jakarta yang semu..." (Halaman 192)
Baginya, Jakarta bukan hanya gedung pencakar langit di Sudirman dan Thamrin. Jakarta yang sesungguhnya juga hadir dalam jalan berlubang, got mampet, kemacetan, dan ketimpangan sosial yang setiap hari kita lihat.
Meski sebagian esai terasa sangat bernas dan menyegarkan, saya harus jujur bahwa tidak semua tulisan berhasil memikat saya dengan intensitas yang sama. Ada beberapa bagian yang terasa terlalu serius dan penuh istilah konseptual sehingga membuat ritme membaca sedikit melambat.
Saya juga berharap ada lebih banyak humor yang muncul sebagaimana beberapa penulis esai lain yang lebih cair. Namun hal itu tidak mengurangi kualitas pengamatan Seno yang luar biasa tajam.
Nilai tambah lain dari buku ini adalah hadirnya reproduksi gambar-gambar kemasan produk lawas Indonesia yang disisipkan di antara esai. Mulai dari rokok, kopi, obat-obatan, hingga makanan ringan. Kehadiran ilustrasi tersebut memberikan nuansa nostalgia yang menyenangkan sekaligus memperkaya pengalaman membaca.
Singkat kata, Tiada Ojek di Paris bukan sekadar kumpulan esai tentang Jakarta. Buku ini adalah cermin yang memperlihatkan wajah masyarakat urban dengan segala kontradiksinya. Kita diajak tertawa, tersindir, merenung, lalu mempertanyakan kembali makna kemajuan, modernitas, dan kehidupan kota yang selama ini dianggap ideal.
Seno berhasil menunjukkan bahwa kota bukan hanya kumpulan gedung dan jalan raya. Kota adalah kumpulan manusia dengan segala ketakutan, harapan, kesepian, dan perjuangannya.
Identitas Buku
- Judul: Tiada Ojek di Paris
- Penulis: Seno Gumira Ajidarma
- Penerbit: Mizan Pustaka, Anggota IKAPI
- Cetakan: I, Mei 2015
- Tebal: 297 Halaman
- ISBN: 978-979-433-846-9
- Genre: Sosial/Budaya