Ulasan

Memeluk Diri di Seri Chicken Soup for the Soul, Saat Hidup Terasa Berat

Memeluk Diri di Seri Chicken Soup for the Soul, Saat Hidup Terasa Berat
Think Positive (Dok. Pribadi/Oktavia)

Ada masa ketika saya memandang sebelah mata buku-buku Chicken Soup for the Soul. Dari covernya terlihat sangat template dan membosankan. Sekilas, buku seperti ini terdengar terlalu manis, penuh motivasi, dan mungkin hanya berisi kalimat-kalimat penyemangat yang mudah dilupakan. Namun setelah benar-benar membaca beberapa judulnya, pandangan itu berubah. Saya justru memahami mengapa seri ini tetap bertahan dan dicintai jutaan pembaca di seluruh dunia.

Salah satu yang paling berkesan adalah Chicken Soup for the Soul: Think Positive: 101 Kisah Inspiratif tentang Mensyukuri Karunia dan Bersikap Positif. Buku yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama ini ditulis oleh Jack Canfield, Mark Victor Hansen, dan Amy Newmark, dengan pengantar Deborah Norville, serta diterjemahkan oleh Susi Purwoko.

Alih-alih menawarkan teori psikologi yang rumit, buku setebal hampir 500 halaman ini memilih pendekatan yang sangat sederhana: bercerita.

Isi Buku

Di dalamnya terdapat 101 kisah inspiratif, masing-masing hanya sekitar tiga hingga lima halaman. Ceritanya berasal dari pengalaman nyata berbagai orang dengan latar belakang yang berbeda-beda. Ada yang kehilangan orang tercinta, menghadapi penyakit, mengalami kegagalan karier, berjuang melawan rasa takut, hingga menemukan kembali kebahagiaan lewat momen-momen kecil yang sebelumnya dianggap biasa.

Kesamaan dari semua kisah itu bukan karena mereka hidup tanpa masalah. Justru sebaliknya. Hampir semua tokohnya pernah berada di titik terendah. Yang membedakan adalah cara mereka memandang keadaan. Mereka memilih mengubah sudut pandang, belajar menerima, menemukan hal-hal yang masih layak disyukuri, lalu perlahan bangkit.

Di situlah letak kekuatan buku ini.

Kita sering mendengar nasihat, untuk berpikir positif. Masalahnya, nasihat itu sering terdengar terlalu sederhana ketika hidup sedang tidak baik-baik saja. Saat kehilangan pekerjaan, menghadapi penyakit, atau berduka, berpikir positif bukan perkara mudah. Buku ini tidak menutup mata terhadap kenyataan tersebut. Sebaliknya, ia memperlihatkan bahwa pikiran positif bukan berarti menyangkal kesedihan, melainkan memilih untuk tidak berhenti di dalamnya.

Hal lain yang saya sukai adalah formatnya yang fleksibel. Karena setiap cerita berdiri sendiri, pembaca tidak harus menyelesaikan buku ini sekaligus. Kita bisa membuka halaman mana saja, membaca satu atau dua kisah ketika sedang lelah, lalu menutupnya kembali. Rasanya seperti berbincang dengan banyak orang yang bergantian membagikan pengalaman hidup mereka.

Tentu saja, tidak semua cerita memberikan dampak yang sama. Ada kisah yang langsung menyentuh hati, ada pula yang terasa biasa saja. Itu sangat wajar karena setiap pembaca memiliki pengalaman hidup yang berbeda. Cerita yang sangat bermakna bagi seseorang belum tentu memberi kesan mendalam bagi orang lain.

Namun justru keberagaman itulah yang membuat buku ini terasa kaya. Dari 101 cerita, hampir selalu ada beberapa yang terasa sangat dekat dengan kehidupan kita sendiri. Kadang kita menemukan kisah tentang kehilangan yang mengingatkan pada pengalaman pribadi. Di lain waktu, kita bertemu cerita sederhana tentang rasa syukur yang tiba-tiba membuat kita tersenyum.

Kelebihan dan Kekurangan

Tanpa disadari, membaca kisah-kisah bahagia juga bisa menularkan emosi positif. Psikologi mengenal fenomena bahwa emosi dapat "menular" melalui cerita, interaksi, atau pengalaman yang kita saksikan.

Ketika membaca pengalaman seseorang yang berhasil melewati masa sulit, kita ikut merasakan secercah harapan. Bukan karena masalah kita langsung selesai, tetapi karena kita diingatkan bahwa selalu ada kemungkinan untuk bangkit.

Meski begitu, buku ini bukan tanpa kekurangan. Karena terdiri atas banyak penulis dan pengalaman yang berbeda, kualitas setiap cerita tidak selalu konsisten. Beberapa kisah terasa sangat kuat dan emosional, sementara yang lain cenderung sederhana bahkan mudah dilupakan. Selain itu, tema tentang bersyukur dan berpikir positif sesekali terasa berulang karena memang menjadi benang merah seluruh isi buku.

Meski demikian, pengulangan itu justru bisa menjadi pengingat. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering lebih mudah mengingat kegagalan daripada keberhasilan, lebih fokus pada kekurangan daripada nikmat yang masih dimiliki. Buku ini mengajak pembaca berhenti sejenak untuk melihat bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari pencapaian besar. Kadang ia hadir lewat secangkir kopi hangat, pelukan keluarga, sahabat yang mendengarkan, atau sekadar kesempatan untuk memulai hari yang baru.

Think Positive, bisa menjadi teman ketika hati sedang lelah dan pikiran dipenuhi kekhawatiran. Barangkali memang itulah alasan mengapa seri Chicken Soup for the Soul tetap bertahan selama puluhan tahun. Di saat dunia terasa bising dan melelahkan, selalu ada orang yang membutuhkan satu cerita sederhana untuk mengingatkan bahwa harapan, syukur, dan kebahagiaan masih memiliki tempat dalam hidup.

Identitas Buku

  • Judul Asli: Chicken Soup for the Soul: Think Positive
  • Penulis: Jack Canfield, Mark Victor Hansen, dan Amy Newmark 
  • Penerjemah: Susi Purwoko
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Tahun Terbit: 2011
  • ISBN: 978-979-227-195-9
  • Tebal: 486 halaman
  • Kategori: Self-Improvement, Motivasi

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda