Ulasan
Pernikahan Arwah: Setting Lokasi dan Tradisi Otentik dengan Nuansa Brutal
Tempo hari, aku sedang berdiskusi dengan teman-teman penulis dalam grup Whatsapp Yoursay. Salah satu member lantas membagikan pengalamannya mengikuti tour budaya di kawasan pecinan di Lasem, Rembang. Langsung saja aku teringat satu film horor bernuansa chinese yang melakukan take syuting di Rumah Merah di Lasem yang bertajuk Pengantin Arwah.
Melansir IMDb, Pengantin Arwah merupakan film bergenre horor, historical, dan misteri yang rilis pada 27 Februari 2020 di bawah arahan sutradara Paul Agusta. Film berdurasi 101 menit ini nggak hanya menyuguhkan nuansa budaya klasik, melainkan teror psikologis yang diramu dengan tepat sehingga meninggalkan kesan mendalam.
Niat Menikah Ada Saja Kendalanya
Pengantin Arwah mengisahkan sepasang kekasih yakni Salim (Morgan Oey) dan Tasya (Zulfa Maharani) yang berniat melakukan foto pre wedding di Hong Kong selepas acara sangjit (lamaran khas budaya Tionghoa). Namun, bibi Salim di Lasem meninggal dunia, sehingga dia harus melakukan prosesi pemakaman termasuk upacara hio sebagai satu-satunya keluarga mendiang.
Alhasil, sesi foto pre wedding pun dilakukan di Lasem, tepatnya di salah satu rumah bergaya chinese yang klasik nan vintage. Dengan meminta bantuan teman-teman Tasya dan Salim yakni Febri (Jourdy Pranata) seorang fotografer, Harja (Ama Gerald) asisten Febri, dan Arin (Puty Sjahrul) sebagai MUA.
Namun sejak take foto pertama, Tasya justru merasakan keanehan dan kesedihan tak berujung hingga pingsan. Setelahnya, semua misteri dan teror yang terjadi di rumah ini menguar tanpa bisa dijeda. Tentang hubungan tragis Mei Hwa (Brigitta Cynthia) dengan Bhanu (Alam Setiawan) dari masa lampau, jenazah Mei Hwa yang tersimpan di dinding rumah, sampai pengkhianatan Febri lantaran dilandasi api cemburu.
Mampukah mereka meredam gejolak teror tersebut? Atau, akankah pernikahan Salim dan Tasya hanya menjadi wacana semata?
Vibes Horor Misteri yang Menawan dalam Sinematografi
Dari awal, film ini sudah menyodorkan nuansa misteri dan horor dengan gaya sinematografi yang pekat. Shoot demi shoot mencoba menyajikan benang merah kusut yang diutas pelan-pelan, tetapi konsisten dengan bumbu misteri lekatnya.
Berdalih horor, jumpscare yang disajikan ternyata nggak semenakutkan posternya. Walau memang intrik dark ditunjang oleh sinematografi dingin, dan komposisi backsound ala Indra Perkasa. Sekilas, aku juga mendapati scene mirip seperti scene Sitha yang melihat siluet Pangeran Saranjana dalam film Saranjana: Kota Ghaib. Persisnya pada scene Tasya yang melihat dan mengikuti siluet Mei Hwa dalam busana pengantin merah khas Tionghoa.
Jujur, ekspektasiku sedikit runtuh sewaktu plot berjalan ringan, nyaris tanpa emosi berarti. Padahal dari awal, film ini sudah menjanjikan atensi spiritual dan misteri tanpa ampun lho.
Setting Lokasi Otentik dan Mengangkat Tradisi Unik
Setting lokasinya pun terasa otentik karena memanfaatkan kawasan Rumah Merah di Lasem, Rembang. Tempat tersebut merupakan kawasan pecinan lama, dengan nuansa budaya Hokkien yang kental. Baik pada bangunan rumah, sudut demi sudut, hingga properti khas yang masih terawat.
Teruntuk tradisi pernikahan arwah itu sendiri, jujur aku kurang mengerti. Ada sumber di internet yang mengatakan bahwa pernikahan ini dilakukan terhadap orang-orang yang meninggal dalam keadaan masih lajang. Dan umumnya didiskusikan antara dua keluarga sebagaimana pernikahan pada umumnya.
Namun, dalam film ini malah menonjolkan petualangan lintas dimensi alih-alih membahas tradisi tersebut secara detail.
Akting Kosong Zulfa Maharani yang Ngena Banget
Terlepas dari genre horor dan lokasi Rumah Merah terkenal peninggalan Nyonya Tjoa, aku cukup menyukai akting Zulfa Maharani dalam memerankan Tasya. Dia benar-benar merepresentasikan sosok pelamun, dengan teror nyata lewat sorot mata. Karakternya memang didesain agak menye-menye, tetapi terdapat alasan logis yang make sense, sehingga magnet teror ada pada Zulfa.
Aku pribadi justru merasa Morgan Oey terlampau canggung. Bahasa matanya sudah oke, sudah merasuk karakter, tapi chemistry yang disajikan malah agak anyep. Berasa ada dinding penghalang yang nggak kasat mata, tapi terasa dalam plot.
Kekejaman Kolonialisme yang Menyisakan Tragedi
Satu detail yang krusial ternyata bukan pada tradisi yang diangkat dalam film ini, melainkan sisi kebengisan zaman. Terdapat unsur bringas era kolonialisme Jepang dalam scene flashback, di mana pembunuhan terjadi begitu mudah.
Film ini juga mengajarkan betapa sulitnya kedamaian pada masa itu, bahkan meninggalkan tragedi dan trauma mendalam yang bikin depresi. Bahkan hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia pun, diubah menjadi tragedi berdarah dalam sekejap mata.
Sisi kelam duniawi disuguhkan brutal, kendati pelakon kesedihannya terasa kurang maksimal. Scene nangis Brigitta Cynthia berasa kurang menyentuh, bila dibandingkan dengan Zulfa Maharani, padahal mereka dikisahkan berada dalam vibes serupa.
Pengenalan Budaya Mungkin Bisa Lebih Detail
Pernikahan Arwah sejatinya cukup menjanjikan dari konsep dan poster yang nyentrik. Hanya saja, eksekusinya terasa kurang maksimal dan agak membanting ekspektasiku sebagai penonton.
Kendati begitu, film ini memiliki nilai budaya Tionghoa yang kental yang membuatku ikut belajar. Bahwa terdapat tradisi sangjit alias lamaran adat Tionghoa, tradisi pernikahan arwah yang dewasa ini mungkin mulai langka, hingga potensi wisata edukasi di area Rumah Merah Lasem yang tersohor kemana-mana.
Dengan horor ringan walau backsound-nya lumayan bikin merinding, film ini bisalah ditonton untuk usia 14 tahun ke atas. Aku pribadi memberikan nilai 7/10 untuk Pernikahan Arwah. So, kawan-kawan sudah pernah nonton?
Identitas Film
- Judul: Pernikahan Arwah
- Sutradara: Paul Agusta
- Genre: Horor, misteri, historical
- Rilis: 27 Februari 2025
- Platform: Netflix
- Negara Asal: Indonesia
- Bahasa: Bahasa Indonesia, Bahasa Hokkien
- Durasi: 101 menit