Ulasan

Review Film Kado untuk Ibu: Kasih Sayang, Hadiah Terbaik untuk Orang Tua

Review Film Kado untuk Ibu: Kasih Sayang, Hadiah Terbaik untuk Orang Tua
Foto Teaser Trailer Film Kado untuk Ibu (Instagram/starvisionplus)

Kesibukan sering membuat kita percaya, membahagiakan orang tua harus menunggu sampai punya banyak uang. Nanti kalau sudah sukses, bila sudah mapan, bahkan nanti saat bisa membeli sesuatu yang mahal. Padahal, perasaan seorang ibu atau ayah sering kali jauh lebih sederhana. Mereka hanya ingin tahu anaknya masih mengingat, peduli, dan meluangkan waktu untuk mereka.

Gagasan itulah yang menjadi napas utama Kado untuk Ibu, film drama keluarga terbaru garapan M. Amrul Ummami. Diproduksi Starvision Plus, FMM Studios, dan Indie Pictures, film ini diproduseri Chand Parwez Servia, Mithu Nisar, Riza, serta Ryan Kurniawan, dengan naskah yang ditulis M. Ali Ghifari. Berdurasi ±92 menit dan tayang di bioskop sejak 6 Agustus 2026. Film ini dibintangi Luisa Adreena, Emir Mahira, Agla Artalidia, Dimas Aditya, Maizura, Rey Bong, hingga Elsa Japasal.

Sekilas, kisahnya simpel. Ara, anak perempuan yang ingin memberikan kado ulang tahun terbaik untuk ibunya, meminta bantuan Faris, petugas pemadam kebakaran yang tengah diliputi kegelisahan karena menunggu kelahiran anak pertamanya. Demi membantu Ara, Faris bahkan menunda pergi menemui istrinya di rumah sakit.

Pencarian hadiah yang awalnya tampak biasa berubah menjadi petualangan penuh kejutan, terutama ketika tabungan Ara yang disimpan dalam celengan ayam dicuri. Dari sanalah perjalanan mereka berkembang menjadi kisah tentang kepedulian, kehilangan, pengorbanan, dan makna menjadi seorang ayah.

Hadiah Terbaik untuk Orang Tua Ternyata Bukan Barang

Selama ini kita sering terjebak pada anggapan, kasih sayang harus dibuktikan lewat sesuatu yang bisa dibeli. Semakin mahal hadiahnya, semakin besar pula rasa cinta yang kita tunjukkan. Padahal, orang tua hampir nggak pernah menghitung cinta dengan nominal uang.

Mereka justru merasakannya dari hal-hal kecil. Telepon menanyakan hal-hal kecil. Pelukan, yang mungkin jadi semakin jarang diberikan. Waktu makan dan tertawa bersama, yang mungkin juga sudah mulai sulit dicari.

Nilai-nilai seperti inilah yang menurutku berhasil disampaikan film tanpa terasa menggurui. Sosok Ara memang sibuk mencari hadiah, tapi semakin jauh petualangannya berlangsung, makin jelas bahwa benda yang sedang dia cari sebenarnya adalah rasa sayang.

Alih-alih mengejar konflik besar atau plot yang isinya twist, Amrul Ummami justru membangun cerita melalui momen-momen kecil yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Keputusan itu mungkin membuat sebagian penonton merasa ritmenya berjalan santai. Namun, karena hal demikian, emosi film jadi tampak lebih tulus.

Aku juga menyukai bagaimana Faris nggak ditempatkan hanya sebagai sosok ‘orang dewasa yang membantu anak kecil’. Dia sedang berada di fase hidup yang nggak kalah penting. Yakni, dirinya akan menjadi ayah. Pertemuannya dengan Ara perlahan mengajarkan bahwa menjadi orang tua bukan hanya soal bekerja atau memenuhi kebutuhan keluarga, tapi juga tentang kehadiran dan kepedulian.

Di titik ini, Kado untuk Ibu lagi berbicara kepada dua generasi sekaligus. Anak-anak diajak memahami betapa besar kasih sayang orang tua. Sementara orang dewasa diingatkan bahwa anak seringkali nggak membutuhkan hadiah mahal. Mereka hanya membutuhkan orang tuanya hadir.

Pesan itu relevan dengan kehidupan sekarang. Sayangnya, semakin berkembang teknologi komunikasi, semakin sedikit komunikasi yang terjadi di dalam keluarga. Banyak orang bisa menghabiskan berjam-jam menatap layar ponsel, tapi hanya beberapa menit berbicara dengan ayah atau ibunya sendiri.

Kita sering merasa sudah membalas semua pengorbanan orang tua karena sesekali membelikan pakaian atau mentraktir makan. Padahal yang mereka rindukan belum tentu itu. Bisa jadi, mereka merindukan kebersamaan.

Film ini menunjukkan ke kita, kalau perhatian memiliki nilai yang jauh lebih mahal ketimbang hadiah. Waktu yang diberikan dengan tulus nggak pernah bisa digantikan barang semewah apa pun.

Bukan berarti hadiah nggak penting. Justru hadiah bisa menjadi bentuk kasih sayang yang indah. Hanya saja, ketika hadiah menjadi satu-satunya cara menunjukkan cinta, kita perlahan melupakan esensi hubungan itu sendiri.

Kalau ada sedikit catatan, film ini memang bermain cukup aman. Konflik yang dihadirkan nggak terlalu kompleks sehingga mudah ditebak arah ceritanya sejak awal. Namun, rasanya memang bukan kejutan yang ingin dijual Film Kado untuk Ibu. Film ini lebih memilih menjadi pelukan hangat daripada roller coaster emosi.

Sobat Yoursay yakin nggak tertarik nonton Film Kado Untuk Ibu?

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda