Ulasan
Review Film Soulmate: Pahami Bahwa Belahan Jiwa Tak Selalu Kekasih Romantis
Ketika mendengar kata soulmate, mungkin sebagian besar dari kita langsung membayangkan seseorang yang akan menjadi pasangan hidup. Orang yang membuat kita jatuh cinta, lalu berjalan bersama sampai tua. Seolah-olah belahan jiwa selalu punya hubungan dengan percintaan romantis.
Tapi bagaimana kalau ternyata soulmate yang sebenarnya justru adalah sahabat?
Pertanyaan itulah yang menurut saya menjadi inti paling menarik dari film Korea Soulmate yang dibintangi Kim Da-mi, Jeon So-nee, dan Byeon Woo-seok. Film ini mengikuti perjalanan Mi-so dan Ha-eun, dua sahabat yang bertemu sejak usia belasan tahun dan kemudian tumbuh bersama selama bertahun-tahun.
Dan semakin lama menontonnya, semakin terasa bahwa film ini sebenarnya bukan tentang siapa yang akhirnya mendapatkan siapa. Ini tentang dua perempuan yang pernah menjadi rumah bagi satu sama lain.
Mi-so dan Ha-eun adalah dua orang dengan karakter yang bertolak belakang. Mi-so lebih bebas, spontan, dan berani mengambil keputusan tanpa terlalu memikirkan apa kata orang. Sementara Ha-eun jauh lebih tenang, hati-hati, dan cenderung mengikuti kehidupan yang dianggap lebih aman.
Perbedaan itulah yang membuat mereka cocok.
Ketika Mi-so membutuhkan tempat untuk pulang, keluarga Ha-eun menjadi salah satu tempat yang menerimanya. Ketika Ha-eun terlalu takut mengejar sesuatu, Mi-so menjadi orang yang mendorongnya keluar dari zona nyaman. Mereka tumbuh saling melengkapi.
Bahkan ada satu gagasan sederhana dalam film ini yang menurut saya sangat indah, mereka terbiasa berjalan berdampingan sampai Ha-eun merasa tidak pernah benar-benar melihat punggung Mi-so.
Bukan tentang selalu setuju. Bukan juga tentang tidak pernah bertengkar. Melainkan tentang seseorang yang keberadaannya begitu melekat dalam hidup kita sampai kita sulit membayangkan bagaimana kehidupan akan berjalan tanpanya.
Sayangnya, semakin dewasa, hidup tidak lagi sesederhana masa sekolah. Kemunculan Jin-woo (Byeon Woo-seok), perlahan mengubah dinamika hubungan mereka. Ha-eun menyukai Jin-woo, sementara kehadirannya kemudian menjadi salah satu pemicu keretakan antara dua sahabat tersebut.
Menariknya, Soulmate tidak menjadikan percintaan sebagai tujuan akhir cerita. Justru sebaliknya. Hubungan romantis dalam film ini terasa seperti sesuatu yang datang dan pergi, sementara hubungan Mi-so dan Ha-eun meninggalkan bekas yang jauh lebih dalam.
Kita mungkin pernah berada di fase ketika seorang teman tiba-tiba menjauh karena pacar. Atau kita sendiri yang perlahan meninggalkan teman karena sibuk dengan hubungan romantis. Awalnya cuma jarang bertemu. Kemudian jarang mengobrol. Lalu mulai merasa canggung. Sampai akhirnya dua orang yang dulu tahu hampir seluruh cerita hidup satu sama lain berubah menjadi orang asing.
Padahal lucunya, hubungan romantis sering kali kita perjuangkan mati-matian, sementara persahabatan justru kita anggap akan selalu ada.
Hal itulah yang membuat perjalanan Mi-so dan Ha-eun terasa menyakitkan. Mereka tidak berhenti menyayangi satu sama lain hanya karena mereka bertengkar. Mereka justru terluka karena masih peduli, tetapi tidak lagi tahu bagaimana cara memahami satu sama lain.
Ada rasa iri. Ada salah paham. Ada ego. Ada hal-hal yang tidak pernah mereka katakan secara langsung. Dan bukankah itu juga yang sering terjadi dalam persahabatan kita?
Yang paling membuat saya terkesan adalah bagaimana film ini mendefinisikan ulang kata soulmate. Belahan jiwa ternyata tidak harus orang yang kita cintai secara romantis.
Bisa saja dia adalah seseorang yang mengenal versi diri kita ketika masih sangat muda. Seseorang yang tahu mimpi-mimpi kecil kita sebelum dunia membuat kita terlalu realistis. Seseorang yang pernah melihat kita gagal, menangis, berubah, bahkan menjadi orang yang tidak kita kenali lagi. Dan meskipun hubungan itu sempat retak, pengaruhnya tetap tinggal.
Mi-so dan Ha-eun mungkin tidak selalu berjalan dalam arah yang sama. Mereka bahkan sempat kehilangan satu sama lain. Tetapi perjalanan hidup keduanya tetap saling terhubung.
Dan kalau ada satu hal yang paling saya bawa setelah menonton film ini, mungkin adalah bahwa tidak semua soulmate datang untuk menjadi pasangan hidup. Ada yang datang untuk menjadi bagian dari hidup kita, dan meninggalkan jejak yang tidak akan pernah benar-benar hilang.
Menurut saya film ini recommended terutama untuk anak-anak muda yang hidupnya dipenuhi kegalauan romansa saja. Apakah kamu sudah menonton Soulmate?