Ulasan

The Judge from Hell: Jika Hukum Gagal, Haruskah Keadilan Dicari di Neraka?

The Judge from Hell: Jika Hukum Gagal, Haruskah Keadilan Dicari di Neraka?
Poster drama Korea The Judge From Hell (Instagram/sbsdrama.official)

Hukum seharusnya menjadi jalan untuk mendapatkan keadilan. Namun, bagaimana jika hukum justru gagal menghukum orang yang memang bersalah? Premis tersebut menjadi dasar cerita The Judge from Hell, drama Korea yang mempertemukan dunia hukum manusia dengan neraka.

Kang Bit Na (diperankan Park Shin Hye) adalah hakim yang sebenarnya merupakan Justitia, seorang iblis yang datang ke dunia manusia untuk menghukum pelaku kejahatan yang lolos dari hukum. Berbeda dari sistem peradilan biasa, ia tidak terlalu peduli pada prosedur. Baginya, orang yang melakukan kejahatan dan tidak menyesal pantas menerima hukuman.

Konsep ini membuat The Judge from Hell menarik sekaligus menyisakan dilema. Lantas, seberapa jauh The Judge from Hell mampu mengolah premis keadilan di luar hukum menjadi cerita yang meyakinkan? Simak ulasan lengkapnya.

Hakim dari Neraka yang Melawan Batas Keadilan

Dalam cerita hukum pada umumnya, hakim menjadi bagian dari sistem yang bertugas memastikan proses persidangan berjalan sesuai aturan. Namun, Kang Bit Na hadir dengan keyakinan bahwa hukum manusia tidak selalu cukup untuk memberikan hukuman yang layak.

Bagi Bit Na, penyesalan menjadi salah satu tolok ukur yang penting dalam menghukum seseorang. Ia tidak hanya melihat apakah seseorang terbukti melakukan kejahatan, tetapi juga bagaimana orang tersebut menyikapi perbuatannya. Pelaku yang tidak merasa bersalah dan terus menjalani hidup seolah tidak terjadi apa-apa menjadi sasaran utama Justitia.

Satu hal yang membuat premis ini menarik bagi saya adalah rasa dilemanya. Awalnya, mudah untuk mendukung Bit Na karena ia menghukum orang-orang yang berhasil lolos dari pengadilan. Rasanya seperti melihat keadilan yang akhirnya datang.

Namun, penonton dibuat gelisah karena Bit Na memiliki aturan sendiri dan tidak perlu mengikuti batasan hukum manusia. Di situlah kita mulai bertanya apakah semua hukuman yang terasa pantas memang bisa disebut adil.

Park Shin Hye Membuat Bit Na Terasa Hidup

Premis yang kuat perlu didukung karakter utama yang mampu membuat ceritanya hidup. Menurut saya, Park Shin Hye menjadi salah satu alasan The Judge from Hell menarik untuk diikuti. Bit Na bukan tipe protagonis perempuan yang mudah disukai. Ia arogan, sinis, manipulatif, bahkan tidak segan menggunakan cara-cara keras untuk mencapai apa yang diinginkannya.

Namun, justru karena itulah karakter Bit Na terasa lebih hidup dan tidak mudah ditebak. Ia tidak berusaha menjadi hakim yang sempurna atau sosok pahlawan yang selalu mengambil keputusan benar. Ada sisi berlebihan dan eksentrik dalam dirinya yang berhasil di-deliver dengan baik oleh Park Shin Hye.

Perkembangan karakter tersebut juga menjadi bagian penting dalam cerita. Bit Na yang awalnya hanya melihat manusia melalui kategori pelaku dan korban perlahan berhadapan dengan pengalaman yang membuat pandangannya berubah. Ia mulai memahami emosi, hubungan, kehilangan, dan alasan manusia bisa mengambil keputusan yang tidak selalu sederhana.

Perubahan itu terasa semakin kuat melalui kehadiran Han Da On yang diperankan Kim Jae Young. Sebagai detektif, Da On memiliki cara pandang yang jauh lebih empatik. Ia tidak mudah melihat seseorang hanya sebagai penjahat dan berusaha memahami sisi manusia di balik sebuah kasus.

Hubungannya dengan Bit Na akhirnya bukan sekadar bumbu romance, tetapi juga menjadi cara drama mempertemukan dua pandangan yang berbeda tentang keadilan.

Premis Kuat yang Tidak Selalu Konsisten

Sayangnya, The Judge from Hell tidak mampu mempertahankan kekuatan premisnya hingga akhir. Beberapa kasus pada bagian awal memiliki pola serupa, yaitu pelaku melakukan kejahatan gagal mendapatkan hukuman yang layak, kemudian Bit Na mengambil alih. Formula tersebut memang satisfying, tetapi lama-kelamaan terasa berulang dan membosankan.

Padahal, drama ini sebenarnya memiliki banyak ruang untuk menggali konflik moral yang lebih dalam. Misalnya, apakah orang yang tidak menyesal benar-benar tidak memiliki kesempatan untuk berubah? Apakah hukuman yang setimpal selalu berarti keadilan? Atau apakah seseorang yang memiliki kuasa untuk menghukum juga bisa salah dalam menilai orang lain?

Memasuki konflik yang lebih besar, cerita The Judge from Hell mulai terasa lebih personal, terutama melalui kasus pembunuhan berantai yang berkaitan dengan masa lalu Da On. Konflik ini membuat perjalanan karakter menjadi lebih serius karena ada alasan emosional yang membuat mereka tidak bisa begitu saja melepaskan kasus tersebut.

Sayangnya, beberapa perkembangan cerita malah terasa lebih fokus pada kejutan dan plot twist daripada menggali pertanyaan tentang keadilan yang sejak awal menjadi daya tarik dramanya.

Meski begitu, menurut saya The Judge from Hell tetap punya daya tarik untuk dimasukkan ke dalam daftar tonton. Kombinasi crime, fantasy, romance, dan revenge membuat ceritanya mudah diikuti.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda